Sdr. Efron,
Selamat menikmati hasil pemilu. Apa pun hasilnya, nepotisme tetap
bercokol di Indonesia. Seandainya mbak Mega menjadi presiden, dapat
dipastikan bahwa sebagian besar menteri kabinetnya berasal dari PDI
Perjuangan. Jika Prof. Amien Rais menjadi presiden, jelas sebagian besar
menteri kabinet berasal dari PAN. Siapa saja yang menjadi presiden,
sebagian besar menteri kabinetnya berasal dari partainya. Jika memakai
istilah Anda, siapa saja yang menjadi presiden akan 'mereka' kabinetnya
supaya terdiri dari orang-orangnya sendiri.
'Reka', 'mereka' [bukan berarti mereka = orang ketiga jamak] adalah (1)
menyusun (mengatur, mengarang) baik-baik; (2) mencari akal (ikhtiar,
daya upaya); (3) memikirkan (sesuatu); merancang; merencanakan; (4)
membayangkan (dalam angan-angan); mencita-citakan; (5) menduga;
mengira-ngirakan.
Benar kata Anda bahwa 'rekayasa' dibentuk untuk memadankan istilah
'engineering' karena 'rekayasa' berarti penerapan kaidah-kaidah ilmu
dalam pelaksanaan (seperti perancangan, pembuatan konstruksi, serta
pengoperasian kerangka, peralatan, dan sistem yang ekonomis dan
efisien). Kata ini memang perlu diluruskan karena 'rekayasa' tidak sama
dengan 'reka' atau 'mereka-reka' dan hal ini perlu dipublikasikan lewat
mass media.
Satu hal yang masih membuat saya penasaran yaitu kata 'reformis'. Kita
tahu bahwa jauh sebelum reformasi berlangsung di Indonesia, pernah
terjadi suatu reformasi terhadap agama Katolik di Roma. Pelopor atau
tokoh reformasi adalah Martin Luther dan Calvin. Nah, Martin Luther dan
Calvin tidak disebut 'reformis' melainkan 'reformator'. Saya menemukan
artikel yang berbunyi, "Para reformator membangun ajaran mereka tentang
Alkitab di atas dasar kesaksian Alkitab tentang Alkitab itu sendiri.
Mereka berbuat demikian karena teologia mereka... dst." Bagaimana
penerapan suffix -is dan -ator khusus bagi kata-kata asing?
Regards,
Yohannes Yaali
On 09/06/1999 at 09:03:12 Efron wrote:
> Sdr. YY,
> Saya minta maaf atas keterlambatan tanggapan saya. Mohon dimaklumi karena saya
>terseret ke dalam hingar-bingar hasil pemilu. Saya juga mengganti judul bahasan agar
>kita lebih leluasa membahas segala hal yang paut (relevant) untuk mengembangkan
>bahasa Indonesia (BI).
> Pada kesempatan ini saya ingin membahas "pemerkosaan" kata "rekayasa". Rekayasa
>dibentuk untuk memadankan istilah "engineering". "Merekayasa" sama artinya dengan "to
>engineer". Namun sekarang orang (juga pers) dengan mudahnya menggunakan istilah
>rekayasa yang ujung-ujungnya berarti negatif. Misalnya ada pejabat berbicara,"Itu
>adalah rekayasa oknum tertentu untuk menyudutkan saya". Sepertinya orang sudah lupa
>antara "rekayasa" dan "reka-reka". "Rekayasa" membutuhkan suatu kajian dan hitungan
>yang sahih untuk menghasilkan sesuatu yang optimum. Apakah "rekayasa" yang banyak
>dimuat di koran itu mengartikan sebuah "engineering"? Apakah maksudnya hanya sekadar
>"mereka-reka"?
> Kata ini mesti diluruskan (lagi).
> Efron