sepanjang pengetahuan saya, pembeli itu bukan raja.
sebagai penjual, kita tidak mungkin dapat melayani semua jenis pembeli.
lexus, tidak dijual untuk kelas nya uplik atau item abu.
lexus memiliki struktur harga yang diluar kemampuan dompet item abu
lexus tidak dibuat untuk memenuhi harapan item abu
karena bagi item abu, seekor kijang pun sudah mobil mewah.

pembeli bukan raja. 
tak perlu dilayani seenak udel nya pembeli.
apalagi jenis atawa tipikal pembeli seperti item abu.
kalau perlu, starbuck bikin plang :"item abu dan uplik dilarang masuk! "

pasar sekarang bergerak dari 'lumagada" (lu mau gua ada) menjadi specialis . . 
dan sekarang bergerak menjadi partnership.

your business partner. . . 

pembeli adalah mitra dari si penjual. dalam konteks waralaba, si penjual pun 
adalah mitra dari pemilik merk atau system, pemilik system juga adalah mitra 
para pemilik sayah dan hubungan pembeli . . . stake holder. . . karyawan . . 
adalah partnership. 

pembeli punya keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi, karyawan punya 
keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi dan stakeholder juga punya 
keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi.

dalam konteks pengalaman bete di mini market starmart, sikap pelayan toko yang 
tidak ramah kemungkinan besar adalah dampak dari tidak dipenuhi nya kebutuhan 
dan keinginan karyawan oleh stake holder. mungkin gaji nya terlalu kecil. . . 
mungkin pelatihannya sangat minim. . . mungkin sistem nya kurang berjalan baik. 
. . sehingga karyawan tidak berlaku ramah pada pembeli. 

padahal, pembeli datang tidak hanya butuh secangkir kopi. tapi juga butuh 
pelayanan yang ramah.

service. brand. itu yang dibeli 
bukan sekedar produk.

--- In [email protected], "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:
>
> 
> 
> --- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> >
> > 
> > Lucu memang kalau ketemu penjual yang tidak lagi 
> > menghormati pembeli sebagai raja. 
> > 
> 
> 
> Penjual ini sudah menghormati pembeli sebagai raja.
> Tapi, gimana kalo pembelinya 'kurang ajar' kayak doi?
> 
> http://youtube.com/watch?v=Q5mHPo2yDG8
> 
> 
> 
> 
> > Lebih lucu lagi, dunia perniagaan sekarang selain 
> > menjual barang (dan jasa) juga berjual-beli uang. 
> > Tambah lucu, setelah uang jadi mata dagangan, 
> > selanjutnya giliran pelayanan ikut dijadikan jualan. 
> > 
> > Ya, jualan. Karena layanan diperlakukan bukan sebagai 
> > pelaksanaan kredo "pembeli adalah raja" tapi 
> > sebagai strategi mendongkrak penjualan. Biaya untuk 
> > melatih sales tampil menarik, merendahkan suara dan 
> > tetap senyum kendati ada pelanggan protes, dibebankan 
> > ke harga barang. 
> > 
> > Setelah hasil penjualan dengan layanan profesional ini 
> > mencapai titik jenuh, giliran merk diutak-atik 
> > menjadi strategi baru. Dan, hampir 30 tahun ini merk 
> > jauh lebih penting dari barang yang dijual. 
> > 
> > Kenapa begitu? Karena pada tahap ini merk bukan lagi 
> > sekedar penanda barang dan kualitas layanan, tapi memberi 
> > pengaruh pada gaya hidup, penampilan, budaya, bahkan 
> > status sosial konsumen. 
> > 
> > Pemakai merk produk olahraga misalnya, akan terlihat 
> > sebagai orang yang bergaya hidup sehat. Bahwa dia cuma 
> > kuat jogging satu putaran lapangan bola, itu soal lain. 
> > 
> > Begitu juga merk desainer kondang, bisa menunjukkan si 
> > pemakai adalah orang yang memperhatikan penampilan.
> > Lalu, merk tempat nongkrong, bisa mengesankan dia berbudaya 
> > dugem, penikmat kopi sejati, maupun pelahap racikan resep 
> > kelas dunia. 
> > 
> > Selain itu, kombinasi merk sepatu, kendaraan, sampai 
> > perumahan, bisa menjadi penanda status sosialnya. 
> > Singkat kata, merk sudah menjelma menjadi simbol status 
> > pemakainya. Dan, tentu saja ada harga yang harus dibayar 
> > untuk semua itu. 
> > 
> > Nggak masalah samasekali selama kita butuh barangnya, 
> > bukan kepingin merknya. 
> > 
> > Yang perlu diwaspadai dari jualan simbol status ini ya 
> > jangan sampai membeli sesuatu yang kita tidak butuh. 
> > Sebab, itu sama saja kita kasih uang dengan percuma ke 
> > para pemilik merk yang kaya-raya itu. Menggarami laut. 
> > 
> > http://www.youtube.com/watch_popup?v=um0IViziU9w&vq=large
> > 
> > 
> > --- "pinpinyuliansyah" <pinpinyuliansyah@> wrote:
> > 
> > > service not product.
> > > itu satu prinsip yang saya pahami dalam marketing.
> > > 
> > > berikutnya adalah :"brand, not product"
> > > 
> > > setelah dibuat bete oleh pelayanan mini market starmart di reat 
> > > area, detik ini, saat saya nge prol, saya lagi bawa anak anak makan 
> > > di papa rons pizza.
> > > 
> > > brand, not product. orang beli marlboro, bukan beli rokok. beli 
> > > levis, bukan beli celana jeans, beli pepsodent, bukan beli pasta 
> > > gigi, beli papa rons, bukan beli pizza, johny beli toyota baru, 
> > > bukan beli mobil.
> > > 
> > > proletar tidak hanya bisa memberi dampak seseorang seperti johny 
> > > jadi tertarik membeli apartemen, namun juga bisa jadi sosial media 
> > > yang ampuh untuk meningkatkan pelayanan yang baik bagi para pelaku 
> > > bisnis.
> > > 
> > > pengalaman yang buruk saat saya berkunjung ke mini market starmart, 
> > > cerita tentang pisang molen kartika sari yang menarik hati, atau 
> > > betapa menggoda nya sambel jawa bagi habe, itu bisa memberi dampak 
> > > ataa tingkah laku manusia si dunia nyata. sama seperti bagaimana 
> > > uplik bisa memenjarakan alex aan padahal uplik ada di belanda dan 
> > > alex aan ada di padang.
> > > 
> > > ini tahun 2013.
> > > ini jaman tekhnologi informasi.
> > > 
> > > dan pengalaman buruk seseorang di berbagai perusahaan jasa akan 
> > > dengan sangat mudah di upload di social media dan dibaca oleh 
> > > sekian banyak pembaca.
> > > 
> > > kalau harga merk coca-cola bisa bernilai juta juta dollar . . . 
> > > 
> > > kira - kira . . . berapa nilai waralaba sebuah minimarket yang 
> > > tidak mempedulikan senyum, salam, dan sapa ? 
> > > 
> > > tak ada nilai.
> > > 
> > > bukan pilihan.investaai yang bagus.
> > > 
> > > kecuali mereka cepat memperbaiki diri dengan diantaranya membuat 
> > > sistem.pelatihan yang baik bagi para karyawannya agar memahami 
> > > bahwa yang dibeli konsumen itu bukan semata mata produk. namun 
> > > service. merk.
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke