Hidup MUI........
Jadi ingat Ketua MUI kampanye Golkar di Kalimantan...:))


Salam,
bRidWaN



<....Republika....>

>======================================================================
>Amanat MUI dan PP Muhammadiyah
>
>JAKARTA -- Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia
>(MUI) mengamanatkan kepada umat Islam untuk dengan ikhlas
>dan niat ibadah kepada Allah memilih salah satu dari parpol yang
>secara sungguh-sungguh menonjolkan calon anggota legislatif
>(caleg) yang beragama Islam dan berakhlak mulia. Amanat ini
>disepakati lebih dari 40 ormas Islam tingkat nasional.
>
>Selain MUI, PP Muhammadiyah juga mengeluarkan seruan
>serupa yang ditandatangani Pejabat Ketua PP Muhammadiyah
>Prof Dr H A Syafi'i Ma'arif dan Sekertaris HM Muchlas Abror.
>Seruan itu terdiri atas tiga hal. Pertama, menganjurkan umat
>menggunakan hak pilih pada Pemilu 7 Juni mendatang dengan
>sebaik-baiknya dan bertanggung jawab sesuai dengan hati nurani
>serta hak asasinya sebagai warga negara.
>
>Kedua, umat Islam wajib memilih salah satu parpol peserta
>pemilu yang mewakili kepentingan umat Islam dan betul-betul
>memperjuangkan reformasi. Ketiga, umat Islam diimbau jangan
>memilih parpol yang mayoritas calegnya tidak membawa aspirasi
>dan memperjuangkan kepentingan umat Islam.
>
>Pernyataan MUI dan Ormas Islam serta Muhammadiyah
>tersebut berkaitan pemberian suara dalam Pemilu 7 Juni 1999.
>Amanat MUI ditandatangani Ketua Umum MUI KH Ali Yafie
>dan Sekretaris Umum Nazri Adlani kemarin di Masjid Istiqlal
>Jakarta.
>
>Hadir dalam pembacaan pernyataan MUI bertajuk 'Amanat
>Umat Islam' itu, antara lain Ketua Umum Al Irsyad Geys
>Ammar, Ketua Umum PUI KH Cholid Fadhullah, Sekretaris
>DMI Adang Syafaat, serta perwakilan ormas Islam lainnya.
>Amanat ini, menurut Ali Yafie, sebagai wujud hak demokrasi
>dari rakyat yang beragama Islam. ''Jadi bukan untuk
>menaburkan rasa kebencian kepada siapa pun. Apalagi, selama
>ini umat Islam tidak mempunyai rasa benci kepada kelompok
>manapun. Dan, dengan siapa pun umat Islam bisa bekerja
>sama,'' ujarnya.
>
>Kecuali, lanjutnya, memang ada pihak-pihak yang nyata-nyata
>membenci umat Islam. ''Umat Islam berhak melakukan
>pembelaan, karena kita tidak bisa membiarkan harga diri kita
>diinjak-injak begitu saja,'' tegasnya.
>
>Ali Yafie membantah bahwa amanat ini dimaksudkan untuk
>menjegal PDI Perjuangan yang banyak calegnya berasal dari
>non-Muslim. ''Amanat umat Islam ini tidak ditujukan kepada
>seseorang atau sekelompok partai tertentu. Tapi, saya hanya
>ingin memberitahukan garis-garis terpenting sebagai pegangan
>bagi seorang Muslim,'' paparnya.
>
>Lebih lanjut, Ali Yafie mengharapkan rakyat Indonesia
>mengetahui hakikat dari pemilu. Pada hakikatnya pemilu itu
>bukanlah memilih partai atau gambar, hal itu sebagai media saja.
>Tapi yang lebih penting, pemilu itu memilih wakil-wakil yang bisa
>dipercaya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.
>
>Sedangkan bagi umat Islam, menurutnya, aspirasi itu ada yang
>bersifat duniawi yang menyangkut kesejahteraan ekonomi,
>kemajuan pendidikan, dan lainnya. Tapi tak kalah pentingnya,
>adalah aspirasi keagamaan. Kedua aspirasi ini hanya dapat
>diperjuangkan melalui wakil-wakil yang seiman dengan umat
>Islam. ''Orang yang tidak seiman dengan kita (Muslim), tidak
>mungkin memperjuangkan aspirasi keimanan kita,'' tegas mantan
>Rois Aam PBNU ini.
>
>Karena itu, lanjut Ali Yafie, bagi seorang Muslim yang tidak
>memilih pemimpinnya dari kalangannya sendiri sudah dipastikan
>bertentangan dengan hati nuraninya. ''Selama dia beriman pasti
>akan menyalurkan aspirasinya kepada orang-orang yang
>seiman,'' paparnya.
>
>Ali Yafie berpesan amanat ini harus disebarkan kepada umat
>Islam lainnya. Amanat ini merupakan pesan moral yang lebih
>kuat dibandingkan fatwa atau hukum lainnya, tambah Kiai asal
>Sulsel ini.
>
>Amanat untuk memilih caleg beragama Islam itu, menurut
