Irwan wrote:

===========deleted===========
>Berikut ini sedikit kritikan saya terhadap cara berpikir
>rekan saya, bung Rosadi.

Silahkan...,saya akan mencoba menanggapi balik kritikan anda.

Irwan wrote:
>Bung Rosadi, selama ini toh anggota DPR itu mayoritas
>beragama Islam. Kecuali yg anda bicarakan disini adalah
>persentasenya antara komposisi penduduk Indonesia dan
>komposisi anggota DPR dari sudut latar belakang agama.
>Data mengenai hal ini pun sangat debatable karena memang
>kevalidannya sangat diragukan. Saya ngga mau permasalahkan
>hal tersebut pada posting kali ini karena buntut2nya nanti
>akan main kusir2an lagi....hehehe

hehehehehe juga.....:-)

Irwan wrote:
>Dengan demikian sebenarnya selama ini toh ngga ada
>masalah mengenai komposisi anggota DPR kita dari
>segi agama yg tampaknya menjadi titik tolak anda
>dalam menilai komposisi anggota DPR, karena memang
>sudah mayoritas.

Bung Irwan, tidak tepat juga kalau dikatakan tidak ada masalah. Sebagaimana
yang kita sama-sama tahu, rejim orde baru semasa berkuasa dulu benar-benar
telah mematikan kehidupan demokrasi di Indonesia.  Kebebasan bersuara serta
mengeluarkan pendapat hampir tidak ada,dan partai politik pun dibatasi hanya
3 saja, itupun penuh dengan rekayasa. Kalau kemudian ternyata anggota DPR
yang mayoritas beragama Islam tsb banyak yang brengsek (hampir semuanya dari
Golkar), itu karena 'standar keislaman' yang dipakai adalah standar KTP
semata, tidak berdasarkan kualitas keislamannya. Selain itu sikap otoriter
dan kediktatoran rejim orba membuat banyak orang pada masa itu tidak bisa
berbuat banyak melawan kesewengan rejim tsb. Maka jangan heran jika
anggota-anggota DPR pada masa itu banyak yang brengsek dan membuat rakyat
(yang sebagian besar muslim) menderita karenanya.

Saat gerakan reformasi berhasil menumbangkan rejim orba, kebebasan bersuara
dan mengeluarkan pendapat pun terbuka lebar-lebar. partai-partai politik
barupun banyak bermunculan, termasuk didalamnya partai-partai Islam.
Kemunculan partai-partai Islam sekaligus membawa angin segar bagi munculnya
calon-calon legislatif muslim yang benar-benar berkualitas, baik dari sisi
keislamannya maupun dari sisi intelektualitasnya (bukan cuma Islam KTP
doang!). Inilah yang membedakan caleg muslim masa orba dulu dengan
caleg-caleg muslim di era reformasi ini. Maka tidaklah heran jika kemudian
MUI menghimbau kepada para pemilih muslim untuk memilih caleg-caleg yang
muslim, karena memang saat ini begitu banyak pilihan caleg-caleg muslim yang
berkualitas. Pilihan kepada caleg-caleg Islam ini semata-mata agar umat
Islam dapat lebih berperan aktif lagi dalam percaturan politik di Indonesia,
karena semasa orba dan orla dulu umat Islam selalu dipinggirkan dan perannya
tidak lebih dari sekedar penonton saja.




>Kritikan saya terhadap cara pandang anda yg mengatakan
>bahwa karena mayoritas penduduk Indonesia itu beragama
>Islam, maka anggota DPR yg anda katakan wakil rakyat
>tersebut harus pula mencerminkan kondisi (komposisi
>agama) dari rakyat.
>Kalau memang landasan berpikir anda seperti ini dalam
>menilai caleg mana yg pantas untuk dipilih, karenanya
>saya berani mengatakan bahwa mayoritas caleg sekarang
>yg ada TIDAK PANTAS untuk dipilih karena tidak mencerminkan
>kondisi rakyat Indonesia yg mayoritas petani, pendidikannya
>sangat rendah (boro2 sarjana dah), kemampuan ekonominya
>sangat rendah (baca: miskin), dan mayoritas wanita.
>Nah, coba anda bandingkan dengan caleg2 yg ada, mereka
>mayoritas bukan petani, punya pendidikan yg tinggi, kemampuan
>ekonomi menengah ke atas, dan mayoritas laki2. Apakah
>menurut anda komposisi caleg yg seperti itu sudah mewakili
>apa yg anda katakan "kondisi" rakyat Indonesia tersebut?
>Anda akan sulit mencarikan jawabannya kecuali anda ingin
>berstandar ganda dalam hal ini.


Bung Irwan, karena masalah yang diangkat dalam diskusi ini adalah seputar
himbauan MUI agar memilih caleg muslim, maka sudah barang tentulah "kondisi"
yang saya maksudkan pada psotingan saya terdahulu adalah sebatas komposisi
agama rakyat Indonesia. Tentang alasan yang melandasi pemikiran saya tsb
telah saya sebutkan diatas. Jadi tidak ada perlu bersulit-sulit bermain
standar ganda dalam masalah ini.


Irwan wrote:

>Demikian saja kritikan saya terhadap cara berpikir anda
>yg menurut saya akan sulit diterapkan di Indonesia
>secara konsisten kecuali bila ingin melakukan standar
>ganda.

Terima kasih atas kritikan saudara ini. Bagi saya perbedaan cara berpikir
kita ini adalah suatu hal yang wajar saja, karena banyak faktor yang
membuatnya demikian. Kalau anda menilai cara pikir saya akan sulit
diterapkan secara konsisten di Indonesia,itu cuma karena anda berbeda
pandangan saja dengan saya. Pembuktian sebenarnya akan dilihat di lapangan
nanti.

Soal standar ganda, tidak perlu risau, karena seorang muslim telah mempunyai
standar yang baku dalam bertindak dan bertingkah laku, yaitu standar yang
diturunkan oleh Allah swt.

Salam,

Mohamad Rosadi
Virginia


>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke