Sorry, lama gak nengok milis langsung nimbrung.

Menurut pemahaman saya, pertanian atau pekerjaan manusia itu adalah
muamalah. Niatnya memang ibadah karena segala sesuatu niatan muslim
adalah untuk ibadah (konteks iman), tetapi siyasah dan ilmunya adalah
dinamis, kontekstual, dan harus diusahakan manusia itu sendiri. 

kalau cuma mau dilihat literally dari Quran dan Hadits, ya mandeg
dong.. zamannya Nabi kan blom ada rekayasa biogenetika dsb. Nah ntar
mikir gak ada hukumnya, padahal konteks hukumnya ada. Bagaimana pula
dg nelayan? Apakah Nabi juga mengatur tentang ikan umur berapa yg
boleh ditangkap? Bagaimana jika negara tsb tidak layak lagi ditanami
bahan pangan spt Singapore? Tidak punya ketahanan negara? 

Menurut saya semuanya adalah trade-off berdasarkan strategi yang
disepakati oleh suatu negara. Kalau mau menjadi negara pengekspor
beras, ya stoplah impor kalau perlu penduduk jangan makan beras tapi
kentang, beras produksi kita ekspor saja. 

Kalau mau jadi negara pengekspor minyak, ya dari dulu teknologi
eksplorasi dan eksploitasi itu dipelajari serius dan kalau perlu bikin
strategi spy jml mobil dalam negeri tidak membludak kayak sekarang.
Jadi minyaknya kita jual dan duwitnya kita beliin kereta api.

Kalau mau jadi negara industri, ya lihat dimana competitive advantage
kita trus digenjot disana. Ini yang telah dan sedang dilakukan oleh
Jepang, Amerika, Eropa, Korea, Taiwan, Cina. Dan itu dinamis, mereka
berpindah dari satu stage ke stage berikutnya.. spt flying geese.

Apakah strategi tsb ada di Quran dan sunnah? Spiritnya ya. Tapi
detilnya, saya percaya sabda Nabi yang mengatakan "kamu lebih tahu
urusan duniamu" (maaf kalau redaksinya tidak tepat).
 
Impor beras hanyalah satu tindakan yang bisa dilihat dari berbagai
framework dan detil. Kapan itu mempunyai sisi alasan yang bisa
dijustifikasi, kapan juga itu mempunyai alasan yg tidak kuat atau
strategi yang salah. Kalau soal money politic, gak usah repot2
berdebat soal impor beras, ekspor (jualan) beras juga tetap salah kalo
pake kecurangan. Artinya ya yg salah tetap salah terlepas dari konteks
perbuatannya, dan itu hal yg beda dlm kerangka analisis strategi yg sehat.

Menurut saya yang dilakukan Nabi dg penduduk Yahudi itu adalah suatu
strategi yang sangat pintar. Apakah karena yg melakukannya Yahudi maka
dianggap kaum muslimin tidak punya kepintaran apa2? Saya kira cuma
strategi, pertanian akan optimal jika diusahakan oleh suku tsb,
perdagangan oleh suku lainnya, industri (jaman tsb) oleh kaum mana...
sangat pintar. Kalau dalam konteks ekonomi modern, bisa dilihat gaya
negara2 Barat: imigran pintar diberi prioritas. Dg demikian suatu
negara scr dinamis berkembang mencari strategi optimalnya. 

Mengenai hadits tanah tidak boleh menganggur saya melihatnya bukan
pada literal pertanian, tetapi pada konteks "optimal resource
allocation": efisiensi sumber daya termasuk lahan. Kalau pernah baca
buku Hernando de Soto "Mystery of Capital" maka kita bisa melihat
pentingnya property dalam pembangunan (walau di buku tsb saya kira
terlalu menyederhanakan masalah).

Pengaturan soal ijon, tata niaga dsb adalah suatu strategi buat
mencapai trade off antara efisiensi dan equity (hasil yang maksimal
dan fairness). Dalam konteks ilmu public economics, ini adalah salah
satu sentral issue: dimana peran pemerintah untuk memberikan trade off
antara keuntungan pemodal dan kesejahteraan sosial. 

salam,

fau

--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Ari,
>   sayang sekali, syariat Islam mengatur juga tentang pertanian.
Karena syariat Islam mencakup all aspek. Impor beras bila itu
menghancurkan pertanian dalam negeri maka harus ditolak. Karena itu
terkait dengan ketahanan sebuah negara. apalagi jika impor beras penuh
dengan money politic. Di buku Ekonomi Islam itu bahkan diatur tentang
ijarah (perburuhan) juga. 
>   salam,
>   aris
>   --------------------------------------
>   http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=226508&kat_id=14
>   Memuliakan Pertanian 
> 
> 
> 
> 
>   Begitu mulianya pertanian di mata Islam. Bayangkan, penduduk
Yahudi Khaibar yang memerangi Nabi Muhammad SAW serta negara Madinah
dimaafkan dan tidak sampai terusir dari negerinya hanya lantaran
memiliki kemampuan bertani. Nabi membuat perjanjian bagi hasil
perkebunan kurma dengan mereka, kecuali dengan pemimpin perang dan
yang enggan menyesali pengkhianatannya. (Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim).







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke