Assalamu'alaikum wr.wb.,

Lembang Alam
                                                     

27.     HARI TERAKHIR DI MAKKAH 

Tidur saya tidak nyenyak semalam. Malam terakhir di
Makkah. Tadi malam sekitar jam sepuluh petugas
penyelenggara menimbang berat koper-koper kami. Konon
perusahaan Penerbangan Saudia sangat ketat sekali
dalam memberikan izin utuk kelebihan berat barang.
Jadi untuk tertib dan bukti  siapa yang punya barang
lebih maka semua bagasi perlu ditimbang. Bagi kami
tidak ada masalah, insya Allah. Jumlah berat barang
kami masih dibawah kuota.  Pagi-pagi sebelum shalat
subuh barang-barang ini ditarok di luar kamar, siap
untuk dibawa turun nanti dibawah urusan penyelenggara.


Saya selalu berangkat duluan ke mesjid sejak istri
saya bisa pergi bertiga dengan si Sulung dan si
Tengah. Dan pagi ini mudah-mudahan si Bungsupun akan
bisa ikut pergi shalat. Karena dia tidak shalat sejak
hari terakhir di Mina. Dan pagi ini saya ke tempat
favorit. Perlu juga bernostalgia-nostalgia. Shalat
seperti subuh kemarin. Berzikir seperti subuh kemarin.
Berdoa seperti subuh kemarin.  Apa lagi yang dapat
saya ceritakan tentang kesyahduan? Tentang kebersamaan
yang sunyi? Tentang ka�bah yang anggun ditutupi kiswah
hitam? Tentang pancoran emas? Tentang jamaah yang
tiada henti-hentinya thawaf bahkan di pagi buta ini
sekalipun? Apa lagi yang dapat saya ceritakan tentang
azan yang mendayu dengan suara dan irama yang khas
yang dihantarkan oleh sistim suara yang prima? 
Tentang jamaah yang mengatur barisan tatkala shalat
sunah fajar atau qabliyah subuh itu? Apa lagi yang
dapat saya ceritakan tentang wajah-wajah tirus
dibungkus sorban besar di kepala yang menatap sendu ke
tempat sujud? Tentang bacaan imam yang  menyejukkan?
Apa lagi? Apa lagi yang dapat diceritakan tentang mata
yang berkaca-kaca, nafas yang tertahan? Bahkan ketika
imam membaca, �hdinashshiraathal mustaqiiim,
shiraathallatziina an�am ta �alaihim, ghairil
maghdhuubi �alaihim, waladhdhaaaaaaaalliiiiin.

Hampir selesai sudah. Hampir habis waktu. Iya kalau
nanti Allah berkenan mengizinkan kembali. Berziarah
kesini. Untuk shalat disini. Untuk thawaf dan sa�i
lagi disini. Ya Allah, Maha Suci Engkau. Maha
Bijaksana Engkau. Engkau perintahkan kami untuk
berkonvensi akbar di tempat yang Engkau pilih ini. Ya
Allah lembutkanlah hati-hati kami, ketika kami sampai
dengan izin Engkau di kampung kami nanti, untuk tetap
ikhlas dan khusyuk menghadapkan wajah kami ke arah
bait Mu ini. Ya Allah persatukanlah hati kami dalam
iman yang lurus dan teguh kepadaMu. Ya Rabb, ya Rabb,
ya Rabbul �alamiin, jadikanlah kami hamba-hamba Engkau
yang pandai bersyukur kepadaMu. Atas semua nikmat ini.
Atas semua kemudahan ini. Atas segala rahmat Engkau.
Ya Allah terimalah amalan yang sedikit ini, ampuni ya
Allah, kekurangannya, kekeliruannya. Ya Allah, izinkan
ya Allah hamba bertemu lagi dengan rumah suci Mu ini
nanti.

Saya tarik langkah menuju hotel. Sambil menunduk
menyembunyikan mata yang mungkin saja agak bengkak.
Saya hitung langkah, saya hitung tarikan nafas. Sampai
ke kamar hotel. 

Si Bungsu yang mula-mula bertanya haru. �Bagaimana ini
papa? Tadi saya tidak jadi pergi shalat
subuh........,� katanya tertahan. Ya, bagaimana ini?
Maksudnya, dia tentu juga ingin thawaf wada�. 

�Sudah berapa hari kamu tidak shalat?� tanya saya.

�Ini hari ketujuh,� jawabnya.

�Berapa hari biasanya kamu libur?� tanya saya.

�Tidak tentu. Kadang-kadang lima hari, kadang-kadang
enam hari, kadang-kadang tujuh hari,�jawabnya.

�Begini saja. Papa bukan mau sok pintar di hadapan
Allah. Memohonlah kepada Allah agar kamu disucikanNya.
Papapun akan mendoakan kamu. Kalau kamu bersih, sampai
kita mau berangkat thawaf jam setengah sebelas nati
kamu ikut. Kalau tidak, kamu harus bersabar. Insya
Allah tidak ada beban bagimu karena tidak thawaf wada�
dan nanti papa temani kamu untuk memandang ka�bah dari
pintu mesjid, sebagai perpisahan, sebelum berangkat.� 

Saya berdiri di jendela, memandang burung-burung elang
yang terbang berputar-putar. Memandang merpati-merpati
yang pindah dari bangunan yang satu ke bangunan yang
lain. Memandang lalu lintas hamba-hamba Allah di bawah
sana. Indah sekali. Memandang menyamping di kaca
jendela ke arah Masjidil Haram untuk melihat sebagian
atapnya yang putih. Dan menara-menara mesjid yang
berdiri kokoh. Yang hanya terlihat sesudut saja karena
terhalang oleh dinding bangunan ini. Memandang jauh ke
seberang sana ke arah bangunan-bangunan yang
berpacu-pacu dengan kaki bukit batu. Indah sekali.
Negeri yang didoakan oleh nabi Ibrahim agar
penduduknya diberi rezeki dengan buah-buahan oleh
Allah, ini. Dan doa nabi Ibrahim itu dikabulkan oleh
Allah. Wattiini wazzaituun. Wathuurisiiniin. Wa hatzal
baladil amiin. (Demi buah tiin dan zaitun. Demi bukit
thursina. Dan negeri yang aman ini.)

Si Sulung sedang mengaji pada bagian akhir juz amma.
Istri saya sedang mengemasi pernak-pernik kecil yang
masih belum beres. Dibantu si Tengah dan si Bungsu.
Koper-koper kami sudah diangkat ke bawah ke lobby
hotel. Tinggal beberapa barang tentengan yang akan
kami bawa sendiri nanti. Termasuk jeriken putih 20
liter tempat zam-zam yang akan saya angkat sendiri
nanti insya Allah. Saya suruh si Tengah menuliskan
nama kakeknya dengan spidol hitam di jeriken itu.
Sekedar untuk tanda biar tidak tertukar.

Dan kami menanti pukul setengah sepuluh. Waktu kami
untuk turun dan pergi ke mesjid. Untuk mengerjakan
thawaf wada�. 

                        ****



=====

St. Lembang Alam



__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.
http://taxes.yahoo.com/filing.html
____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net
____________________________________________________

Kirim email ke