Saya tidak tahu siapa yang mereply tulisan saya karena biasanya sang
pengirim menulis namanya pada akhir tulisan.
Nepotisme adalah kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak
saudara sendiri, terutama di jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah;
tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang
pemerintahan.
Makna nepotisme yang diperluas, usul rekan kita. Nah, jika Megawati
menjadi presiden dan anggota-anggota kabinetnya sebagian besar dari PDI
Perjuangan, jika seandainya Prof. Dr. Amien Rais menjadi presiden dan
anggota-anggota kabinetnya dari PAN atau siapa saja yang menjadi
presiden dan menteri kabinetnya berasal dari partainya, maka peristiwa
ini tidak disebut 'nepotisme'. Inikah yang disebut makna nepotisme yang
tidak diperluas?
Ada sebuah ilustrasi. Seorang direktur perusahaan memerlukan seseorang
untuk diberi kedudukan atau jabatan sebagai manajer keuangan dan ada
tiga orang yang akan dipilih: famili, teman dan orang luar yang
sama-sama mampu, jujur, loyal dan terampil, jika diperhatikan
nilai-nilai mereka, mungkin sama-sama memperoleh nilai 'A'. Jika
direktur tadi memilih familinya, apakah ia disebut 'nepotis'? Atau jika
ia memilih temannya, apakah ia juga disebut 'nepotis'? Mungkinkah ia
memilih orang luar tadi atau ada hal-hal dan hil-hil lainnya?
Jika makna nepotisme tidak diperluas, apakah batasan "nepotisme" itu
sendiri?
Regards,
Yohannes Yaali
On 11/06/1999 at 08:07:18 [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Yw: Lho, itu sih bukan nepotisme...
> Emang wajarnya gitu. Kalo Mega menang, terus yg diangkat jadi mentri-mentrinya
>adalah para pengungsi Kosovo... --yang jangankan kenal, nyebut namanya aja Mega
>kesulitan spelling-- ya mustahal.
> Yg menang (misalnya) PDIP, terus posisi-posisi teras diduduki oleh orang-orang PDIP
>(ie. diduduki oleh orang-orang yg menang), ya bener banget.
> Makna nepotisme jangan diperluas, ah.
> ;-)