Kalau bangsa lain bisa bilang ideologi & budayanya adalah 
yang terbaik (sampai harus diekspor dengan penjajahan gaya baru 
& gaya lama) kenapa kita tidak boleh bilang hal yang sama 
untuk tetap survive? 

Menyerap, mengolah, dan melahirkan bentuk baru yang cocok 
dengan kebutuhan, itulah yang dilakukan orang dewasa. Dewasa 
bukan dalam ukuran usia tapi berdasar kecerdasan dalam 
berinteraksi dengan situasi yang berlangsung di sekitar. 

Sekarang ini banyak anak muda yang sadar tentang apa yang 
sedang terjadi, tetapi baru beberapa gelintir yang punya cukup 
kemauan & kemampuan untuk beraksi dengan cerdas. Selebihnya 
masih bersifat reaktif atau ikut-ikutan (niru). 

Meniru memang langkah awal yang alamiah. Semua bayi melakukan itu. 
Sedangkan founding fathers & mothers Indonesia 70-90 tahun lalu 
tidak meniru cara pandang berikut perilaku penjajah sekalipun 
mengenyam pendidikan Belanda & Jepang. 

Mereka betul-betul memanfaatkan pendidikan yang mereka dapat 
untuk membuka pikiran & menggugah kesadaran, lalu mengolah situasi, 
dan akhirnya melahirkan sesuatu yang baru: Indonesia. 

Mereka bukan bicara negara, bukan bicara teritorial, tapi 
pertama-tama yang mereka bicarakan adalah bangsa(-bangsa) dan 
ke'Indonesia'annya. 

Artinya, bicara tentang budaya, cara pandang, ideologi bangsa. Artinya lagi, 
kalau kaum materialisme memandang negara / state 
adalah badan, cangkang dari suatu bangsa, maka emak-bapak, 
ncang-ncing, jojaro deng mongare kita doeloe itoe sangat yakin 
bahwa bangsa adalah ruh / jiwa / spiritnya. 

Singkatnya, ketika Indonesia lahir, ia muncul di panggung dunia 
sebagai negara bayi yang punya kepercayaan diri. 

Nah, hampir 100 tahun kemudian, apa wawan sekarang juga se-pede 
mereka atau masih mengira-ngira bahwa wawan 'tidak' hanya meniru?  


--- "wawan" <selarasmilis@...> wrote:

> saya kira saya tidak hanya meniru filsafat materialisme, karena 
> saya juga mengembangkannya dan exchange opinion dng siapa saja 
> (lintas negara)
> 
> kalau kang dipo masih menganggap ideologi/budaya sendiri masih yg 
> terbaik, saya kira kang dipo masih terkena penyakit nasionalisme 
> chauvinisme...
> 
> saya kira, kemajuan justru dicapai dengan dialektika budaya...
> bukan chauvinisme nasionalisme budaya...
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> 
> > Bisa lebih liberal lagi dari Pancasila? Silakan saja. 
> > Tebakan saya paling cuma meniru negara lain lalu beralih 
> > ke "tuhan" materialisme. 
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke