Walah mas...bicara sekularisme kok metenteng ngono kaya bicara "selularisme". Islam (dan semua agama samawi lainnya) itu tidak turun pada situasi yang hampa sejarah dan hampa peradaban. Islam, sebagai wahyu dari langit, ya harus berkomunikasi, bertatap- tatapan (malah kalo perlu "jagongan") dg peradaban dan budaya yg dah ada. Wong Islam itu bukan agama yang "semengit", senenge jota'an, or tdk mengacuhkan peradaban yg dah dibangun umat manusia....
Dah ah.... --- In [EMAIL PROTECTED], "himawan sutanto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Islam tergantung pada apa yang dipahami oleh muslim tentang > Islam itu sendiri karena Islam memang tak pernah berbicara > ========================================== > HS: untuk memahami wahyu tidak cukup hanya mengandalkan akal yang liar atau > pengetahuan yang serba minim bahkan tidak boleh menafsirkan > quran dengan akal semata tapi justru harus dilibatkan pula ilmu tafsir, > hadits, bahasa arab dan lainnya, ini merupakan indikasi bahwa gerombolan JIL > memang tidak mampu mempelajari berbagai tools untuk memahami wahyu. > =========================================== > Berbicara > tentang Islam dan sekularisme, kata An-Na'im, sangat problematis, > bukan karena muatan dari substansi sekularisme itu, tapi dari > asosiasi yang selalu disandingkan kepada sekularisme seperti > identifikasi sebagai episode lanjutan dari kolonialisme, imperialisme > atau kesan bahwa sekuler adalah antiagama. > ========================================== > > HS: bahkan lebih dari sekedar asosiasi nyatanya memang sekularisme hanya > mengebiri muatan wahyu yang kemudian disisipkan oleh aturan yang merupakan > produk akal yang telah menjadi biang kehancuran dan kenestapaan kaum > muslimin karena dari aqidah sekularisme inilah dibangun kapitalisme yang > memang inheren dengan penjajahan imperialisme, jelas seperti terangnya > matahari bahwa sekuler=anti agama yaitu islam karena islam merupakan sebuah > nizham yang akan merapikan berbagai tatanan dimensi kehidupan baik privat > maupun dalam publik. > ============================================== > Bahkan, kata Ulil, > Al-Qur'an juga memuat idiom atau kata-kata non-bahasa Arab yang > secara sekilas bisa dibaca bahwa Al-Qur'an merupakan ekspresi > multikultural. > ===================================== > HS: itulah keagungan wahyu,bahasa ajami seperti sijjil, qisthas, bisa di > berlakukan arabisasi tanpa mengurangi keagungannya, cobalah pahami al quran > dengan benar dan teliti jangan hanya sekilas karena jika sekilas maka hanya > menghasilkan kebathilan, jika al quran merepresentasikan ekspresi > multikultural kenapa dalam quran mencela kesyirikan dan berbagai perkara > maksiyat lainnya apakah kita ingin mengakomodasi supaya zina dilegalisir, > judi dilokalisasi??, itulah akal yang plin plan tanpa bimbingan wahyu yang > agung > > sekian dulu > > wassalam > > ----- Original Message ----- > From: "rm_danardono" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Sunday, September 19, 2004 6:42 PM > Subject: [ppiindia] Tukar wacana mengenai Sekularisme > > > "Islam and Secularism" > > > Semenjak undangan diskusi terbuka yang diselenggarakan Jaringan Islam > Liberal bertajuk "Islam and Secularism" dimuat Harian Kompas pada > hari Kamis, 2 Januari 2003, telepon kantor tak berhenti berdering. > Handpone personel JIL juga disibukkan oleh pelbagai pertanyaan dari > orang-orang yang berminat menghadiri acara yang diselenggarakan di > markas JIL, Teater Utan Kayu, Jl. Utan Kayu. No. 68 H Jakarta Timur. > > Antusiasme peserta terbukti di lapangan ketika Selasa, 7 Januari > 2003, bakda Maghrib orang-orang datang berbondong-bondong ke kantor > JIL. Areal parkir yang sebenarnya cukup luas, akhirnya tak mampu > menampung luberan mobil para peserta. Malam itu tampak hadir Munir, > SH (Kontras), Johan Effendy (International Conference for Religion > and Peace), Musda Mulia (Litbang Depag), Suzanne Siskel (Ford > Foundation), Gretta Morris (Kedubes Amerika), Gadis Arivia dan Nur > Iman Subono (Jurnal Perempuan), Syafiq Hasyim (Direktur