Jauh bajalan, banyak diliek, banyak pulo pengalaman dan ilmu yg berharga bisa diraih ,
hari ahad kapatang, ambo mahota lamo yo da Adrisman , nan lah jauh bajalan ke seantero dunia, dan kini bermukim di texas , amrik, kebetulan kemarin beliau ada di bandung di rumah rang gaeknyo. salah satu cerita yg menarik bagi ambo ,ialah mengenai Jaringan orang2 india di seantero dunia, khususnya di amerika dalam bidang bisnis IT ( Information technology ) Kerala dan Karnataka, dua negara bagian di selatan India , adalah daerah yg penduduknya banyak pergi merantau ke berbagai penjuru dunia , yah dalam skala kecil mungkin rada mirip dg ranah minang kira2. Bangalore, ibukota Karnataka, adalah salah satu pusat outsourching bisnis IT terbesar di dunia. tapi ba'a pulo caritonyo kok bisa bantuak itu jadinyo, dan apo pelajaran bagi awak ? Para pemuda Kerala sejak dulu sudah terkenal senang merantau , dan salah satu hal yg menyebabkan demikian ialah bahwa para perantau india yg telah pergi dahulu, baik telah bekerja atau sekolah , selalu mau membantu , menerima para perantau muda tsb , walaupun hanya sekedar bekerja sbg pencuci piring di restoran di amerika. sikap saling bantu di antara mereka cukup kuat, dan pada sisi lain, para pemudanya memiliki semangat merantau dan semangat maju yg tinggi pula , serta berani hidup susah dulu di rantau. Untuk tahap awal biasanya mereka merantau ke negara dekat spt Malaysia, singapura, thailand, china, indonesia dll , ke sana lah para pemuda tsb sekolah atau hanya bekerja kasar pada berbagai jaringan bisnis orang India . ( Untuk di Indonesia, kasus ribuan expart asing asal india yg bekerja di Texmaco - subang , adalah salah satu contohnya ) bisa juga dg sekolah semisal di AIT Bangkok, atau AIM , Manila, selepas dari sana ( merantau di negara dekat ), mereka tak kembali ke India, tapi mencari kerja atau melanjutkan sekolah ke negara maju spt Amerika, Inggris, Australia dll Sehingga akhirnya di silicon valley , pusat bisnis IT amerika, banyak terdapat expert IT dari India, yg mau bekerja dulu dg upah rendah. Demikian lah pula , pola yg sama pada berbagai negara maju lainnya. di negara teluk , spt Kuwait, Qatar dll, pekerja india sangat banyak ( kalau orang indonesia yg banyak pembantu rumah tangga ) setelah berjalan hampir belasan / puluhan tahun, akhirnya terbentuklah jaringan yg kuat dari para pekerja india yg tersebar di berbagai penjuru dunia tsb , dan mereka masih ingat dg kampuang halaman nya. mereka yg sekolah di amerika atau inggris ketika liburaan , pulang ke India dan memberikan pencerahan/sharing ttg kemajuan bisnis dan teknologi di sekolah2/universitas di India , hal tsb memotivasi para anak sekolah untuk pergi merantau jauh juga. Setelah jaringan nya kuat dan memiliki expertise / keahlian yg tinggi dalam bidang tertentu , mereka mulai membuat rencana besar untuk membangun bisnis serupa di kampuang halaman nya , India. Para pekerja IT di amerika , sebagian pulang ke india dan membangun bisnis IT di sana , sebagian masih kerja di amerika . Nah dari sanalah bermula , semacam IT Industrial Park di Bangalore yg terkenal itu , padahal bangalore bukanlah kota besar spt bombay atau new delhi , mungkin kalau di indonesia bisa mirip kota padang atau bukittinggi , kira2. Setelah terbangun fasilitas IT park yg lengkap dg bantuan pemerintah setempat, mulailah datang berbagai peluang outsourching kerjaan IT dari luar negeri, setidaknya dari asal perusahaan mereka dulu , setidaknya mereka telah percaya pada skill mereka. sebuah kerjaan yg kalau di silicon valley dikerjakan dg biaya , misal 1000 USD, bisa dikerjakan di bangalore dg biaya 500 USD , dg skill yg sama ( lha wong , dia juga yg dulu kerja di amrik sana ) Demikianlah akhirnya Bangalore maju dan mengimbas pula pada berbagai kota lain di negara bagian tsb, dan itu semua tak lepas dari peranan jaringan para pekerja/pebisnis India yg