ini ada berita aneh yg lainnya..:) -----Original Message----- From: Sent: To:
Subject: Korban Pemurtadan Dipaksa Baca Injil dan Dianiaya <http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=191087&kat_id=23> http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=191087&kat_id=23 Selasa, 15 Maret 2005 19:50:00 Korban Pemurtadan Dipaksa Baca Injil dan Dianiaya Laporan: Arie Luki Hardianti Bandung-RoL -- Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan empat orang saksi dalam sidang lanjutan perkara pemurtadan dengan terdakwa Elwin Kawilarang, Bambang Sutrisna, dan Dede Nurjanah. Dalam kesaksiannya, keempat saksi yang juga korban pemurtadan, mengaku dipaksa membaca Injil dan dianiaya oleh para terdakwa. Keterangan para saksi, antara lain Warso bin Karyono, Uminah (istri Warso), Mutmainah, dan Siti Dariah, disampaikan dalam sidang yang dipimpin hakim ketua Hari Budi, SH, di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Selasa (15/3). Menurut penuturan Warso, salah seorang saksi, dirinya dipaksa menuruti kemauan Elwin dan Bambang. ''Saya dipaksa membaca Injil dan harus mengeluarkan air mata bertobat terhadap Tuhan Yesus. Kalau tidak bisa, saya diancam, mata saya mau dicongkel pakai pisau lipat,'' tutur Warso dalam kesaksiannya. Selain dipaksa membaca Injil, kata Warso, dirinya juga dipukul oleh Bambang dan Elwin di bagian wajah, kepala, dan punggung. Sementara saksi Mutmainah, adik ipar Warso, mendapat perlakuan yang paling sadis. ''Saya dianggap kuntilanak,'' cetusnya. Karena itu, kata Mutmainah, kepalanya ditusuk-tusuk dengan pisau dan dipantek paku sampai berdarah. Para terdakwa, imbuh dia, juga memintanya segera bertobat. Tak hanya itu, imbuh dia, pada suatu malam, tubuhnya dipukul dengan batang sapu lidi hingga luka. ''Badan saya kemudian dipukul dengan kursi dan di seluruh tubuhnya dilumuri garam oleh Bambang,'' paparnya. Pada hari Ahad, sambung Mutmainah, ia dipaksa ke gereja dan ikut perkumpulan (kebaktian-red). Setelah selesai mengikuti kebaktian, ia pulang ke rumah. ''Tapi sampai di rumah saya dipukul lagi karena tidak memberi uang sumbangan di gereja,'' tutur gadis berusia 18 tahun ini. Sedangkan terdakwa Elwin dan Bambang, lebih banyak terdiam dan mengakui perbuatannya, saat hakim menanyakan keterangan saksi. Sementaar itu, terdakwa Dede Nurjanah, tertunduk lesu dan sesekali menangis di ruang sidang. Ia sempat menyangkal bahwa dirinya dikatakan memukul korban sampai tiga kali. Bantahan terdakwa itu langsung diprotes Mutmainah. Dalam perkara ini, jaksa menjerat tiga terdakwa dengan pasal 170 ayat 2 ke-1 KUHP, jo pasal 64 ayat 1 KUHP dan pasal 289 KUHP jo pasal 55 ayat 10 ke-1 KUHP. Dengan pasal tersebut, para terdakwa terancam hukuman penjara maksimal tujuh tahun. Di luar ruang sidang, puluhan massa dari Barisan Anti Pemurtadan (BAP) Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) dan Tim Anti Pemurtadan (TAP) MUI Kota Bandung, melakukan aksi solidaritas untuk Warso dan keluarga. ''Harusnya terdakwa juga dijerat pasal 333 tentang Kebebasan Beribadah. Tapi sekarang berita acara pemeriksaan belum dimasukkan juga,'' tutur Ketua BAP, Muhammad Mu'min. Dalam orasinya, aktivis BAP itu menuntut agar hakim bertindak adil dalam menangani perkara ini. Menurut mereka, persidangan tersebut akan terus dipantau. ''Kami akan terus memantau persidangan ini. Kami hadir di tempat ini tidak dibayar,'' tutur salah seorang aktivis. C 2005 Hak Cipta oleh Republika Online -----Original Message----- From: patrick_pasassung [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 19 Juli 2005 8:54 To: [email protected] Subject: [ppiindia] Re: FYI : Berita aneh dari Sabili Saya juga tidak bisa