Sdr. Yusuf Wibisono,

Mail-reader yang saya pergunakan agaknya tidak dapat membaca pengirim
(by default) seperti yang Anda tuliskan. Saya menggunakan fasilitas
mail-reader dari Worldgroup Manager, Version 2.02, Copyright (c)
1995-1996 Galacticomm, Inc. Nama pengirim yang tercantum di sana terbaca
[EMAIL PROTECTED]

Sebenarnya saya juga sependapat dengan Anda, bahwa jika seseorang
menjadi presiden kemudian dia memilih anggota kabinet dari partainya
maka peristiwa itu belum tentu dapat dikategorikan sebagai 'nepotisme'.
Namun apakah sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pendapat yang
sama?

Regards,
Yohannes Yaali

On 11/06/1999 at 15:35:18 [EMAIL PROTECTED] wrote:

[Maaf, diedit sebagian]

> Saya yg mereply, Pak. Nama pengirim (by default) ada di bagian from dari emailnya, 
>nama saya Yusuf.

> Ya, menurut saya: in that case, tidak termasuk nepotisme. Dalam kesempatan lain, 
>'memberi' kepada 'temen' secara tidak adil (gara-gara temen, yg harusnya nggak menang 
>tender, misalnya, jadi menang, orang lain kalah; atau yg tadinya bersalah, karena 
>teman jadi bebas...)... bisa jadi koncoisme.

> Ini tergantung aturan hukum. Di negara tertentu bisa definitif: nepotisme, tapi 
>umumnya, kalo kasusnya sang 'famili' kapabel, masuk kelompok grey area. Walopun, 
>semua rasanya setuju, andaikan familinya A+, dan alternatif (orang lain) A saja nggak 
>pake plus, terus yg dipilih yg bukan famili, maka (tindakan tsb) dianggap 
>anti-nepotisme.

> Kalo teman sih tidak. Koncoisme juga tidak (dg definisi koncoisme spt saya uraikan 
>di atas).

> Adalah bijak bila yg dipilih adalah orang lain (bukan famili). Tentunya yg bukan 
>musuh. Bukan musuh ini berarti bisa/boleh teman.

> Gitu aja dulu, deh. Soal batasan, silakan yg lain.

Kirim email ke