--- In [email protected], Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > > > Lina: > Nah itulah Mbah agama Yahudi (yang lahir sebelum Kristen) > mendefinisikan keIlahian tanpa memasukkan peran Yesus krn Yesus > belum lahir. Tuhanpun sudah ada sebelum Yesus lahir. Lalu, kalau > Yesus (kemudian lahir)trus dituhankan oleh bapak2 gereja, Tuhan yang > mana lagi? apa perlunya menuhankan Yesus buat Tuhan? Tuhan sih gak > ada perlunya ya Mbah? oke deh..apa perlunya buat manusia (bapak2 > gereja) dong? Makanya itu mbah, setelah lahir Islam yang ingin > menempatkan kembali Tuhan dan Yesus ke proporsinya...:- )...mestinya > orang juga mempelajari sejarah mengapa Muhammad SAW harus datang > membawa ajaran Islam. > > Definisi keilahian yang timbul karena kelahiran seorang manusia, ato> Definisi keilahian yang keberadaannya harus ada karena menunggu > lahirnya seorang anak manusia, bisa kah dianggap representative > mendefinisikan konsep Tuhan yang keberadaanNya yang sudah ada jauh > sebelum Yesus lahir?> Bagaimana nasib manusia-manusia yang lahir sebelum Yesus lahir? > Kasihan sekali mereka tidak dapat mengenal dan mempercayai Yesus > sebagai Tuhan ?? > > DH: Ini adalah thema theologis yang menyibukkan manusia sudah sebelum konsili di Nicea. dan akan terus menyibukkan manusia. > Tewtapi, thema ini agak menyimpang dari topic aktual kita, yakni fatwa MUI. Dapatkah kita memahami secara nasional, istilah Ketuhanan yang mahaesa, dari sisipandang satu akidah. That's the point. > > Menurut pendapat saya yang super pribadi lho, kata kata ini agak konyol dijadikan dasar, sebab hanya mengundang perdebatan. saya kira secara hukum tatanegara, juga sulit mencari interpretasi dari kata ini. Mahaesa ya mahaesa titik. Ya kan Mbak? Jadi, yang carilah perumusan lain yang lebih reasonable.
LD;super betul mbah, ini tema teologis. Abisnya mbah kan sebelumnya nyinggung soal sejarah kelahiran definisi keilahian. Makanya saya jadi menyinggung kok definisi keilahian harus nunggu Tuhannya mbrojol dulu?..he..he.. oke deh kita lupakan soal thema ini, biar bapak2 gereja yang sidang Nicea yang tanggung jawab krn tlah melahirkan konsep trinitas ini ye, Mbah. Apapun memang mengundang perdebatan..kecuali kalau kita semua menjadi Sufi...:-) Bagi yang buntu memang ujung2nya kita akan berkata dogmatis "mahaesa ya mahaesa titik", seperti "trinitas ya trinitas titik" Tapi bagi yang mencari pencerahan dalam jiwanya akan bertanya terus apa sih makna 'mahaesa' itu...etc...dan bagi yang sudah mendapatkan pencerahan hanya tersenyum saja dan berkata...dalam rangka membangun kerukunan hidup umat beragama di Indonesia, terserah masing- masinglah bagaimana mau memaknai 'esa': mau menjadi dwiesa or triesa atau mahaesa...:-). Kalau sesudah Maha ada yang lain-lainnya lagi, Maha itu menjadi tak bermakna sama sekali. > > -------------------------------------- > > Lina: > Nampaknya definisi keIlahian Budha yang omnipresens dapat disamakan > dgn salah satu dari 99 Sifat/Nama Allah dalam Islam. Namun definisi > Keilahian Kristen yang menggambarkan keIlahian Yesus, tidak dapat > ditemukan dalam 99 Sifat/Nama Allah. Itu masalahnya Mbah. Ketika > keilahian dalam Kristen merujuk kepada manusia Yesus, menjadi > kembali absurd. Tapi begitu Mbah bicara soal Tuhan tanpa menyinggung > Yesus, menjadi kincrong. Coba saja deh Mbah dapat mengatakan Tuhan > yang menciptakan langit dan bumi, namun bisakah Mbah mengatakan > Yesus lah yang menciptakan langit dan bumi? Wong Bumi diciptakan > Yesus belum lahir? > > DH: Ini sebuah tukar wacana theologis lagi, yang mungkin harus diterangkan oleh yang akhli Kitab. Pembahasan ini akan memakan waktu yang sangat lama. LD: he..he...oke deh, makanya gak usah disinggung-singgung deh. Abis emang absurd sih. Ahli kitab juga bingung jelasinnya. Paling- paling ya...nyalahin akal. > -------------------------------- > > > Lina: keabsolutan hanya dimiliki oleh Satu. Tidak mungkin ada > Kebenaran Absolut ganda or banyak karena kalau banyak namanya bukan > absolut lagi dong...:-) > > DH: Disini letak masalahnya. Kita sama sama lihat bulan kalau malam hari kan? Tetapi disaat mBak Lina lihat bulan purnama, kami di Eropa lihat matahari. Kebenaran mutlak mengenai bulan dan matahari adalah tetap, tetapi mampukah kita menangkapnya dengan kata kata kita? Cukupkah indra kita? > Perbedaan yang ada, buklanlah berarti Tuhan berbeda dalam keabsolutanNya, namun penglihatan manusia berbeda, namun ditiap mata, adalah absolut benar. LD: Wah...penglihatan mata manusia terbatas, jadi tak ada keabsolutan disana, cuma kebenaran-kebenaran (pake huruf kecil) namun penglihatan mata hati, penglihatan dengan akal...subhanallah deh kita bisa melihat dengan mata hati keabsolutan Tuhan disana. > ---------------------------------------- > > Lina: That's the point. Repotnya merumuskan kalimat teologis (yang > berbeda) untuk keperluan politik. Kafir hanya ada pada tatanan > teologis (agama) ..tidak ada dalam tatanan negara. Makanya saya > setuju saja kalau dalam dokumen2 (UUD) tidak dimasukkan istilah2 > agama karena yang penting adalah esensinya. > > DH: dan..janganlah perumusan agama dicampur adukkan dalam kehidupan publik. Mungkin kata "fatwa" lebih baik dimengerti sebagai "opinion", seperti kalau kita mau memahami sebuah kontrak, maka kita ambil opini dari perusahaan atau lembaga yang kita nilai mempunyai kemampuan mengeluarkan opini yang pas. LD: lah yang mulai perumusan agama dicampur adukkan kedalam publik sapa ya? Fatwa MUI itu perumusan (hukum) agama. Lalu yang menghubungkan dgn UUD45 (publik) segala siapa??? Terserah deh istilahnya mo dirubah "opini" kek..apa kek..meski saya kurang setuju. Tapi esensinya, fatwa itu mengandung hukum agama. Apakah "opini" mengandung hukum agama? Kalau memang sepakat demikian silakan aja tukar dengan "opini". Pada urusan publik, saya tidak peduli mau merubah istilah, yang penting esensinya. > ---------------------------------------- > > > Tapi anyway Mbah, betulkan yang ditolak dalam perumusan Preambul > UUD45 itu adalah kata "syariah islam" bukannya kata "Ketuhanan Yang > Mahaesa"...he..he...dua hal yang beda. > > DH: Lho lha iya to? Justeru muncul perumusan "Ketuhanan yang..." ini sebagai alternativ terhadap "syariah Islam" dalam mukkadimah. > Perumusan "Ketuhanan yang.." ini malah meninggalkan ranjau bagi generasi penerus..> Mbok ya bapak bapak kita dahulu lebih canggih mencari perumusan yang pas, gak kayak begini.. LD: Bukan itu pertanyaan saya. Saya ulangi: Kata apa yang ditolak dalam perumusan Pembukaan UUD itu? a) Syariah Islam b) Ketuhanan Yang Mahaesa. wassalam > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hou35cf/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122994554/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project </a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