percaya kalau kejahatan dengan menggunakan model- model ilmu hitam itu dilakukan dengan menggunakan label Kristen. Kalau benar itu terjadi, baiknya pelakunya ditangkap dilaporkan saja dan diproses biar tidak mencoreng nama Kristen. Kristen/Katolik itu tidak pernah mengajak pemeluk agama lain untuk masuk Kristen/Katolik, apalagi dengan cara-cara pemaksaan, kalaupun ada yang pindah agama karena melihat perilaku yang baik/terpuji dari seorang Kristen/Katolik itu persoalan lain dan sekali lagi bukan dengan paksaan, kalau ada yang maksa itu perlu dipertanyakan ke-Kristenan- nya. --- In [email protected], "Samudjo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Betul sekali, > Kalaupun terjadi itu adalah kejahatan yang mengatasnamakan Kristen > Demikian juga kasus perempuan muda yang diketemukan mati didalam mobilnya di > Bandung, pelakunya ternyata pemuda yang menghamili gadis itu tapi tidak mau > bertanggung jawab untuk mengawininya. > Kebetulan sang gadis Islam, kebetulan pemuda itu Kristen. > Gambar berwarna merah jambu, kalau diamati dari dekat berlatar belakang > putih dan beberapa noktah merah kelam. > Semuanya hanya ilusi dan presepsi khas kuasa kegelapan, > Samudjo > ----- Original Message ----- > From: "Jimmy Okberto" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Monday, July 18, 2005 8:45 AM > Subject: [ppiindia] FYI : Berita aneh dari Sabili > > > > > > Jangan bikin gossip, tidak ada ajaran Kristen untuk mendoktrin orang > > untuk memaksa menerima ajaran Kristen, perlu ketelitian lebih lanjut > > mengenai hal ini. > > Berita dibawah ini bukan gambaran ajaran Kristen. > > Kristen tidak berhubungan dengan hipnotis, kesurupan dll yang aneh > > disebutkan disini , karena merupakan kuasa kegelapan. > > > > There's all bull shit. HOAX. > > > > -----Original Message----- > > From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > [ppiindia] Gawat Kristenisasi Incar Akhwat > > Refleksi: Hebat juga kristenisasinya a la Sabili > > http://www.sabili.co.id/telut-e26thXII05.htm > > > > Gawat Kristenisasi Incar Akhwat > > Dengan mengenakan busana Muslimah, kaum pemurtad yang diduga kuat > > sebagai aktivis Salibis mendatangi masjid-masjid dan tempat kumpul > > aktivis dakwah yang banyak dikunjungi Muslimah. Mereka mengincar akhwat > > untuk dimurtadkan. > > > > Jumat (24/6/2005), tengah hari. Jarum jam menunjukkan angka 10.30 WIB. > > Di luar, Sang surya memancarkan cahayanya, menjalankan perintah Sang > > Khalik: menyinari bumi, ciptaan Allah Yang Maha Agung. Manusia pun > > terlihat lalu-lalang, mengejar rezeki dunia. Padahal waktu shalat Jumat > > segera tiba. > > > > Tiba-tiba suara telepon redaksi SABILI, berdering. Setelah mengangkat > > gagang telepon, terdengar suara perempuan menjerit dan ketakutan. > > "Tolong saya pak. Saat ini saya berada di luar Jakarta. Mereka menculik > > saya dengan mobil," telepon Endah (nama samaran), singkat, dengan rasa > > takut, kepada salah seorang kru SABILI. > > > > Endah adalah seorang akhwat, aktivis dakwah. Bersama teman-teman > > sebayanya, selama ini gadis berusia 23 tahun itu aktif mengikuti program > > tahfidzul Qur'an di Pesantren Yapith, Pondok Gede, Bekasi. Selain itu, > > ia juga rutin mengikuti kajian pekanan (liqo') gerakan Tarbiyah. > > > > Nasib Endah sungguh ironis. Gadis yang awalnya sangat periang ini sedang > > diincar gerakan kristenisasi. Endah sedang menjadi target operasi (TO) > > gerakan pemurtadan yang terselubung. Dengan cara-cara tak terpuji, > > mereka berusaha keras memurtadkan aktivis masjid ini. > > > > "Penculikan" Endah ini sudah yang kesekian kalinya. Hal itu dibenarkan > > Yan, kakak Endah. Menurut Yan, tahun 2003 lalu, Endah pernah mengalami > > nasib serupa. Mereka pernah membawa Endah ke sebuah rumah yang berada di > > daerah Tanggerang. Di sana, mereka berusaha mencuci otak Endah dengan > > memberikan doktrin-doktrin Kristen. > > > > Namun usaha mereka ternyata tak terlalu berhasil. Mantan siswi Ma'had > > Al- Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan ini akhirnya berhasil meloloskan > > diri dari sekapan mereka. Dengan alasan mau kuliah ke Ma'had Al- Hikmah, > > Endah pun bisa kembali lagi ke rumah. Setelah berhasil lolos, kondisi > > Endah ternyata agak berubah. Ia sering merasa sakit kepala dan kerap tak > > sadarkan diri. Dalam keadaan tak sadar itu pula ia sering > > menyebut-nyebut Yesus, sementara lidahnya terasa berat untuk membaca > > Qur'an. > > > > Untuk mengatasinya, Endah akhirnya melakukan terapi ruqyah (dibacakan > > ayat-ayat Qur'an dan doa, sebagaimana dicontohkan Nabi saat mengusir jin > > dari dalam tubuh manusia). Setelah tim ruqyah berhasil mengeluarkan > > pengaruh sihir dan jin dari tubuh Endah, kondisi akhwat yang sering > > mengajar ngaji anak-anak ini lebih mendingan dan bisa kembali > > beraktivitas seperti sediakala. "Beberapa bulan lalu kondisinya sudah > > bagus, tapi belakangan ini kambuh lagi," kata Budi. > > > > Kasus Endah bermula dari sebuah acara di Masjid Istiqlal, beberapa tahun > > lalu. Waktu itu, Endah didekati seorang perempuan berjilbab, seperti > > pakaian seorang akhwat (pakaian jubah dengan jilbab panjang). Entah > > mengapa setelah berkenalan, tiba-tiba Endah terhanyut dan mau saja > > mendengar omongan perempuan itu. Apalagi dalam obrolan itu, ia sering > > kali menyinggung tentang gerakan Islam, mulai dari Tarbiyah, Salafi, > > Jamaah Tabligh hingga Hizbut Tahrir. > > > > Pertemuan Endah dengan perempuan berjilbab itu ternyata berlanjut sampai > > Endah kuliah di Ma'had Al Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan. Perempuan ini > > acap kali menyatroni Endah ke Ma'had tersebut. Seperti juga > > pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti dihipnotis, Endah tak kuasa > > menolak ajakan perempuan berjilbab itu untuk berjalan-jalan. Mereka juga > > sering kumpul dengan beberapa orang, bak sebuah halaqah, mengkaji Islam. > > > > > > Mulanya, materi-materi yang disampaikan dalam "halaqah" itu, tidak ada > > yang bermasalah. Namun lama-kelamaan dirasakan materinya agak > > menyimpang. Tidak lagi berpandangan positif terhadap Islam, malah > > menjelek-jelekkan harakah (gerakan) satu dengan harakah lainnya. Bahkan > > sering kali memfitnah Allah, Islam dan Rasul-Nya. > > > > Kasus ini pun mencapai klimaksnya saat mereka "menculik" dan menyekap > > Endah di sebuah rumah di luar Jakarta. Semalaman, seorang perempuan yang > > mengenakan jilbab dan mengenakan kalung salib mendoktrin Endah dengan > > doktrin-doktrin Kristen. Sejak itu, Endah, yang awalnya gadis periang > > ini, kini selalu dibayangi rasa takut mendalam karena menjadi incaran > > gerakan kristenisasi. > > > > Di Bekasi, beberapa waktu lalu juga terjadi kasus serupa. Linda, seorang > > akhwat berteman akrab dengan seorang perempuan Kristen yang menyebut > > dirinya dengan "umi". Saat akhwat ini lengah, perempuan itu mengambil > > dompetnya. Dompet akhwat ini kemudian diberikan kepada suami si > > perempuan itu yang juga menyebut dirinya dengan "abi". "Abi" ini > > kemudian memanggil akhwat tersebut. Namun setelah pertemuan dengan > > "abi", akhwat ini jadi tidak karu-karuan. Kepalanya sering terasa sakit. > > Saat diperintah suaminya, akhwat ini jadi tak menurut. Ia juga tak lagi > > senang membaca al-Qur'an. Selain sering menyebut-nyebut nama "umi" dan > > "abi", akhwat ini juga sering kebayang-bayang Yesus, Tuhan Kristiani. > > > > Kondisi akhwat itu saat ini sudah pulih kembali. Namun perjuangan > > memulihkannya cukup berat. Untuk menghilangkan pengaruh jin di tubuh > > akhwat itu, memakan waktu sekitar tujuh bulan. Selama itu pula keluarga > > Adi Ambargono ini mendapat tekanan batin karena sering mendapat komentar > > tidak sedap dari masyarakat sekitar. > > > > Kasus pemurtadan para akhwat ternyata tak hanya terjadi di Jakarta dan > > Bekasi, tapi juga terjadi di luar Jakarta. Beberapa waktu lalu, kasus > > yang mirip terjadi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Seorang akhwat, > > keponakan aktivis gerakan Tarbiyah Medan diculik kelompok Kristen sampai > > dua kali. > > > > Awalnya, seorang perempuan berjilbab mendekati seorang akhwat. Merasa > > targetnya sudah percaya, kemudian ia mengajak akhwat ini minta izin > > tidak masuk sekolah untuk makan-makan dan jalan-jalan. Hal ini terus > > berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Bak disambar geledek di > > siang bolong. Ayahnya kaget setelah mendapat kabar bahwa anaknya sudah > > tiga bulan tidak masuk sekolah dengan alasan izin ke rumah sakit. > > Padahal setiap hari ia merasa tidak ada masalah karena anaknya selalu > > berpamitan untuk berangkat sekolah. > > > > Puncaknya, Akhwat ini diculik dan dibawa kabur ke Jambi. Selama dalam > > perjalanan, mereka memasukkan dan membaptis aktivis Islam ini di gereja. > > Bahkan, karena berontak, mereka pernah memukul kepala akhwat ini sampai > > pingsan. Beruntung ia bisa kabur. Namun setelah berhasil pulang, > > kondisinya sudah tak normal. Akhwat ini sering merasa sakit kepala dan > > kerap tak mampu mengendalikan diri. Akhirnya, setelah diruqyah, > > kondisinya mulai pulih kembali. > > Tapi kaburnya "buruan" tidak membuat para pemurtad itu patah semangat. > > Beberapa waktu kemudian, saat seisi rumah tengah tertidur lelap, mereka > > menaiki loteng dan menculik kembali akhwat tersebut. Orang tua akhwat > > ini baru tersadar setelah menerima SMS dari penculik yang bunyinya: > > "Selamat mengambil anakmu yang ada di neraka." > > > > Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS Sumut yang > > kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung mengontak > > seluruh kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar akhwat itu berada > > di Polres Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan di sebuah pohon dalam > > kondisi terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan akhwat tersebut > > menjadi persoalan serius. Meski kasus kristenisasi ini sudah masuk ke > > kepolisian, namun sejumlah ormas Islam, seperti DDII, IKADI, PKS dan > > organisasi Islam lainnya terus mendesak agar Kapolda Sumut segera serius > > mengusut tuntas kasus ini. > > > > Di Bandung, Jawa Barat upaya-upaya pemurtadan para akhwat, aktivis > > dakwah, juga marak. SABILI mendapat cerita langsung dari Siti Nurjanah, > > SS, seorang murrobi (guru) dan aktivis Tarbiyah. Menurutnya, untuk > > mengincar mangsanya, khususnya para akhwat di Bandung, para misionaris > > dan kaum pemurtad sering mengenakan simbol-simbol Islam, seperti jilbab > > panjang dan jubah. > > > > Sasaran mereka adalah akhwat yang baru mengikuti kegiatan Tarbiyah. > > Karena pemahaman para akhwat ini, baru sebatas belajar dan belum utuh > > benar pemahaman keislamannya, sehingga besar kemungkinan masih bisa > > mereka pengaruhi. Untuk memangsa sasaran, biasanya mereka mendatangi > > tempat-tempat yang menjadi ajang berkumpulnya orang Islam di Bandung, > > seperti Masjid Salman, Masjid Istiqomah, juga Pusat Dakwah Islam > > (Pusdai) Jawa Barat. Setelah menyusup ke tempat ramai tersebut, mereka > > mendekati para akhwat dan berusaha memengaruhi akidah mereka. > > > > Sebut misalnya, cerita yang terjadi di Pusdai (Bandung) beberapa waktu > > lalu. Saat itu ditemukan seorang perempuan yang mengenakan busana mirip > > akhwat pada umumnya: berjilbab panjang dan memakai jubah. Secara tak > > sengaja, saat di toilet seorang akhwat melihat perempuan berjilbab itu > > memakai kalung Salib. Bahkan saat diperiksa, di dalam tas perempuan > > tersebut ditemukan Alkitab. > > > > Kecurigaan itu makin terasa saat para akhwat melaksanakan ibadah shalat. > > Di saat semua orang melakukan rukun Islam kedua itu, perempuan berjilbab > > tadi tidak melakukannya. "Saya mendapat informasi ini dari aktivis > > dakwah kampus yang mengikuti kegiatan Tarbiyah," tegas Siti Nurjanah. > > Masih di sekitar Bandung, kasus pemurtadan kali ini terjadi di > > Universitas Winayamukti (Unwim) Jatinangor, Jabar. Korbannya, lagi-lagi > > akhwat, mahasiswi Universitas Padjajaran (Unpad). Beberapa waktu lalu, > > ia didekati seorang pria yang mengaku diri sebagai perwira polisi. Sejak > > pertama kali berkenalan, pria ini terus saja menempel akhwat itu. > > > > Namun belakangan diketahui pria yang mengaku dari kesatuan polisi itu > > adalah seorang Nasrani. Merasa sudah saatnya, ia pun mengajak akhwat ini > > menikah dan pindah agama. Setelah menikah, akhwat ini tak pernah > > mengikuti kegiatan Tarbiyah lagi. Tim Forum Antisipasi Kristenisasi dan > > Pendangkalan Akidah (FITRAH) juga menceritakan kasus pemurtadan yang > > nyaris menimpa seorang akhwat, mahasiswi UPI Bandung. Kasusnya terjadi > > pada akhir tahun 2004 lalu. Mulanya, seorang akhwat diminta memberikan > > les privat bahasa kepada orang asing beragama Nasrani. > > > > Lama-kelamaan keluarga itu melakukan pendekatan personal. Mereka > > melakukan pendekatan persuasif, seperti mengajak jalan-jalan bareng. > > Saat akhwat ini mengalami masalah ekonomi, mereka membantunya. Namun > > ujung-ujungnya, mereka meminta akhwat ini pindah agama. Untuk > > menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia pergi dari > > keluarga Nasrani itu. > > > > Kasus pemurtadan akhwat di Sumatera Barat tak kalah hebohnya. Kasus ini > > terjadi di kampus Politani Universitas Andalas, Payakumbuh beberapa > > waktu lalu. Sedikitnya 23 akhwat, mahasiswi Politani, kesurupan dan > > menyebut-nyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Salib. September 2003 lalu > > kasus serupa juga menghantam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Payakumbuh. > > Sebanyak sebelas siswi kesurupan dan menunjukkan perilaku aneh, > > menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, Salib dan menyatakan suka > > dengan Injil. > > > > Kasus demi kasus pemurtadan yang mengincar akhwat terus menguak ke > > permukaan. Ibarat fenomena gunung es, yang nampak dan muncul hanyalah > > sebagian kecil saja. Sementara yang belum muncul ke permukaan, > > disinyalir masih banyak. Karenanya, sudah seharusnya aparat kepolisian > > serius menindaklanjuti laporan yang masuk, seperti terjadi di Sumatera > > Utara. > > > > Sambil menunggu tindakan aparat, yang penting dilakukan Muslim dan > > Muslimah, khususnya para dai dan daiyah, adalah agar memberikan tarbiyah > > (pendidikan Islam) secara utuh, sehingga mereka yang kerap jadi sasaran, > > terhindar dari jerat-jerat pemurtadan yang sedang mengincar. Tak kalah > > pentingnya adalah, selalu waspada. Beragam info di atas, jadikan > > pelajaran dan pengalaman, agar terhindar dari upaya-upaya busuk mereka. > > Jika tidak, gawat! > > > > Rivai Hutapea > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

