Mbah Danar:
Saya kira tidak mBak. Mengapa? Karena definisi ke Ilahian tiap agama muncul
dalam saat dimana agama itu lahir. Agama Buddha, yang lahir 300an tahun sebelum
Kristus, tak mungkin mengambil alih definisi ke Ilahian Kristiani, yang datang
kemudian, demikian juga Kristiani, telah mendefinisikan ke Ilahiannya, sebelum
Islam muncul.Agama Yahudi mendefinsikan ke Ilahiannya tanpa memasukkan peran
Yesus, karena kala agama Yahudi muncu, Yesus belum lahir. Dst...
Titik tolak juga berbeda. Buddha mendefinisikan keIlahian sebagai omnipresens,
mahaada dan di-mana mana, jadi tak memasalahkan soal hitung-hitungan. Esa, dua
,tiga, adalah hitungan manusia. Keberadaan Ilahi, menurut Buddhismus, diluar
hitungan manusia. Kristiani menggambarkan keIlahian dalam tiga wujud yang
adalah satu. Islam mendefinisikan sama dengan agama Yahudi, simply satu.
Buddhismus lahir diwilayah yang jauh dari wilayah agama agama Semit, jadi
budayanya juga sangat berbeda.
FS:
Keterangan Mbah cukup menarik namun nampaknya Mbah lupa kerangka teori evolusi
agama yang membuktikan bahwa sebenarnya kepercayaan manusia (agama)di dunia
mengalami perubahan dari tahap rendah menuju kesempurnaan, dari animisme sampai
monoteisme (ke-Esa-an). Jika saja, Mbah bilang agama Budha dan lainnya datang
lebih dahulu ketimbang Islam, maka wajar saja sebab agama-agama tersebut
merupakan bagian tidak terlepas dari proses evolusi tersebut menuju
kesempurnaan masing-masing. Sedangkan agama Islam yang datang belakangan
merupakan hasil kesempurnaan proses evolusi tersebut dengan memegang teguh
ke-Esa-an Tuhan.
Kelompok agama agama yang masih bersaudara mengandung perbedaan yang cukup
lebar, apalagi agama agama dari kelompok akar budaya yang begitu berbeda!
Karena itu sulit, menuntut agama agama harus pas pada definisi SATU agama
tertentu
FS: Agama Islam mengakui utusan Allah(para Nabi dan Rasul) yang datang sebelum
Nabi Muhammad SAW. Hanya saja, dalam Alquran tidak secara spesifik disebut satu
persatu dengan nama mereka yang jelas. Beberapa ahli tafsir memberikan dasar
nash dan hadist yang mengakui kenabian mereka, baik yang diutus di wilayah
Timur Tengah maupun wilayah lain, termasuk di dalamnya Si Dharta Gautama, Kong
fu she atau lainnya. Menurut Islam, mereka mengajar (membawa) ajaran Tauhid
(ke-Esa-an). Jika pada tataran praktis di kemudian hari, umat mereka melakukan
pelanggaran dan penyimpangan dari ajaran tauhid, itu hal lain. Tapi yang jelas,
tidak ada perbedaan dalam ajaran yang diutus oleh para nabi dan rasul terdahulu
dengan ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Nah, kita tak usah kita debat debatan mengenai "pluralisme" atau "pluralitas",
kita seua tahu, apa yang dibutuhkan bangsa yang dirundung malang ini, yang
masih papa dan kelaparan ini..
FS:
Dari semua keterangan Mbah, kalimat ini lah yang sepakat dengan pendapat saya.
Kenapa kita harus saling debat tentang fatwa MUI atau hal-hal yang tidak perlu
?. Padahal kita tahu apa yang dibutuhkan bangsa ini...!
FS
Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mbak Lina yang baik, Mbak katakan:
"Kalau memang Tritunggal, Hindu, Budha tak mengakui ke-esaan menurut definisi
Islam yang Tauhid, itu namanya kafir. Tauhid itu gak ada tapinya (juga gak ada
koma). gak bagaimana-bagaimana lagi. Gampang kan? Kebenaran universal itu mudah
dicerna kok."
Semudah itu?
Saya kira tidak mBak. Mengapa? Karena definisi ke Ilahian tiap agama muncul
dalam saat dimana agama itu lahir. Agama Buddha, yang lahir 300an tahun sebelum
Kristus, tak mungkin mengambil alih definisi ke Ilahian Kristiani, yang datang
kemudian, demikian juga Kristiani, telah mendefinisikan ke Ilahiannya, sebelum
Islam muncul.Agama Yahudi mendefinsikan ke Ilahiannya tanpa memasukkan peran
Yesus, karena kala agama Yahudi muncu, Yesus belum lahir. Dst...
Titik tolak juga berbeda. Buddha mendefinisikan keIlahian sebagai omnipresens,
mahaada dan di-mana mana, jadi tak memasalahkan soal hitung-hitungan. Esa, dua
,tiga, adalah hitungan manusia. Keberadaan Ilahi, menurut Buddhismus, diluar
hitungan manusia. Kristiani menggambarkan keIlahian dalam tiga wujud yang
adalah satu. Islam mendefinisikan sama dengan agama Yahudi, simply satu.
Buddhismus lahir diwilayah yang jauh dari wilayah agama agama Semit, jadi
budayanya juga sangat berbeda.
Yahudi, Kristen dan Islam yang masih satu keluarga, saling terkait, saling
mengambil alih ajaran. Pembandingan sejarah adalah mungkin.
Demikian juga Buddhisme, Shintoisme, Lamaisme, masih keluarga, saling terkait.
Pembandingan sejarah juga mungkin.
Kelompok agama agama yang masih bersaudara mengandung perbedaan yang cukup
lebar, apalagi agama agama dari kelompok akar budaya yang begitu berbeda!
Karena itu sulit, menuntut agama agama harus pas pada definisi SATU agama
tertentu.
Setiap agama absolut benar. Bagi pemeluknya masing masing..
Yang ingin saya kemukakan disini adalah faktor historis, bahwa bapak bapak kita
dalam merumuskan kalimat ini, kala itu tidak sedang berdebat theologis, namun
mencari perumusan politis, demi dan bagi keutuhan bangsa yang akan lahir ini.
Beliau beliau tak ada waktu mengurusi kafir atau tidak, ini tidak signifikant
bagi kelahiran negara yang baru..
Karena itu, tak mungkin bapak bapak kita, yang terdiri dari berbagai agama dan
aliran itu, merumuskan kalimat itu keluar dari SATU definisi agama. mengapa?
Karena negara yang akan dilahirkan, adalah agama yang multibudaya dan
multiagama, dimana secara a priori, tak mungkin falsafahnya didasarkan pada
definisi satu agama.
Memaksakan definisi satu agama saat itu, akan meniscayakan kelahiran negara
kesatuan RI yang kita miliki kini.
Kini, generasi muda, generasi penerus hidup, dan akan meneruskan warisan negeri
ini. Merekalah harus memikirkan apa yang penting bagi masa depan negara dan
bangsa.
Bapak bapak yang merumuskan dasar dasar negara, bung Karno, bung Hatta, pak
Yamin, pak Ki Bagus Hadikusumo, pak Ratulangie, dll, sudah wafat.
Tinggal bagaimana kita merumuskan apa yang kita anggap benar bagi kesinambungan
republik ini. Kalau definisi keIlahian menurut Islam yang menjadi landasan
untuk mengerti kata "Esa" itu, seperti kata mBak Lina, maka, mungkin perdebatan
tak berkesudahan seperti dimasa sidang Badan Persiapan Kemerdekaan akan terjadi
lagi. Inipun terjadi dengan akibat deadlock pada Sidang Dewan Konstituante yang
membuahkan dekret presiden Sukarno 5 Juli.
"Kafir" atau tidak, ini bukan pemahaman politis dan kenegaraan, ini pemahaman
theologis. Kesatuan republik ini yang menjadi taruhan.
Ketua Dewan Komisi Fatwa MUI, KH Ma'ruf Amien, menegaskan: "ulama dan teolog
Islam yang ada dalam MUI melihat kemajemukan dan kerukunan umat beragama
merupakan sebuah persoalan paling mendasar yang tidak terbantahkan.
Kemajemukan merupakan sebuah realitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia
sebagai bagian integral dari persatuan dan kesatuan menciptakan NKRI...."
Nah, kita tak usah kita debat debatan mengenai "pluralisme" atau "pluralitas",
kita seua tahu, apa yang dibutuhkan bangsa yang dirundung malang ini, yang
masih papa dan kelaparan ini..
William Shakespeare menulis dalam kisah "Hamlet":
To be, or not to be: that is the question:Whether 'tis nobler in the mind to
sufferThe slings and arrows of outrageous fortune,Or to take arms against a sea
of troubles,And by opposing end them?
Maknanya ialah kita sampai pada titik pemutusan,menentukan "ya" atau "tidak".
Menentukan, apa yang termutlak bagi bangsa ini, memasalahkan akidah antara
manusia beda akidah, atau bergandengan tangan demi kemajemukan bangsa dan Tanah
Air?
Jangan lupa tangis ibu Pertiwi, yang sedang bersusah hati...
Salam Danardono
Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
Kata "KeTuhanan Yang Mahaesa" memang telah dipilih untuk merangkul
semua agama karena memang fitrahnya semua agama akan mengakui makna
sesungguhnya kata tersebut. Itu inti dari ajaran/konsep TAUHID.
Apakah begitu makna yang terdapat dalam TRInitas...:-) terserah
pengertian kita masing-masing deh ya? Ketuhanan Yang Mahaesa itu
berasal dan datang dari syariat Islam.
Memangnya apa sih yang ditolak pada masa persiapan Mukaddimah UUD
1945 tsb? Kalo menurut saya kok pencantuman 7 kata (yg
intinya :menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya?) bukan soal
kata "Ketuhanan Yang Mahaesa". Mereka menolak kata "syariat islam".
Saya pribadi bisa mengerti keberatan bapak2 yang tidak ingin
mencantumkan kata "syariat islam" kedalam sebuah dokumen negara
(UUD) yang menjunjung pluralitas. Namun kenapa sekarang ini ketika
MUI mengeluarkan fatwa (yang memang merupakan proporsi/tugasnya)yang
bersifat kedalam harus dipidanakan karena kebodohan orang
menafsirkan fatwa tsb?
Kalau memang Tritunggal, Hindu, Budha tak mengakui ke-esaan menurut
definisi Islam yang Tauhid, itu namanya kafir. Tauhid itu gak ada
tapinya (juga gak ada koma). gak bagaimana-bagaimana lagi. Gampang
kan? Kebenaran universal itu mudah dicerna kok.
wassalam,
--- In [email protected], Danardono HADINOTO
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
>
> Betul juga bu Lina.
> Kalau ada yang mencoba mengukur agama dgn UUD, ya
> berarti agama yang menyembah 3 oknum Tuhan harus
> dilarang di Indonesia, karena bertentangan dengan sila
> pertama dari Pancasila...:)
>
> DH: Betulkah?
>
> Mari kita kembali kemasa persiapan text Mukkadimah UUD 1945, pada
sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia di-bulan bulan Juni
Juli sampai Agustus 1945.
>
> Kata "KeTuhanan Yang Mahaesa" dipilih, JUSTERU untuk merangkul
semua agama yang kala itu ada di calon negara Indonesia: Islam,
Kristen, Hindu-Bali, Kejawen, Buddha, Konghucu.
>
> Ini adalah alternatif daripada perumusan memakai syariat Islam,
yang ditolak, karena tak mungkin merangkul semua anak bangsa.
>
> Jadi, dalam "keTuhanan yang mahaesa" itu, konsep ajaran Kristiani
SUDAH diterima didalamnya. Kalau tidak, TAK ada RI seperti
seklarang, karena bapak bapak wakil Indonesia timur menolak untuk
menggabungkan diri.
>
> KeTuhanan yang mahaesa, termasuk Kristiani dengan Tritrunggalnya,
Hindu-Bali dengan Brahma Vishnu Shiwa. Juga penganut Tao dan
Konfucius. Buddha tak menggunakan konsep ketuhanan yang dipakai
agama agama Semit, jadi juga tak mengakui keEsa-an menurut definsi
Islam.
>
> Nah bagaimana?
>
> Salam
> Danardono
>
>
>
>
>
>
>
>
*********************************************************************
**************
>
> It is wrong to think that misfortunes come from the east or from
the west;
> they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to
guard against
> misfortunes from the external world and leave the inner mind
uncontrolled.
>
> Sidharta Gautama
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
***********************************************************************************
It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west;
they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against
misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled.
Sidharta Gautama
---------------------------------
Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
Indonesian languages Indonesian language learn Cultural diversity Indonesian
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hs0s160/M=362343.6886681.7839642.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122987369/A=2894352/R=0/SIG=11fdoufgv/*http://www.globalgiving.com/cb/cidi/tsun.html">Help
tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/