Islam tergantung pada apa yang dipahami oleh muslim tentang
Islam itu sendiri karena Islam memang tak pernah berbicara
==========================================
HS: untuk memahami wahyu tidak cukup hanya mengandalkan akal yang liar atau
pengetahuan yang serba minim                bahkan tidak boleh menafsirkan
quran dengan akal semata tapi justru harus dilibatkan pula ilmu tafsir,
hadits, bahasa arab dan lainnya, ini merupakan indikasi bahwa gerombolan JIL
memang tidak mampu mempelajari berbagai tools untuk memahami wahyu.
===========================================
Berbicara
tentang Islam dan sekularisme, kata An-Na'im, sangat problematis,
bukan karena muatan dari substansi sekularisme itu, tapi dari
asosiasi yang selalu disandingkan kepada sekularisme seperti
identifikasi sebagai episode lanjutan dari kolonialisme, imperialisme
atau kesan bahwa sekuler adalah antiagama.
==========================================

HS: bahkan lebih dari sekedar asosiasi nyatanya memang sekularisme hanya
mengebiri muatan wahyu yang kemudian disisipkan oleh aturan yang merupakan
produk akal yang telah menjadi biang kehancuran dan kenestapaan kaum
muslimin karena dari aqidah sekularisme inilah dibangun kapitalisme yang
memang inheren dengan penjajahan imperialisme, jelas seperti terangnya
matahari bahwa sekuler=anti agama yaitu islam karena islam merupakan sebuah
nizham yang akan merapikan berbagai tatanan dimensi kehidupan baik privat
maupun dalam publik.
==============================================
Bahkan, kata Ulil,
Al-Qur'an juga memuat idiom atau kata-kata non-bahasa Arab yang
secara sekilas bisa dibaca bahwa Al-Qur'an merupakan ekspresi
multikultural.
=====================================
HS: itulah keagungan wahyu,bahasa ajami seperti sijjil, qisthas, bisa di
berlakukan arabisasi tanpa mengurangi keagungannya, cobalah pahami al quran
dengan benar dan teliti jangan hanya sekilas karena jika sekilas maka hanya
menghasilkan kebathilan, jika al quran merepresentasikan ekspresi
multikultural kenapa dalam quran mencela kesyirikan dan berbagai perkara
maksiyat lainnya apakah kita ingin mengakomodasi supaya zina dilegalisir,
judi dilokalisasi??, itulah akal yang plin plan tanpa bimbingan wahyu yang
agung

sekian dulu

wassalam

----- Original Message -----
From: "rm_danardono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, September 19, 2004 6:42 PM
Subject: [ppiindia] Tukar wacana mengenai Sekularisme


"Islam and Secularism"


Semenjak undangan diskusi terbuka yang diselenggarakan Jaringan Islam
Liberal bertajuk "Islam and Secularism" dimuat Harian Kompas pada
hari Kamis, 2 Januari 2003, telepon kantor tak berhenti berdering.
Handpone personel JIL juga disibukkan oleh pelbagai pertanyaan dari
orang-orang yang berminat menghadiri acara yang diselenggarakan di
markas JIL, Teater Utan Kayu, Jl. Utan Kayu. No. 68 H Jakarta Timur.

Antusiasme peserta terbukti di lapangan ketika Selasa, 7 Januari
2003, bakda Maghrib orang-orang datang berbondong-bondong ke kantor
JIL. Areal parkir yang sebenarnya cukup luas, akhirnya tak mampu
menampung luberan mobil para peserta. Malam itu tampak hadir Munir,
SH (Kontras), Johan Effendy (International Conference for Religion
and Peace), Musda Mulia (Litbang Depag), Suzanne Siskel (Ford
Foundation), Gretta Morris (Kedubes Amerika), Gadis Arivia dan Nur
Iman Subono (Jurnal Perempuan), Syafiq Hasyim (Direktur Eksternal
Rahima), Farid Wajdi (LKiS Yogjakarta), Lies-Marcoes (feminis), Rizal
Mallarangeng dan Ahmad Sahal (Freedom Institute), Martin Sinaga (STT)
dan lain-lain.

Setelah Goenawan Muhammad dan segenap personel JIL menjamu makam
malam Prof. Dr. Abdullahi Ahmed An-Na'im, tepat pukul 19.00 WIB acara
dimulai. Syukurlah, panitia sudah mempersiapkan "layar setengah
lebar" di Kedai Tempo. Kapasitas ruang teater yang tak mencukupi bagi
peserta yang membludak dapat diatasi dengan mempersilahkan menikmati
minuman sambil menonton jalannya diskusi lewat "layar setengah lebar
itu."

Dalam prolog diskusi, Goenawan Muhammad, secara berkelakar,
menyatakan bahwa Ulil Abshar-Abdalla harus dihukum karena terlambat
sekian menit. "Ulil harus menggantikan posisi saya yang semula diplot
menjadi pembicara, "kata Mas GM, panggilan akrab beliau. Sontak
hadirin tertawa. Akhirnya, Mas GM memandu acara diskusi dengan
merefresh ingatan hadirin tentang sosok An-Na'im. Di ujung introduksi
Mas GM kepada hadirin tentang data diri dan aktivitas intelektual An-
Na'im, ia menceritakan kasus yang menimpa Mahmud Muhammad Thoha, guru
An-Na'im. Mahmud Thoha dijatuhi hukuman gantung oleh rezim Ja'far An-
Numairi melalui proses pengadilan secara kilat: kurang dari satu
jam!

An-Na'im memulai presentasinya dengan menyatakan bahwa apa yang
disebut Islam tergantung pada apa yang dipahami oleh muslim tentang
Islam itu sendiri karena Islam memang tak pernah berbicara. Berbicara
tentang Islam dan sekularisme, kata An-Na'im, sangat problematis,
bukan karena muatan dari substansi sekularisme itu, tapi dari
asosiasi yang selalu disandingkan kepada sekularisme seperti
identifikasi sebagai episode lanjutan dari kolonialisme, imperialisme
atau kesan bahwa sekuler adalah antiagama.

Penulis buku Toward an Islamic Reformation ini membeberkan fakta
bahwa sekularisme adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam.
Islam ditujukan untuk manusia (hudan li-nnas), dan karenanya, tak ada
teks agama yang "murni" wahyu Allah. Teks itu sendiri tidak hadir di
ruang hampa, selalu proses tarik-menarik antara Yang Divine dengan
yang profan. Apalagi, kata An-Na'im, jika teks tersebut membincangkan
manusia pada ranah publik sehingga selalu saja ada campur tangan
manusia. Sekuler, menurut An-Na'im yang dikenal publik Indonesia
lewat bukunya yang diterjemahkan LKiS, adalah negosiasi terus-menerus
antara idealitas atau cita-cita masyarakat dengan realitas.

Sementara Ulil Abshar-Abdalla menegaskan bahwa Al-Qur'an sendiri
mengandung dimensi atau elemen-elemen sekularisme. Ia membubuhi
pendapatnya dengan argumen bahwa Al-Qur'an turun secara gradual
adalah untuk merespons kejadian-kejadian historis dan sosiologis.
Apalagi, faktanya memang ada asbab al-nuzul yang menunjukkan proses
dialogis antara Tuhan dan kebutuhan manusia. Banyak ayat Al-Qur'an,
bila ditelaah secara semantik, menunjukkan akomodasi terhadap setting
geografis, kultural, ekonomi, politik dan sosial masyarakat Arab saat
itu.-seperti mizan, surga, takaran dan lain-lain. Bahkan, kata Ulil,
Al-Qur'an juga memuat idiom atau kata-kata non-bahasa Arab yang
secara sekilas bisa dibaca bahwa Al-Qur'an merupakan ekspresi
multikultural.

Secara umum, diskusi berlangsung menarik, hingga peserta meminta
diskusi diperpanjang setengah jam lebih lambat dari jadwal semula.
Pukul 21.45 WIB diskusi ditutup secara formal oleh Mas GM. Tapi,
seperti biasanya, tak ada waktu habis untuk menggali ilmu, dan seusai
acara masih banyak para peserta yang melanjutkan diskusi secara
informal di meja-meja Kedai Tempo [Burhan]






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke