On 7/26/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  He he he, saya paling tidak suka diremehkan. Apalagi sebuah kebenaran
> pendapat dikorelasikan usia. Kelihatan banget orang yang memilah kebenaran
> karena usia itu orang yang mempunyai sifat rasa sombong...melihat kebenaran
> dari latar belakangnya.
>

 Aneh tapi nyata. Di mata saya justru Andalah yang meremehkan begitu banyak
manusia mbak Aris. Advokasi Anda atas SI yang mirip cara jual kecap itu
menegasi keberagaman manusia. Entah paham atau tidak, Anda terus
menggemborkannya sampai-sampai saya dalam hati mempertanyakan kepekaan radar
sosial Anda. Semisal joke, bukankah joke itu lucu dn menarik untuk satu dua
kali? Kali yang ketiga sudah perlu dipertanyakan kepekaan rasa Anda. Kali ke
empat mungkin sudah joko sembung-lah.

Kenyataan bahwa Anda bisa nginternet sepanjang waktu menunjukkan kalau Anda
sudah gede, tapi kenapa gede Anda itu tidak menyebabkan Anda cukup kritis
dan realistis membaca? Cerita forwardan Ambon itu cerita gombal untuk
menumbuhkan pemahaman moral anak kecil, sekali lagi anak kecil, lha kok
dibawa ke SI :-( (feel sorry) ? Lagipula, silahkan lihat lagi cerita itu
aslinya kiriman Ambon, masak ada biji salak ujug-ujug jadi biji delima? Ini
saja menunjukkan crita itu tidak dimaksudkan untuk diseriusi.

Percaya nggak, saya pernah ketemu dengan orang semilitant Anda dalam hal
lain, yaitu dalam hal olahdiri Satria Nusantara (SN). Si teman itu berusaha
meyakinkan bahwa apapun bisa terjadi berkat SN. Sekali waktu dia nyerocos
tentang SN ke teman yang Perisai Diri (PD) apa yang terjadi? Well, sesama
militant dilarang saling mendahului bukan? Hampir terjadi bubat kalau saja
tidak dicegah... alih-alih peka sosial, yang ada adalah pekok sosial.

Zo, wat is dan de moraal van het verhaal?

 Gombal.. kenapa tak sekaliyan saja, surga dan neraka itu gombal, SI telah
> diterapkan Nabi Muhammad dan 4 khulafaur rasyidin dan dilanjutkan para
> khalifah. Syariat Islam telah diterapkan selama 14 abad mengusai 2/3 benua
> dunia.Dan semua itu berakhir pada 3 Maret 1924 saat Kekhilafahan Turki
> diruntuhkan...di Anda bisa baca di buku Tarikh Khulafa dan Runtuhnya
> Khilafah Turki Ustmaniyah penerbit Al Kautsar di Gramedia Insya Allah.
>

 Dan semua berantakan bukan? Bacalah mbak Aris, bacalah. Bukankah Anda juga
diminta membaca?
Sekali lagi bacalah. Cari informasi bagaimana kekhalifahan islam Turki
berkontribusi terhadap terjadinya penjajahan modern oleh orang Eropa. Baca.
Baca dan baca. Tentang surga dan neraka, berbahagialah suatu saat nanti kita
semua akan bisa membuktikan sendiri apa dan bagaimananya.

 saya telah menulis ini dan kisah2nya dipostingan2 terdahulu dah lama
> sekali, kemana saja mas Komboi baru bergabung ya....pertanyaan Anda juga
> sudah sangat basi.
>

 Pernahkah mbak Aris melihat nama saya sebelum ini?

Basi iya, itu juga yang saya pahami. Kenapa hal yang sudah basi itu masih
juga luput Anda mengerti?

 Pengen banget sih tau pribadi orang.. apa perlunya.. mau cari-cari
> kelemahan orangkah... sekaliyan nanti nanya pendidikan, latarbelakang
> keluarga dll.
>

 Saya tidak tahu Anda.
Merefer ke forwardan Ambon, bila saja Anda cukup jernih dan kritis dalam
berpikir (nampaknya susah ya), Anda akan mampu memahami text itu dari
kacamata seorang ibu yang sedang mengabarkan pelajaran moral untuk anaknya.
Itu inti pertanyaan saya tentang apakah Anda sudah berkeluarga belum.

Untuk kita, adult, text itu adalah pelajaran moral yang gombal. Kenapa
gombal? Bila Anda lihat saja sistim sosial kontekst cerita itu. Hukum ada di
tangan raja, mengubahnya seperti esuk tahu sore tempe. Apa itu SI yg Anda
gambarkan mbak Aris? Kontekst itu jan blas nggak berbobot. Dan... hal nggak
berbobot itu Anda boboti di luar proporsi. Apa ini salah kebet saja? :-)

 Masalah usia juga pernah saya posting ko dulu...saya juga kurang peduli
> dengan usia Anda, mau sudah kakek, bapak-bapak atau pemuda itu bukan urusan
> saya.
>

 Sekali lagi saya katakan, saya nggak tahu Anda.

Betapapun,ada yang menarik dari Anda mbak Aris, sampai-sampai di salah satu
tulisan pernah saya katakan kalau saya akan dengan senang hati memiliki Anda
sebagai tetangga. Itu masih berlaku lho. Saya baca ada kejujuran innocent
yang Anda tampilkan. Modal bagus sesungguhnya. Akan bisa lebih bagus bila
bisa dimatangkan dengan kepekaan sosial.

Begitu saja dulu.

Komboi


> Salam,
> aris
>
>
> *Yohanis Komboi <[EMAIL PROTECTED]> *wrote:
>
> Mbak Aris,
>
> Anda kan sudah gede, masak masih percaya cerita gombal yang membedakan
> biji
> saja tidak bisa? C'monlah.
>
> Satu pertanyaan saya yg sudah basi. Dimana sih ada kisah sukses SI seperti
>
> yang mbak Aris impikan?
>
> Pertanyaan private mbak (jawaban boleh dikirim secara JAPRI), apakah Anda
> sudah berkeluarga?
>
> Salam,
>
> Komboi
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke