--- In [email protected], Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mbak Lina yang baik, Mbak katakan: > > "Kalau memang Tritunggal, Hindu, Budha tak mengakui ke-esaan menurut definisi Islam yang Tauhid, itu namanya kafir. Tauhid itu gak ada tapinya (juga gak ada koma). gak bagaimana-bagaimana lagi. Gampang kan? Kebenaran universal itu mudah dicerna kok." > > Semudah itu? > > Saya kira tidak mBak. Mengapa? Karena definisi ke Ilahian tiap agama muncul dalam saat dimana agama itu lahir. Agama Buddha, yang lahir 300an tahun sebelum Kristus, tak mungkin mengambil alih definisi ke Ilahian Kristiani, yang datang kemudian, demikian juga Kristiani, telah mendefinisikan ke Ilahiannya, sebelum Islam muncul.Agama Yahudi mendefinsikan ke Ilahiannya tanpa memasukkan peran Yesus, karena kala agama Yahudi muncu, Yesus belum lahir. Dst...
Lina: Nah itulah Mbah agama Yahudi (yang lahir sebelum Kristen) mendefinisikan keIlahian tanpa memasukkan peran Yesus krn Yesus belum lahir. Tuhanpun sudah ada sebelum Yesus lahir. Lalu, kalau Yesus (kemudian lahir)trus dituhankan oleh bapak2 gereja, Tuhan yang mana lagi? apa perlunya menuhankan Yesus buat Tuhan? Tuhan sih gak ada perlunya ya Mbah? oke deh..apa perlunya buat manusia (bapak2 gereja) dong? Makanya itu mbah, setelah lahir Islam yang ingin menempatkan kembali Tuhan dan Yesus ke proporsinya...:-)...mestinya orang juga mempelajari sejarah mengapa Muhammad SAW harus datang membawa ajaran Islam. Definisi keilahian yang timbul karena kelahiran seorang manusia, ato Definisi keilahian yang keberadaannya harus ada karena menunggu lahirnya seorang anak manusia, bisa kah dianggap representative mendefinisikan konsep Tuhan yang keberadaanNya yang sudah ada jauh sebelum Yesus lahir? Bagaimana nasib manusia-manusia yang lahir sebelum Yesus lahir? Kasihan sekali mereka tidak dapat mengenal dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan ?? > > Titik tolak juga berbeda. Buddha mendefinisikan keIlahian sebagai omnipresens, mahaada dan di-mana mana, jadi tak memasalahkan soal hitung-hitungan. Esa, dua ,tiga, adalah hitungan manusia. Keberadaan Ilahi, menurut Buddhismus, diluar hitungan manusia. Kristiani menggambarkan keIlahian dalam tiga wujud yang adalah satu. Islam mendefinisikan sama dengan agama Yahudi, simply satu. Buddhismus lahir diwilayah yang jauh dari wilayah agama agama Semit, jadi budayanya juga sangat berbeda. > Lina: Nampaknya definisi keIlahian Budha yang omnipresens dapat disamakan dgn salah satu dari 99 Sifat/Nama Allah dalam Islam. Namun definisi Keilahian Kristen yang menggambarkan keIlahian Yesus, tidak dapat ditemukan dalam 99 Sifat/Nama Allah. Itu masalahnya Mbah. Ketika keilahian dalam Kristen merujuk kepada manusia Yesus, menjadi kembali absurd. Tapi begitu Mbah bicara soal Tuhan tanpa menyinggung Yesus, menjadi kincrong. Coba saja deh Mbah dapat mengatakan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, namun bisakah Mbah mengatakan Yesus lah yang menciptakan langit dan bumi? Wong Bumi diciptakan Yesus belum lahir? > Yahudi, Kristen dan Islam yang masih satu keluarga, saling terkait, saling mengambil alih ajaran. Pembandingan sejarah adalah mungkin. > > Demikian juga Buddhisme, Shintoisme, Lamaisme, masih keluarga, saling terkait. Pembandingan sejarah juga mungkin. > > Kelompok agama agama yang masih bersaudara mengandung perbedaan yang cukup lebar, apalagi agama agama dari kelompok akar budaya yang begitu berbeda! Karena itu sulit, menuntut agama agama harus pas pada definisi SATU agama tertentu. Lina: Yang seharusnya, Yang seidealnya memang tidak harus terjadi sekarang ini. Tidak perlu menuntut. Yang perlu kita hanya harus bicara yang benar menurut kita. > > Setiap agama absolut benar. Bagi pemeluknya masing masing.. Lina: keabsolutan hanya dimiliki oleh Satu. Tidak mungkin ada Kebenaran Absolut ganda or banyak karena kalau banyak namanya bukan absolut lagi dong...:-) > > Yang ingin saya kemukakan disini adalah faktor historis, bahwa bapak bapak kita dalam merumuskan kalimat ini, kala itu tidak sedang berdebat theologis, namun mencari perumusan politis, demi dan bagi keutuhan bangsa yang akan lahir ini. Beliau beliau tak ada waktu mengurusi kafir atau tidak, ini tidak signifikant bagi kelahiran negara yang baru.. Lina: That's the point. Repotnya merumuskan kalimat teologis (yang berbeda) untuk keperluan politik. Kafir hanya ada pada tatanan teologis (agama) ..tidak ada dalam tatanan negara. Makanya saya setuju saja kalau dalam dokumen2 (UUD) tidak dimasukkan istilah2 agama karena yang penting adalah esensinya. Tapi anyway Mbah, betulkan yang ditolak dalam perumusan Preambul UUD45 itu adalah kata "syariah islam" bukannya kata "Ketuhanan Yang Mahaesa"...he..he...dua hal yang beda. wassalam, ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h6jhrtg/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122981569/A=2894350/R=0/SIG=10tj5mr8v/*http://www.globalgiving.com">Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