>Sekretaris Umum MUI HA Nazri Adlani, berdasarkan Surah Ali
>Imran ayat 28, yang berbunyi: Janganlah orang-orang mukmin
>menjadikan orang-orang kafir itu sebagai pemimpinnya.
>
>Menurut Nazri, dari ayat itu sudah jelas bahwa umat Islam harus
>memilih caleg yang akan duduk di DPR RI, DPRD I, dan DPRD
>II nanti dari orang-orang yang seiman dan ber-akhlakul
>karimah.
>
>Di samping kewajiban memilih caleg beragama Islam,
>pernyataan amanat Umat Islam itu menghendaki agar bangsa
>Indonesia, khususnya umat Islam menggunakan hak pilihnya
>secara benar dan bertanggung jawab sesuai dengan hati nurani
>memilih parpol yang dapat memperjuangkan aspirasi dan
>kepentingan umat Islam, bangsa, dan negara.
>
>PP Muhammadiyah dalam seruannya minta umat berhati-hati
>sebelum menentukan parpol pilihannya. ''Sebagian pemilih belum
>mengerti latar belakang calon wakil rakyat yang akan mereka
>pilih. Karena itu, saya menyarankan agar mereka berhati-hati
>memilih parpol untuk menentukan wakilnya baik di tingkat II,
>tingkat I, maupun tingkat pusat,'' kata Pejabat Ketua PP
>Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif ketika dihubungi Republika
>kemarin.
>
>Syafi'i mengakui Muhammadiyah memutuskan mengeluarkan
>seruan setelah melihat kondisi objektif masyarakat menjelang
>hari pencoblosan. Muhammadiyah berharap masyarakat
>hendaknya mengerti latar belakang calon wakil rakyat yang ingin
>mereka dukung. ''Ini penting sebab Pemilu 7 Juni mendatang
>adalah sarana penting pelaksanaan kedaulatan rakyat. Pemilu
>pertama di era reformasi ini sangat menentukan masa depan
>umat dan bangsa,'' tandasnya.
>
>Syafi'i tidak mau menyebut partai mana saja yang tidak tepat
>untuk dipilih umat Islam. Sebagai pimpinan salah satu organisasi
>dakwah, ia mengaku tidak mau menyebut langsung partai-partai
>itu. ''Kalau itu saya lakukan, itu sangat vulgar. Muhammadiyah
>adalah lembaga dakwah dan bukan gerakan politik. Tapi, tanpa
>saya sebut, masyarakat saya pikir sudah tahu karena
>parpol-parpol itu sebenarnya sudah cukup well understood,''
>ujarnya.
>
>Umat Islam, ungkap Syafi'i, harus mewaspadai hal ini.
>Pengalaman selama 40 tahun pemerintahan otoriter di era
>Demokrasi Terpimpin Soekarno dan Demokrasi Pancasila
>Soeharto sudah cukup menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk
>waspada. Ini sudah cukup menjadi alasan historis.
>
>''Terlebih saya melihat adanya kekuatan-kekuatan kecil yang
>kembali ingin mendominasi panggung politik Indonesia seperti
>pada dekade 1970-an sampai awal 1980-an. Dan, indikasi ini
>sangat jelas,'' katanya.
>
>Selain itu, tambah Syafi'i, umat harus bisa menilai apakah tindak
>tanduk partai tersebut selama ini selalu mengedepankan nilai-nilai demokrasi
>secara jujur dan konsisten atau tidak. Dalam hal ini,Syafi'i kembali tidak
>mau menunjuk nama-nama parpol secara
>langsung. Ia hanya memberikan sejumlah isyarat.
>
>''Masyarakat sebenarnya tentu tahu partai-partai mana saja yang
>sejak semula memperjuangkan nilai demokrasi secara konsisten.
>Bisa saja partai tersebut dulunya kurang baik tapi sekarang
>mereka sudah menunjukkan iktikad untuk berubah. Asal
>partai-partai ini betul-betul berubah,'' katanya.
>
>Seruan serupa juga dikemukakan Wakil ketua Umum Partai
>Bulan Bintang (PBB) Hartono Mardjono. Dalam kampanye di
>Tangerang, ia menyatakan umat Islam saat ini sedang
>menghadapi bahaya besar berupa upaya sekularisasi yang
>dilakukan oleh sejumlah parpol. Bahkan, upaya tersebut juga
>dilakukan sejumlah tokoh reformis yang dapat menjual suara
>umat Islam kepada pihak lain. ''Ini bahaya besar yang harus
>segera diatasi,'' tegasnya.
>
>Menurutnya, PDI Perjuangan saat ini banyak calegnya
>non-Muslim. ''Bagaimana kalau wakilnya non-Muslim akan
>menyampaikan aspirasi 90 persen rakyatnya yang Muslim. Ini
>yang paling bahaya,'' tegasnya.
>
>=====================================================================
>
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>

Kirim email ke