Substansi demokrasi nggak lain nggak bukan adalah kedaulatan rakyat. 
Agak aneh rasanya kalau mengharamkan kedaulatan secara menyeluruh 
hanya gara-gara istilah 'demos kratos' lahir di Yunani. Biar sajalah. 
Toh berdaulatnya orang banyak bukan cuma ada di Yunani. 

Di tanah Jawa, masyarakatnya pernah mengenal aksi pepe (jemur badan) 
di alunalun untuk memprotes kebijakan istana. Dari kacamata 
demokrasi aksi ini identik saja dengan demonstrasi yang kita kenal 
sekarang, yang berpanas-panas di jalanan. Bukan tidak mungkin daerah 
lain di nusantara juga mengenal bentuk-bentuk kedaulatannya masing-
masing. Kalau tidak, mustahil falsafah masyarakat nusantara 
terumuskan dalam sila butir ke-4. Silakan para antropolog menggali & 
mengangkatnya ke permukaan.

Sia-sia juga membenturkan istilah 'demokrasi' dengan 'musyawarah'. 
Sebab, keduanya sama-sama berprinsip kepada berdaulatnya masyarakat. 
Hanya saja teknis & pelaksanaannya berbeda. Karena pengalaman 
sejarahnya, bangsa Barat lebih memahami gaya gerudukan, keroyokan, 
kuat-kuatan, dalam menegakkan kekuasaan. Oleh karena itu, mereka 
lebih memahami cara voting (adu banyak suara) sebagai penghalus 
konflik kekuatan. Sedangkan bangsa Timur, umumnya memahami penegakan 
kedaulatan berdasarkan kearifan & kebijaksanaan. Itu sebabnya 
pengambilan keputusan ditempuh dengan cara berembug / bermusyawarah 
untuk memenangkan akal sehat. Bukan untuk memenangkan kelompok yang 
kuat. 

'Demokrasi' seolah menjadi istilah baku kedaulatan-rakyat karena 
memang istilah itulah yang dipahami Barat. Mereka tidak mengenal 
- dengan sendirinya tidak mengakui - cara lain untuk mewujudkan 
kedaulatan masyarakat. Sebagai pihak yang mendominasi dunia, wajar 
saja kalau Barat memaksakan adu banyak suara sebagai pengertian 
tunggal 'demokrasi'. Dan itu memang kelebihan dari kebodohan & 
kecongkakkan Barat. 

Padahal, kalau kita mau berlapang-dada, maka kedaulatan rakyat 
bisa dipetakan sebagai wujud demokrasi yang ditempuh dengan 
dua cara. Yakni, cara adu banyak suara maupun cara musyawarah. 
Jadi, voting hanyalah cara dalam berdemokrasi. Begitu juga dengan 
musyawarah, ia samasekali bukan lawan dari demokrasi (kedaulatan rakyat). 

Cara voting pun sebenarnya mengenal musyawarah. Hanya saja orang 
Barat masih gagap mengucap "musyawarah" dan lebih fasih mengucapkan 
"lobby". Walau konotasi "lobby" lebih ke permainan pengaruh, namun 
esensinya adalah mencapai kemufakatan juga (untuk memenangkan suara 
terbanyak). 


--- habe arifin <habearifin@...> wrote: 
>
> Demokrasi, Iran juga pake. Seluruh dunia pake. Sebagian kecil yg 
> tidak.
> 
> Soal benar atau baik: relatif. Dari sdut mana kita melihatnya. 






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke