Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:

LD;super betul mbah, ini tema teologis. Abisnya mbah kan sebelumnya 
nyinggung soal sejarah kelahiran definisi keilahian. Makanya saya 
jadi menyinggung kok definisi keilahian harus nunggu Tuhannya 
mbrojol dulu?..he..he..
oke deh kita lupakan soal thema ini, biar bapak2 gereja yang sidang 
Nicea yang tanggung jawab krn tlah melahirkan konsep trinitas ini 
ye, Mbah.

DH: mengenai definisi keIlahian tu gini lho. Tiap agama kan punya definisi 
sendiri sendiri. Lha semua definisi itu tetap pas -secara ketatanegaraan - 
kedalam perumusan "Ketuhanan yang mahaesa". 
Padahal mungkin, kalau mBak telaah dari sisi definisi tauhid, mungkin bagi 
mBak, agama agama lain ini, tak pas ke "keTuhanan yang maesa" tadi.
Tetapi, ya karena perumusan ini diproduksikan oleh bapak bapak kita yang bukan 
theolog, jadi untuk kebutuhan ketatanegaraan, ya jadi saja.. ya kan?
-------------------------------------------------------
LD:

Apapun memang mengundang perdebatan..kecuali kalau kita semua 
menjadi Sufi...:-)

DH: Kalau mBak Lina rajin meditasi Vipassana, walau belum sampai ke sufi, tapi 
pasti akan mencapai tingkat kesadaran yang lebih luas..
----------------------------
LD:
Bagi yang buntu memang ujung2nya kita akan berkata dogmatis "mahaesa ya mahaesa 
titik", seperti "trinitas ya trinitas titik"  Tapi bagi 
yang mencari pencerahan dalam jiwanya akan bertanya terus apa sih 
makna 'mahaesa' itu...etc...dan bagi yang sudah mendapatkan 
pencerahan hanya tersenyum saja dan berkata...dalam rangka membangun kerukunan 
hidup umat beragama di Indonesia, terserah masing-
masinglah bagaimana mau memaknai 'esa': mau menjadi dwiesa or triesa atau 
mahaesa...:-). Kalau sesudah Maha ada yang lain-lainnya lagi, 
Maha itu menjadi tak bermakna sama sekali.
 
DH: mungkin sekali, kita manusia terbungkus dalam dimensi indra kita, juga 
dalam hitung hitungan. Jadi istilah esa, dua atau tri itu kita pahami sebagai 
bilangan. Padahal, keEsaan sang Pencipta itu kan tak terukur? bagaimana kutu 
yang keciil sekali, mau menghitung jumlah gajah? Lho ekor gajah saja sang kutu 
tak dapat cakup secara kaffah kok?
-----------------------------------------------
LD: he..he...oke deh, makanya gak usah disinggung-singgung deh.   
Abis emang absurd sih. Ahli kitab juga bingung jelasinnya. Paling-
paling ya...nyalahin akal. 
 
DH: ?!*#*?&[EMAIL PROTECTED]
> --------------------------------

LD: Wah...penglihatan mata manusia terbatas, jadi tak ada 
keabsolutan disana, cuma kebenaran-kebenaran (pake huruf kecil) 
namun penglihatan mata hati, penglihatan dengan akal...subhanallah 
deh kita bisa melihat dengan mata hati keabsolutan Tuhan disana. 
 
DH: mata hati, mata kaki, mata mata, selama ini indra manusia, yang berangkat 
dari akal, tetap terbatas mBak. Kerabsolutan manusia belum mencapai keabsolutan 
yang absolut. "Sangat cepat bagi kita, belumlah apa apa, dengan kecepatan 
planet yang meluncur dalam kecepatan cahaya. Keterbatasan kita mendorong kita 
melihat sang pencipta seperti kita, bisa marah, sedih, kecewa, benci, 
menghukum, menghadiahi dsb. Tetapi ini logis, karena kita hanya mampu 
komunikasi antar kita dengan gambaran yang kita pahami..
> ----------------------------------------
LD: lah yang mulai perumusan agama dicampur adukkan kedalam publik 
sapa ya? Fatwa MUI itu perumusan (hukum) agama. Lalu yang 
menghubungkan dgn UUD45 (publik) segala siapa??? Terserah deh 
istilahnya mo dirubah "opini" kek..apa kek..meski saya kurang 
setuju. Tapi esensinya, fatwa itu mengandung hukum agama. 
Apakah "opini" mengandung hukum agama? Kalau memang sepakat demikian 
silakan aja tukar dengan "opini". Pada urusan publik, saya tidak 
peduli mau merubah istilah, yang penting esensinya.
 
DH: mungkin biarlah MUI beropini, asal jangan dianggap mutlak, dan berlaku 
seperti kebenaran matahari..dan tak mempunyai konsekwensi hukum publik, baik 
pidana, perdata atau hukum administrasi..
 
By the way, semua agama Semit punya MUI MUI an. Dalam agama Yahudi ada 
Rabbinat, yang memberikan pendapat terakhir. Dalam agama Katholik ada bapak 
suci itu. Protestant gak punya gini ginian. Buddha juga kagak.

> ----------------------------------------
> 
LD: Bukan itu pertanyaan saya. Saya ulangi: Kata apa yang ditolak 
dalam perumusan Pembukaan UUD itu? a) Syariah Islam b) Ketuhanan 
Yang Mahaesa.

DH: Lha gampang to? Buka aja kitab sejarah disekolah: yang ditolak ya 7 kata 
syariat itu..
Ketuhanan yang maha dijadikan perumusan, yang kini malah jadi kabur..gimana? 
hapus aja? referendum yuuukk?
 
Salam
 
Danardono
> 




***********************************************************************************
 
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; 
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against 
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.

Sidharta Gautama



                
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hggd8ri/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122996226/A=2896125/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Take
 a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who 
cares about public education</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke