Dari jendela kantor saya terlihat sepertinya pawai PDIP tak terbendungkan.
Jalanan mbludak bak banjir tahunan di Jakarta. Tampak mereka menaiki sedan,
bus....sampai sepeda, becak, dan gerobak. Memang sangat heterogen para
pendukung PDIP.

Kembali saya tergelitik akan himbauan MUI itu dengan menimbang bahwa
mayoritas pendukung PDIP adalah kaum Islam (bagi saya tidak ada perbedaan
yang KTP dan tulen). Dalam pada itu diributkan bahwa caleg dari PDIP banyak
yang dari bukan Islam (banyak dalam artian bukan mayoritas).

Banyak orang (contoh gampangnya di milis ini) yang berlatar belakang agama
dan yang mengaku berintelektual tinggi seakan mencibir kepada para pendukung
PDIP. Mereka (masih) menganggap para pendukung itu bodoh dan buta. Apakah
memang mereka bodoh dan buta?

Mestinya orang yang (mengaku) berintelektual tinggi dan beragama patut
bercermin kepada mereka. Kalau ada yang bilang mayoritas pendukung mereka
bukanlah orang bersekolah tinggi sepatutnya ada pelajaran berharga dari
mereka. Saya juga yakin banyak dari mereka merogoh koceknya sendiri untuk
membeli atribut PDIP. Tanpa bersekolah tinggi mereka sudah memahami betul
bagaimana berpolitik yang demokratis. Jelas sekali mereka tahu siapa itu
Kwik Kian Gie dkk yang bukan Islam dan bukan pribumi tulen. Namun mereka tak
mempedulikan itu. Mereka sangat menaruh harapan mereka kepada PDIP. Mereka
tahu persis jika hanya berlatar belakang agama justru akan membutakan
mereka. Para pendukung PDIP tetap setia karena orang-orang partai juga setia
memperjuangkan mereka. Rupanya mereka selangkah lebih maju dalam berpolitik
ketimbang orang-orang yang berintelektual tinggi dan (mengaku) beragama.

Wassalam,

Efron

Kirim email ke