saya setuju dengan bung Dodo. sejak awal Megawati tidak punya konsep yang jelas
tentang demokrasi, dia pengecut. Dia itu memang hanya mengandalkan nama besar
bapaknya, sedangkan dia sendiri tidak ada apa apanya. selama ini otaknya hanya orang
orang dibelakang mega , termasuk suaminya, mega sendiri tidak punya nilai yang patut
diacungi jempol.
selama ini ia hanya berpura pura berperan sebagai ibu yang bijaksana, anggun dan lebih
banyak diam dengan alasan tidak mau menonjolkan diri, padahl diamnya itu karena dia
tidak jelas apa programnya, dan apa yang bisa ditawarkan kepada bangsa dan negara.
kebetulan pada saat itu rakyat sedang benar benar capek dengan "bapak Pembangunan" dan
tidak ada figur yang mumpuni mewakili aspirasi mereka, selain itu mereka masih terlena
dengan nama besar "Sukarno" sehingga mau tidak mau mereka menjadi pendukung mega.
kalau mega benar benar terpilih kasihan bangsa Indonesia, nasib mereka akan tidak
jelas ditangan seorang "ibu yang bijaksana". tidakkah anda perhatikan pola megawati
hampir sama dengan pola politik Suharto, yang selalu mengatas namakan demokrasi, dan
merasa demokrasinya lah yang benar?. sekarang saja ia menolak untuk berdebat, dengan
alasan demokrasi yang berbeda, nanti ia akan menggunakan kata "demokrasi' ebagai alat
unbtuk membela dirinya.seperti Suharto menggunakan "Panasila, demokrasi, dll" untuk
membungkam rakyat, bener nggak???????????
apa salahnya menontoh demokrasinya negara lain. mengapa kita perubahan yang
kemungkinan membawa perbaikan bagi negara. kalau saya tidak salah mega rencananya
akan meminta bantuan luar negeri untuk membenahi sistem ekonomi Indonesia kalau ia
terpilih sebagai presiden, apakah ini tidak berarti ia menggunakan sitem ekonomi luar
negeri untuk indonesia. seharusnya ia tidak boleh meminta nasehat luar, karena toh
berbeda sistem ekonomi, iya nggak???
lagi pula tidak semua "produk" Indonesia dapat dikatakan jempolan dan dan positif bagi
perkembangan dan kebutuhan bangsa, dan tak semua produk luar negeri jelek. sombong
benar mega dan sama sekali tidak bijak kalau mengatakan "produk" Indonesia adalh yang
terbaik. toh tidak ada ruginya kalau mengambil aturan demokrsi negara lain, sejauh itu
tidak merugikan. saya berani jamin kalau mega tetap dengan polanya , Indonesia tidak
akan pernah brkembang menuju perbaikan.
saya tidak keberatan indonesia menggunakan sistem politik serta ekonomi negara maju,
dan belajar dari apa yang diterapkan kepada bangsa mereka. saya rasa akan menjadi
dasyat karena dengan pola brpikir yang demokrat dan bijak dari negara barat digabung
dengan moral serta unggah ungguh bangsa kita, saya rasa akan menjadi kombinasi yang
menakjubkan.
Apalagi berdebat masalah program bagi apres adalah hal yang positif, karena akan
membantu memberikan gambaran kepada masyarakat partai apa dan siapa yang dapat
mewakili aspirasi mereka, tidak hanya membeli kuing dalam karung, tidak tahu menahu
apa yang akan mereka pilih.
"Dodo D." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ngomongin ibu kita ini lagi ah...daripada ndak ada kerjaan.
Setelah lamaaaaaa banget mikir, akhirnya keluar jugalah pernyataan dari
kubu PDI-P dengan alasan konyolnya yang dibuat untuk merasionalisasi
penolakan debat oleh sang ibu.
Kali aja karena udah terlalu terpengaruh ama 'ketidak jelasan-ketidak
jelasan' yang sering dilontarkan oleh partnernya, Gus "D", akhirnya MS
mengatakan bahwa caprez sekarang ini masih belum jelas. Lha wong Amin
Rais, Yusril, Akbar, dkk udah jelas jelas dicalonin oleh partainya
masing masing kok ya masih dianggap ndak jelas. Apakah mau nunggu
setelah ada yang kepilih, terus mau nggerakin massanya untuk
"mendebat"...?
Lebih konyol lagi, katanya debat yang ndak sampe sehari itu dianggap
ngabisin waktu. Waktu yang mana nih..? yang bener aje..
Atau mungkin takut, jangan jangan pas di debat trus grogi, trus
pingsan, trus...trus...
Lha kalo ini ya memang bisa "ngabisin waktunya" untuk bisa jadi caprez.
Anehnya juga, wong yang 'mbikin' alasan itu si Mega, kok yang
nyampaikannya si Lubis, apa memang masih takut lagi kalau alasannya
juga akan di debat....? jangan jangan ibu ini nanti menjadi trauma
dengan kata kata 'debat'.
=====================================================================
Megawati Siap Debat seusai Pemilu
Jakarta, JP.-
Ternyata Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
tidak tahan juga diledek setiap hari karena dianggap tidak
berani
berdebat dengan kandidat calon presiden lainnya. Menurut
Mega,
tuduhan dirinya tidak berani berdebat dengan kandidat
presiden
lainnya itu salah. ��Saya mau diajak berdebat atau berdialog
dengan calon presiden lainnya, asal calon presidennya
benar-benar jelas,�� ujar Mega seperti disampaikan melalui
anggota
Litbang PDI Perjuangan Manginsara Lubis kemarin.
Menurut Mega, kalau selama ini ada kesan ia menolak diajak
debat, itu disebabkan calon-calon yang disandingkan dalam
forum
debat itu dinilainya statusnya tidak jelas. ��Calon-calon
itu baru
bisa dianggap calon presiden sesungguhnya setelah pemilu.
Kalau
sekarang banyak capres, ya bukan capres yang sesungguhnya,��
ujarnya.
Debat terbuka para calon presiden, menurut rencana,
dilakukan
Selasa ini di kampus UI Depok. Capres yang sudah menyatakan
siap hadir dalam kesempatan tersebut, antara lain, Amien
Rais
(PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Sri-Bintang Pamungkas
(PUDI), dan Akbar Tanjung (Golkar). Sementara itu, Megawati
Soekarnoputri menolak menghadiri undangan tersebut.
Menurut Mega, seperti yang dikutip Lubis, demokrasi di
Indonesia
sangat berbeda dengan di Amerika. Di sana, katanya, sudah
jelas
kandidat presiden hanya dua orang karena jumlah partainya
memang cuma dua. Tapi, di Indonesia yang saat ini punya 48
partai, jumlah kandidatnya masih belum jelas.
��Jumlah yang ada sekarang ini, nanti seusai pemilu akan
semakin
mengerucut sehingga yang ada tinggal beberapa saja. Di saat
itulah Megawati akan siap diajak berdialog atau berdebat,��
ujar
Lubis.
Pihak PDI, kata Lubis, sangat memahami keinginan dan
idealisme
yang diharapkan mahasiswa atau cendekiawan. Bahkan, PDI pun
sangat mendukung adanya debat di antara capres. Namun,
Megawati justru punya pertimbangan lain daripada sekadar
cari
popularitas atau menarik massa lewat perdebatan.
��Menang dalam perdebatan bukan jaminan bahwa dalam segi
leadership dia pandai. Tapi, yang lebih penting, saat ini
dia lebih
mementingkan melakukan konsolidasi partai daripada
menghabiskan waktu untuk berdebat,�� katanya.
Penolakan Megawati berdebat itu apa tidak akan mengurangi
rasa
simpati pendukung terhadapnya? ��Megawati tidak pernah
menolak
berdebat atau berdialog. Bahkan, beliau mendukung, hanya
dalam
pandangannya, waktu saat ini belum tepat. Dan, saya kira
kemampuan berdebat itu bukan tolok ukur bahwa seseorang
pandai memimpin. Apa ada jaminan seorang yang menang dalam
berdebat itu diartikan bahwa dia juga seorang pemimpin yang
andal,�� kata Lubis.
Penolakan itu apakah dinilai akan mengurangi pamor Megawati
sebagai calon presiden? ��Tidak sama sekali. Tanpa berdebat
pun,
Megawati sudah terkenal dan orang tidak meragukan
kemampuannya,�� katanya.
Apakah PDI tidak khawatir banyak suara yang hilang karena
penolakan tersebut? ��Sama sekali tidak. Justru karena
itulah,
Megawati lebih memilih melakukan konsolidasi ke
daerah-daerah
daripada melakukan debat dengan kandidat presiden dari
partai
yang belum tentu mendapat suara besar dalam pemilu. Ia tak
ingin
menghabiskan waktu untuk itu,�� katanya. (mal/jpnn)
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.