Eksternal > Rahima), Farid Wajdi (LKiS Yogjakarta), Lies-Marcoes (feminis), Rizal > Mallarangeng dan Ahmad Sahal (Freedom Institute), Martin Sinaga (STT) > dan lain-lain. > > Setelah Goenawan Muhammad dan segenap personel JIL menjamu makam > malam Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na'im, tepat pukul 19.00 WIB acara > dimulai. Syukurlah, panitia sudah mempersiapkan "layar setengah > lebar" di Kedai Tempo. Kapasitas ruang teater yang tak mencukupi bagi > peserta yang membludak dapat diatasi dengan mempersilahkan menikmati > minuman sambil menonton jalannya diskusi lewat "layar setengah lebar > itu." > > Dalam prolog diskusi, Goenawan Muhammad, secara berkelakar, > menyatakan bahwa Ulil Abshar-Abdalla harus dihukum karena terlambat > sekian menit. "Ulil harus menggantikan posisi saya yang semula diplot > menjadi pembicara, "kata Mas GM, panggilan akrab beliau. Sontak > hadirin tertawa. Akhirnya, Mas GM memandu acara diskusi dengan > merefresh ingatan hadirin tentang sosok An-Na'im. Di ujung introduksi > Mas GM kepada hadirin tentang data diri dan aktivitas intelektual An- > Na'im, ia menceritakan kasus yang menimpa Mahmud Muhammad Thoha, guru > An-Na'im. Mahmud Thoha dijatuhi hukuman gantung oleh rezim Ja'far An- > Numairi melalui proses pengadilan secara kilat: kurang dari satu > jam! > > An-Na'im memulai presentasinya dengan menyatakan bahwa apa yang > disebut Islam tergantung pada apa yang dipahami oleh muslim tentang > Islam itu sendiri karena Islam memang tak pernah berbicara. Berbicara > tentang Islam dan sekularisme, kata An-Na'im, sangat problematis, > bukan karena muatan dari substansi sekularisme itu, tapi dari > asosiasi yang selalu disandingkan kepada sekularisme seperti > identifikasi sebagai episode lanjutan dari kolonialisme, imperialisme > atau kesan bahwa sekuler adalah antiagama. > > Penulis buku Toward an Islamic Reformation ini membeberkan fakta > bahwa sekularisme adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam. > Islam ditujukan untuk manusia (hudan li-nnas), dan karenanya, tak ada > teks agama yang "murni" wahyu Allah. Teks itu sendiri tidak hadir di > ruang hampa, selalu proses tarik-menarik antara Yang Divine dengan > yang profan. Apalagi, kata An-Na'im, jika teks tersebut membincangkan > manusia pada ranah publik sehingga selalu saja ada campur tangan > manusia. Sekuler, menurut An-Na'im yang dikenal publik Indonesia > lewat bukunya yang diterjemahkan LKiS, adalah negosiasi terus- menerus > antara idealitas atau cita-cita masyarakat dengan realitas. > > Sementara Ulil Abshar-Abdalla menegaskan bahwa Al-Qur'an sendiri > mengandung dimensi atau elemen-elemen sekularisme. Ia membubuhi > pendapatnya dengan argumen bahwa Al-Qur'an turun secara gradual > adalah untuk merespons kejadian-kejadian historis dan sosiologis. > Apalagi, faktanya memang ada asbab al-nuzul yang menunjukkan proses > dialogis antara Tuhan dan kebutuhan manusia. Banyak ayat Al-Qur'an, > bila ditelaah secara semantik, menunjukkan akomodasi terhadap setting > geografis, kultural, ekonomi, politik dan sosial masyarakat Arab saat > itu.-seperti mizan, surga, takaran dan lain-lain. Bahkan, kata Ulil, > Al-Qur'an juga memuat idiom atau kata-kata non-bahasa Arab yang > secara sekilas bisa dibaca bahwa Al-Qur'an merupakan ekspresi > multikultural. > > Secara umum, diskusi berlangsung menarik, hingga peserta meminta > diskusi diperpanjang setengah jam lebih lambat dari jadwal semula. > Pukul 21.45 WIB diskusi ditutup secara formal oleh Mas GM. Tapi, > seperti biasanya, tak ada waktu habis untuk menggali ilmu, dan seusai > acara masih banyak para peserta yang melanjutkan diskusi secara > informal di meja-meja Kedai Tempo [Burhan] > > > > > > > ********************************************************************** ***** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com > ********************************************************************** ***** > ______________________________________________________________________ ____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

