Weeeeh, menarik nih. Rupanya saya memperoleh
pandangan-pandangan baru justru di ppiindia....
Kebetulan... kebetulan aku masih dijadikan
pengampu mata kuliah yang betul-betul di luar
jauuuuh sekali dengan bidang akademikku, yang
Pomology dan Viticulture. Aku terpaksa mengampu
mata kuliah Kewirausahaan Hortikultura yang 
pengampunya sedang kuliah ke Aussie. (sekarang
tak tinggal 11 bulan, dipegang oleh ketua PS,
dengan buku pegangan tulisanku.... hehehe,
wong tani nulis buku enterpreneurship.... opo
nggak ngawur iku?)

Untuk sedikit memberi arah pada kita dalam
merembug cara memandirikan negeri "agraris"
yang katanya tanpa komoditas andalan ini,
mari perhatikan sekelumit data tahun (2003)
yang dipajang di http://www.bartleby.com/
berikut mulai yang paling "nggilani" kayanya 
dan nggilani besarnya. Mulai dari USA sampai 
India. Kita masih setingkat di bawah India dari
6 negeri berikut dalam GDP, GDP-real growth rate
(GRGR), Purcashing Power Parity/caput (PPP),
dan kita sudah melewati Thailand dalam ke-agrarisan
populasi. 
GDP-GRGR-PPP/caput:
           USA     Jpn     Mal     Thai    Ina     Ind
GDP (USD) 10.4 T  3.55 T  210 B    429 B   663 B  2.66 T
GRGR (%)   2.45    -0.3   4.2      5.2     3.5    4.3
PPP (USD) 37,600 28,000   9,300    6,900   3,100  2,540

GDP-composition by sector (%)
           USA     Jpn     Mal     Thai    Ina     Ind
Agric.     2.0      1.4    12.0    11.0    17.0    25.0 
Industry  18.0     30.9    48.0    40.0    41.0    25.0
Service   80.0     67.7    48.0    49.0    42.0    50.0

Labor-composition by sector (%)
           USA     Jpn     Mal     Thai    Ina     Ind
Agric.     2.4     5.0    16.0     54.0    45.0    60.0
Industry  24.1    25.0    55.0     15.0    16.0    17.0
Service   73.5    70.0    29.0     31.0    39.0    23.0
-->

Nah teman-teman, sederhananya kalau melihat besarnya
angka, cara memandirikan negeri agraris sudah jelas
arahnya, meniru langkah Malaysia agar semakin mendekati
kondisi Jepang, sesama negeri kepulauan dan masih kuat
menjaga tradisi perekonomiannya. Kalau bisa sih seperti
USA ya, pemenuhan pangan, sandang dan papan yang dari
sektor pertanian cukup hanya oleh 2% tenaga kerjanya.
Itu pun sudah "turah-turah" sampai sebagian menjadi
senjata ekonomi untuk negeri-negeri rawan pangan,
seperti Rusia dan Timur Tengah...;p.

Jangan meniru Thailand, yang masih banyak petaninya,
selama produk pertanian kita terlanjur kalah jauh
dengannya. Jangan ngotot pula bertahan seperti
India yang 60% tenaga kerjanya hanya menyumbang 25%
GDP. Padahal negeri itu sering rawan pangan. Maka,
hasil jerih payah 60% tenaga kerjanya itu selalu
tidak memperoleh apresiasi yang layak dari para
ahli dan "pengamat" perekonomiannya. Ya miriplah
dengan Indonesia. Yang awal tahun ini prestasi 
pertumbuhan sektor pertanian berhasil mempertahankan
laju GDP, dianggap angin lalu oleh para yang 
berwenang dan "tajam" penglihatan perekonomiannya.
Harus investasi-investasi, reformasi-perbankan,
deregulasi perundangan permodalan, fiskal.... tariff..
wissss, mumet wis.... akunya, yang cuman paham
cangkul-mencangkul dan pangkas memangkas anggur ini.

Dengan sedikitnya agricultural-labor yang mampu
kasih makan secara nasional, dijamin deh, sektor
lainnya akan semakin membumbung dan mantap. Karena
hidupnya sektor pertanian yang "melaba" dan "me-
limpah" akan menggeret sektor industri (mulai dari
yang terkait pertanian hingga ke macem-macem...)
dan jasa. Terutama jasa pemasaran dan penyimpanan,
plus jasa komunikasi dan pendataan pertanian.
Kalaupun sektor ini perlu subsidi... toh jumlah
jiwanya sedikit, jadi makna subsidi akan signifikan.
Tak hanya sekedar bagi-bagi KREDIT USAHA TANI....
yang malah mengundang manipulasi kaum tani berdasi
dan berpeci.... hihihihi.

Dengan begitu, ringkasnya ya itu tadi: KURANGI
PETANI, dan perbanyak sektor usaha jasa. Dari
angka-angka di atas, KITA sudah memulainya....
Sudah semakin mendekati Malaysia. Tinggal memperhalus
lagi metode dan strateginya. Pertama, bagaimana
menyeimbangkan beban ekonomi dan ekologi dari
P. Jawa yang hanya 7% daratan Indonesia itu agar
tidak harus menyangga 40% sawah dan 60% populasi
yang semangkin terlihat serakah... karena kurangnya
jatah yang bisa dibagikan.

Nah, demikian tanggapan saya atas wacana BAGAIMANA
CARA MANDIRI ini.
"loro telu - papat limo enem; parine lemu-lemu
 tanine ayem-ayem"

--mbahsoeloyo--
http://www.geocities.com/soeloyo/




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke