Omongan orang gila...

Soekarno juga ngutip Renan, antara lain, ketika dia bicara tentang nasionalisme.

Lagian nama Indonesia juga bukan bikinanorang Indonesia.

Pergilah ke psikiater Dipo.

Anda jelas sudah gila.

Terus menerus unjuk isi otak anda yang sudah rusak dan jadi busuk, nista lagi 
menjijikkan sungguh tidak ada gunanya.

Hanya psikiater yang bisa menolong anda. 

Soal biaya akan saya tolong.

--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Kalau bangsa lain bisa bilang ideologi & budayanya adalah 
> yang terbaik (sampai harus diekspor dengan penjajahan gaya baru 
> & gaya lama) kenapa kita tidak boleh bilang hal yang sama 
> untuk tetap survive? 
> 
> Menyerap, mengolah, dan melahirkan bentuk baru yang cocok 
> dengan kebutuhan, itulah yang dilakukan orang dewasa. Dewasa 
> bukan dalam ukuran usia tapi berdasar kecerdasan dalam 
> berinteraksi dengan situasi yang berlangsung di sekitar. 
> 
> Sekarang ini banyak anak muda yang sadar tentang apa yang 
> sedang terjadi, tetapi baru beberapa gelintir yang punya cukup 
> kemauan & kemampuan untuk beraksi dengan cerdas. Selebihnya 
> masih bersifat reaktif atau ikut-ikutan (niru). 
> 
> Meniru memang langkah awal yang alamiah. Semua bayi melakukan itu. 
> Sedangkan founding fathers & mothers Indonesia 70-90 tahun lalu 
> tidak meniru cara pandang berikut perilaku penjajah sekalipun 
> mengenyam pendidikan Belanda & Jepang. 
> 
> Mereka betul-betul memanfaatkan pendidikan yang mereka dapat 
> untuk membuka pikiran & menggugah kesadaran, lalu mengolah situasi, 
> dan akhirnya melahirkan sesuatu yang baru: Indonesia. 
> 
> Mereka bukan bicara negara, bukan bicara teritorial, tapi 
> pertama-tama yang mereka bicarakan adalah bangsa(-bangsa) dan 
> ke'Indonesia'annya. 
> 
> Artinya, bicara tentang budaya, cara pandang, ideologi bangsa. Artinya lagi, 
> kalau kaum materialisme memandang negara / state 
> adalah badan, cangkang dari suatu bangsa, maka emak-bapak, 
> ncang-ncing, jojaro deng mongare kita doeloe itoe sangat yakin 
> bahwa bangsa adalah ruh / jiwa / spiritnya. 
> 
> Singkatnya, ketika Indonesia lahir, ia muncul di panggung dunia 
> sebagai negara bayi yang punya kepercayaan diri. 
> 
> Nah, hampir 100 tahun kemudian, apa wawan sekarang juga se-pede 
> mereka atau masih mengira-ngira bahwa wawan 'tidak' hanya meniru?  
> 
> 
> --- "wawan" <selarasmilis@> wrote:
> 
> > saya kira saya tidak hanya meniru filsafat materialisme, karena 
> > saya juga mengembangkannya dan exchange opinion dng siapa saja 
> > (lintas negara)
> > 
> > kalau kang dipo masih menganggap ideologi/budaya sendiri masih yg 
> > terbaik, saya kira kang dipo masih terkena penyakit nasionalisme 
> > chauvinisme...
> > 
> > saya kira, kemajuan justru dicapai dengan dialektika budaya...
> > bukan chauvinisme nasionalisme budaya...
> > 
> > --- "ajeg" <ajegilelu@> wrote:
> > 
> > > Bisa lebih liberal lagi dari Pancasila? Silakan saja. 
> > > Tebakan saya paling cuma meniru negara lain lalu beralih 
> > > ke "tuhan" materialisme. 
> > >
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke