Kayanya terlalu disimplifikasi yah,
Apakah krn org jawa sering menggunakan kata "nek", mereka memang - rata2
oragnnya terlalu banyak pertimbangan?
Seaya pernah baca, bahwa sekian puluh persen bule itu suka mengawali
kalimatnya dengan "I think ..." Apakah artinya orang Barat kerjanya cuma mikir
doang?
Nah, apalagi kalau dikaitkan dengan bukti. Lihatlah sekeliling anda, lihat di
kabinet, orang mana yg banyak? apa bener orang Batak spt yg diidentifikasi dari
"riset" tsb.bahwa "pencapaian rata-rata orang Jawa kalah bila dibanding etnis
lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang Batak, apalagi dengan
keturunan Tionghoa".
.Ngikutin rame2 tentang DKP kan? Nah, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS itu orang
Cirebon; antara Jawa dan Sunda. Apakah dia pasrah atau "gimana nanti aja?". Not
at all, puluhan orang sekarang pusing gara2 dia. Bahkan termasuk seorang Rektor
Unand pun terpaksa sibuk "ngeles" dengan alasan yang terlalu lucu ...
Riri
Khairul Yanis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kutipan dari milis sebelah tentang mentalitas suku tetangga kita.
Bagaimanakah dengan suku minangkabau?
Salam,
KY
---------- Forwarded message ----------
From: said sungkar <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 27-May-2007 12:36
Subject: [IYE!] Mentalitas Jawa dan Sunda
To: [EMAIL PROTECTED]
Oleh : Zaim Uchrowi
''Indonesia sulit maju,'' kata seorang teman. ''Kenapa?'' tanya saya.
''Sebab, lebih dari 70 persen penduduknya adalah Jawa dan Sunda,'' jawabnya.
Saya ternganga, sampai ia menjelaskan lebih lanjut.
Menurutnya, mentalitas orang Jawa dan orang Sunda bukan mentalitas orang yang
siap maju. Hal itu terlihat dari ungkapan yang banyak dipakai orang-orang dari
kedua suku ini. Orang-orang Jawa disebutnya sering menyebut kata ''nek'' atau
''gek'', yang berarti ''kalau'' sebagai sebuah pengandaian tentang sesuatu yang
mungkin terjadi di masa depan. Orang Jawa sering mengucap ''nek ngono mengko
piye ...'', ''nek ngene mengko piye ...'' yang berarti ''kalau begitu nanti
bagaimana...'', ''kalau begini nanti bagaimana....''
Orang-orang Jawa berpikir begitu panjang. Seluruh kemungkinan di masa depan
telah dipikirkan dari sekarang. Pada satu sisi, hal tersebut baik. Banyak
persoalan telah diantisipasi jauh hari menyangkut akibat yang mungkin terjadi.
Dengan demikian, jika akibat itu benar terjadi, mereka telah siap untuk
menghadapinya.
Namun, di sisi lain, banyaknya kemungkinan yang dipikirkan di masa depan
sering membuat takut melangkah. Ibarat seorang tak punya rumah yang tak kunjung
punya rumah karena takut memikirkan kemungkinannya di masa depan. Bagaimana
kalau gentingnya bocor, bagaimana kalau ada pencuri, apalagi kalau rumah itu
habis terbakar. Begitu banyak kemungkinan yang dipikirkan hingga orang itu tak
berani melangkah untuk punya rumah.
Sikap itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar orang Jawa
pasrah pada keadaan yang dimilikinya. Mereka tidak akan berusaha keras mengejar
sesuatu karena kalau gagal akan terasa sangat menyakitkan. Mereka tidak siap
gagal. Akibatnya, pencapaian rata-rata orang Jawa kalah bila dibanding etnis
lainnya. Misalnya dengan rata-rata pencapaian orang Batak, apalagi dengan
keturunan Tionghoa.
Orang Jawa tak mau berbuat keliru, dan sangat khawatir keliru. Itu membuat
komunikasi orang Jawa tidak baik. Orang Jawa tidak pandai mengekspresikan
perasaan sendiri, apalagi kalau harus mengatakan tidak. ''Bagaimana nanti kalau
orangnya tersinggung.'' Kalimat demikian banyak diucapkan. Orang Jawa menuntut
orang lain paham bahasa isyarat. Kalau terpaksa harus mengomentari orang lain,
paling dengan cara menyindir. ''Jadi, bagaimana orang Jawa bisa maju?''
Sebaliknya, orang Sunda cenderung malas berpikir panjang. Istilah yang banyak
dikatakan adalah, ''kumaha engke ...'' yang berarti ''bagaimana nanti ....''
Jalani dan nikmati hidup seadanya seperti air mengalir yang akan menemukan
jalannya sendiri tanpa perlu diatur-atur. Ingin sekolah ya sekolah, ingin main
ya main, ingin kerja ya cari kerja kalau dapat. Kalau tidak dapat ya sudah,
''can nasib'' atau ''belum nasibnya''.
Nanti cari lagi. Ada uang, nikmati saja sepuasnya. Uang habis tidak apa-apa.
Usaha lagi seperlunya, atau minta bantuan saudara. Tidak berhasil tidak
apa-apa. ''Can nasib.'' Ingin kawin, ya kawin saja biar pun pekerjaan belum
mapan, penghasilan juga pas-pasan. Ingin kawin lagi, ya kawin lagi saja. Kan
boleh dalam agama. Anak banyak, bermunculan saban dua tahun, tidak apa-apa. Tak
perlu ada kesiapan buat merencanakan masa depannya. ''Kumaha Gusti wae ....''
Terserah Tuhan sajalah. ''Jadi, bagaimana orang Sunda bisa maju?''
Dengan mentalitas begitu, kemiskinan Jawa yang sangat besar tak kunjung
berkurang. Sedangkan kemiskinan Sunda (serta Banten dan Betawi sebagai
kerabatnya) terus membesar dengan kecepatan luar biasa. Anehnya, kita
menganggap fenomena itu fenomena biasa, dan kadang malah menganggapnya sebagai
sikap pasrah pada Allah SWT sesuai tuntunan agama. Padahal, ''pasrah pada
nasib'' sangat berbeda dengan ''pasrah pada Allah''.
Pasrah pada Allah SWT adalah membuat perencanaan hidup sebaik-baiknya,
bekerja keras untuk mewujudkan perencanaan itu, serta selalu optimistis
terhadap hasil yang akan diberikan Tuhan pada kita. Reshuffle kabinet
boleh-boleh saja. Tapi, bila sungguh-sungguh ingin membuat bangsa ini dan
bangkit sesuai semangat Hari Kebangkitan Nasional, rombak dulu mentalitas
bangsa ini secara revolusioner. Untuk itu perlu revolusi mentalitas orang Jawa
dan Sunda sebagai mayoritas penduduk bangsa ini.
__._,_.___
---------------------------------
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware
protection.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---