tersebar di berbagai penjuru dunia. Belajar dari hal tsb, sebenarnya tak mustahil para perantau minang bisa pula melakukan hal yg sama , setidaknya sudah ada komunitas kecil para perantau minang yg tersebar di berbagai penjuru dunia , seandainya mereka mau membantu para pemuda perantau baru , untuk sekolah atau bekerja kasar di negeri asing tsb , itu adalah langkah awal yg bagus , istilah bisnisnya membangun jaringan labour supply skill menengah ( pemasok tenaga kerja ) misalnya para mahasiswa minang yg kemarin sempat berkumpul di yogya ( Aulia posteria cs ) , sekitar 50 orang pergi sekolah dan bekerja ke berbagai penjuru dunia , 5 - 10 th kemudian mereka telah memegang peranan , dan bisa membawa para pemuda perantau minang lain nya , 10 tahun lagi kita telah memiliki jaringan para perantau minang di seluruh dunia yg kuat . mungkin juga bisa seperti pola Ari Noviandi, dunsanak awak salah seorang perintis RN , setelah sekolah di Perguruan tinggi di Indonesia, kerja di PMA ( Schlumberger ) , kemudian bekerja di Schlumberger Amerika ( kebetulan di houston pulo, dakek tampek da Ad ), kemudian setelah sekian tahun pulang ke Indonesia. ada sekitar 50 org pemuda spt beliau , telah bisa dibuat jaringan yg kuat bisa juga dg pola pekerja terampil, misal para dunsanak ahli minyak di caltex , bisa dapat link bekerja di perusahaan minyak di negara timur tengah misalnya , akan membentuk sebuah komunitas expatriat minang di sana, yg pada giliran nya kelak bisa pula membawa para pekerja /pebisnis/pemuda minang lain nya. Berkaca pada kisah perantau india tsb , misal 10 -15 th lagi para perantau tsb , membawa pekerjaan outsourching ke ranah minang , semisal outsourching/subkontrak untuk kerjaan IT , akan membuka lapangan kerja dan peluang bisnis yg besar. semisal di Padang atau bukittinggi , kita bisa membangun semacam IT Park , seperti yg dibangun di bangalore India , kemudian para pekerja , expat minang yg bekerja di berbagai penjuru dunia tsb, sebagian pulang , dan sebagian masih di sana, memasok kerjaan2 , subkontrak/outsourching , utk dikerjakan di IT Park tsb , akan menjadi sebuah bisnis yg sangat layak , dan betapa banyak bisa di create lapangan kerja baru di sumatera barat , misalnya. mungkin sebuah mimpi yg agak muskil , tapi ambo kiro indak mustahil bana, da Adrisman sendiri , melihatnya masih masuk akal, dan sebagai langkah awal dari hota kemarin , mungkin bisa dimulai dg membuat semacam labour supply agency , bagi para expertise minang, atau para pemuda pemberani , yg mau bekerja apa saja di negara asing. da Ad bilang, ada dunsanak di Qatar yg memberikan info peluang kerja di sana , tapi mungkin bagi kita masih bingung spt apa jalurnya , begitu pula ada berbagai peluang di australia, atau yg dekat di malaysia / singapura Dengan sementara memanfaatkan link para perantau minang yg jadi member di rantaunet ini misalnya , mungkin sudah bisa dimulai jaringan kecil , untuk labour supply skala kecil pada beberapa negara. setahap demi setahap berkembang tak mustahil 10 tahun lagi kita telah memiliki jaringan para pekerja/ pebisnis minang di berbagai negara, yg pada saatnya kelak akan menjadi supply informasi ataupun peluang bisnis bagi usaha yg dikembangkan di sumatera barat , contohnya. Pada satu sisi , bisa dibuka peluang kerja/bisnis di luar negeri dan pada saatnya kelak akan membawa peluang investasi atau bisnis pula di ranah minang , yg akan juga membuka lapangan kerja baru di sumbar. Mungkin agak naif, tapi kalau ingin maju memang harus agak berani, setidaknya berani berpikir beda.terbukti para perantau miskin dari kerala india selatan, setelah sekian tahun , akhirnya bisa meningkatkan kemajuan negerinya , tak salah bila orang minang pun mencobanya. wassalam Hendra Messa Pulau gaduang, parak barasok ____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net ____________________________________________________
