"Islam and Secularism"

Semenjak undangan diskusi terbuka yang diselenggarakan Jaringan Islam 
Liberal bertajuk "Islam and Secularism" dimuat Harian Kompas pada 
hari Kamis, 2 Januari 2003, telepon kantor tak berhenti berdering. 
Handpone personel JIL juga disibukkan oleh pelbagai pertanyaan dari 
orang-orang yang berminat menghadiri acara yang diselenggarakan di 
markas JIL, Teater Utan Kayu, Jl. Utan Kayu. No. 68 H Jakarta Timur.

Antusiasme peserta terbukti di lapangan ketika Selasa, 7 Januari 
2003, bakda Maghrib orang-orang datang berbondong-bondong ke kantor 
JIL. Areal parkir yang sebenarnya cukup luas, akhirnya tak mampu 
menampung luberan mobil para peserta. Malam itu tampak hadir Munir, 
SH (Kontras), Johan Effendy (International Conference for Religion 
and Peace), Musda Mulia (Litbang Depag), Suzanne Siskel (Ford 
Foundation), Gretta Morris (Kedubes Amerika), Gadis Arivia dan Nur 
Iman Subono (Jurnal Perempuan), Syafiq Hasyim (Direktur Eksternal 
Rahima), Farid Wajdi (LKiS Yogjakarta), Lies-Marcoes (feminis), Rizal 
Mallarangeng dan Ahmad Sahal (Freedom Institute), Martin Sinaga (STT) 
dan lain-lain.

Setelah Goenawan Muhammad dan segenap personel JIL menjamu makam 
malam Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na'im, tepat pukul 19.00 WIB acara 
dimulai. Syukurlah, panitia sudah mempersiapkan "layar setengah 
lebar" di Kedai Tempo. Kapasitas ruang teater yang tak mencukupi bagi 
peserta yang membludak dapat diatasi dengan mempersilahkan menikmati 
minuman sambil menonton jalannya diskusi lewat "layar setengah lebar 
itu."

Dalam prolog diskusi, Goenawan Muhammad, secara berkelakar, 
menyatakan bahwa Ulil Abshar-Abdalla harus dihukum karena terlambat 
sekian menit. "Ulil harus menggantikan posisi saya yang semula diplot 
menjadi pembicara, "kata Mas GM, panggilan akrab beliau. Sontak 
hadirin tertawa. Akhirnya, Mas GM memandu acara diskusi dengan 
merefresh ingatan hadirin tentang sosok An-Na'im. Di ujung introduksi 
Mas GM kepada hadirin tentang data diri dan aktivitas intelektual An-
Na'im, ia menceritakan kasus yang menimpa Mahmud Muhammad Thoha, guru 
An-Na'im. Mahmud Thoha dijatuhi hukuman gantung oleh rezim Ja'far An-
Numairi melalui proses pengadilan secara kilat: kurang dari satu 
jam!  

An-Na'im memulai presentasinya dengan menyatakan bahwa apa yang 
disebut Islam tergantung pada apa yang dipahami oleh muslim tentang 
Islam itu sendiri karena Islam memang tak pernah berbicara. Berbicara 
tentang Islam dan sekularisme, kata An-Na'im, sangat problematis, 
bukan karena muatan dari substansi sekularisme itu, tapi dari 
asosiasi yang selalu disandingkan kepada sekularisme seperti 
identifikasi sebagai episode lanjutan dari kolonialisme, imperialisme 
atau kesan bahwa sekuler adalah antiagama.

Penulis buku Toward an Islamic Reformation ini membeberkan fakta 
bahwa sekularisme adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam. 
Islam ditujukan untuk manusia (hudan li-nnas), dan karenanya, tak ada 
teks agama yang "murni" wahyu Allah. Teks itu sendiri tidak hadir di 
ruang hampa, selalu proses tarik-menarik antara Yang Divine dengan 
yang profan. Apalagi, kata An-Na'im, jika teks tersebut membincangkan 
manusia pada ranah publik sehingga selalu saja ada campur tangan 
manusia. Sekuler, menurut An-Na'im yang dikenal publik Indonesia 
lewat bukunya yang diterjemahkan LKiS, adalah negosiasi terus-menerus 
antara idealitas atau cita-cita masyarakat dengan realitas. 

Sementara Ulil Abshar-Abdalla menegaskan bahwa Al-Qur'an sendiri 
mengandung dimensi atau elemen-elemen sekularisme. Ia membubuhi 
pendapatnya dengan argumen bahwa Al-Qur'an turun secara gradual 
adalah untuk merespons kejadian-kejadian historis dan sosiologis. 
Apalagi, faktanya memang ada asbab al-nuzul yang menunjukkan proses 
dialogis antara Tuhan dan kebutuhan manusia. Banyak ayat Al-Qur'an, 
bila ditelaah secara semantik, menunjukkan akomodasi terhadap setting 
geografis, kultural, ekonomi, politik dan sosial masyarakat Arab saat 
itu.�seperti mizan, surga, takaran dan lain-lain. Bahkan, kata Ulil, 
Al-Qur'an juga memuat idiom atau kata-kata non-bahasa Arab yang 
secara sekilas bisa dibaca bahwa Al-Qur'an merupakan ekspresi 
multikultural.

Secara umum, diskusi berlangsung menarik, hingga peserta meminta 
diskusi diperpanjang setengah jam lebih lambat dari jadwal semula. 
Pukul 21.45 WIB diskusi ditutup secara formal oleh Mas GM. Tapi, 
seperti biasanya, tak ada waktu habis untuk menggali ilmu, dan seusai 
acara masih banyak para peserta yang melanjutkan diskusi secara 
informal di meja-meja Kedai Tempo [Burhan]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke