jo topik -->Irfan Hamka: Buya Ucapkan Selamat Natal
+ pertanyaan -->Ada yang mau berkomentar?

iyo ndak tabayang dek Ambo, kalau jawaban nan diinginkan adolah:
A. Tidak, Irfan Hamka salah mengenai itu. Buya Hamka tidak pernah melakukan
itu.
B. Benar, Buya Hamka pernah melakukan yang dikatakan Irfan.
C. Tidak tahu.

Sanak Akmal: mohon maaf, ateh kabodohan Ambo dalam babaso Indonesia.




2014-12-24 7:58 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:

> Kanda Aslim n.a.h.
>
> Sama seperti jawaban ambo untuk Mak Darwin Chalidi, maksud ambo dengan
> pertanyaan "Ada yang mau komentar" adalah menyangkut penjelasan H. Irfan
> Hamka tentang perkataan ayahandanya itu.  Tersebab di palanta ko banyak
> yang masa mudanya mengaji di Masjid Al Azhar bahkan kenal pribadi dengan
> Buya Hamka, apakah pernah mendengar cerita ini sebelumnya?
>
> Ini pertanyaan partikular (tentang pernyataan Irfan Hamka) bukan
> pertanyaan general tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat natal.
>
> Ambo berterima kasih bila yang muncul tanggapan partikular juga, seperti:
>
> A. Tidak, Irfan Hamka salah mengenai itu. Buya Hamka tidak pernah
> melakukan itu.
> B. Benar, Buya Hamka pernah melakukan yang dikatakan Irfan.
> C. Tidak tahu.
>
>
> Terima kasih
>
> Wassalam,
>
> ANB
>
> Pada 24 Desember 2014 07.43, Aslim Nurhasan ST SATI <[email protected]>
> menulis:
>
>
>>
>> Buya Gusrizal Gazahar
>> <https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1/posts/10202955874049856?fref=nf>
>>
>> "Bila Sesuai Dengan Selera, Hilanglah Sikap Kritis Yang Dituhankan Selama
>> Ini"
>> (Wahai Kaum Muslimin, Jangan Latah dan Jangan Akali Dalil Untuk
>> Membolehkan Ucapan "Selamat Natal")
>>
>> Seorang yang dipanggil "Buya" berasal dari Ranah ini, tertawa
>> mendengarkan ada yang mengharamkan ucapan "selamat natal" bagi kaum
>> muslimin.
>> Saya juga tersenyum membacanya, karena memang itu yang bisa dilakukannya,
>> tertawa, mencemooh dan melontarkan cap "picik" kepada orang yang berbeda
>> dengannya.
>> Karena tak ada bahan baginya untuk menganalisa kajian fiqh apalagi
>> tafsir. Setiap persoalan agama, hanya dipandang dari sudut sosial dan
>> politik yang berlandaskan kepada penyerahan diri kepada realita walaupun
>> menyimpang. Itu lah yang mereka sebut realistis !!!!????
>>
>> Tak usah heran ! Bagi mereka, konsistensi dalam bersikap tidak akan
>> ditemui. Yang mereka miliki hanya ilmu bersilat lidah yang tak pernah
>> terhambat sedikitpun walaupun mencederai persoalan yang prinsip dalam
>> syari'at Islam.
>> Lihatlah ! Bagaimana mereka menyorakkan pemisahan politik dan kekuasaan
>> dengan agama tapi mereka pergunakan kekuasaan itu untuk menancapkan kuku
>> berbisa pluralisme, liberalisme, relatifisme dan isme-isme lainnya ke dalam
>> tubuh umat Islam.
>> Kalau dibantah, mereka akan mengelak dengan "bukan itu yang kami maksud",
>> "anda tidak mengerti dengan istilah tsb" dan mereka akan mulai membawa kita
>> ke area perdebatan ilmiah ala mereka seolah-olah kita ini buta tidak bisa
>> melihat apa yang mereka lakukan dalam realita sebenarnya.
>>
>> "Bersilat lidah" melakukan pembenaran terhadap selera mereka, terus
>> terlihat dengan jelas. Untuk membolehkan ucapan "selamat natal", mereka tak
>> segan berlindung di balik nama besar al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy,
>> Musthafa al-Zarqa dan lainnya.
>>
>> Menggelikan sekali sikap mereka ini. Sikap kritis mereka jadi tumpul bila
>> pernyataan ulama itu sesuai dengan selera mereka namun mereka akan
>> berapi-api membantah bila ulama-ulama itu berfatwa "demokrasi itu
>> bercanggah dengan syura yang dijelaskan oleh Islam". Ulama besar akan kecil
>> bila berbicara tak sesuai selera. Begitu lah sikap para cendikiawan yang
>> berpayung liberalisme dan pluralisme tsb.
>> Seharusnya umat ini sudah menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang
>> yang menghormati ulama yang mereka sebutkan itu dan mereka bukan pula
>> orang-orang yang mau berhujjah sebenarnya dengan landasan ajaran Islam.
>> Mereka tak lebih adalah orang-orang yang tunduk kepada realita walupun
>> menyimpang dari kebenaran yang diturunkan oleh Allah swt.
>>
>> Mungkin akan ada pula berkomentar ketika membaca tulisan ini, "itu
>> tendensius". Mungkin akan ada yang muncul dengan pernyataan seperti orang
>> bijak, "saatnya berbicara "kita" bukan berbicara "kami" dan "mereka" karena
>> itu akan memperlebar jurang perbedaan". Saya hanya akan menanggapinya
>> dengan "bila hilang keberanian untuk berbeda dalam hak dan bathil maka
>> hilanglah pegangan dalam kehidupan dan jadilah orang hanyut dan lenyap
>> dalam pusaran kehidupan itu. Sekarang memang zamannya seseorang harus
>> berani menyatakan perbedaan walupun akan dituduh aneh bahkan dungu oleh
>> mereka yang merasa pintar".
>>
>> Tak perlu berselindung di balik nama besar Al-Qaradhawiy dan lainnya !
>> Tak perlu pula segan untuk mengatakan tidak setuju dengan pernyataan
>> al-Qaradhawiy dan lainnya ! Bukankah itu sikap kritis yang tuan-tuan
>> ajarkan wahai kaum pluralis ???!!!
>> Kalau pandangan yang merujuk kepada para imam-imam madzhab saja tuan-tuan
>> cemoohkan dengan istilah "berfikir fiqh orientik", kenapa pernyataan Yusuf
>> al-Qaradhawiy dan al-Zarqa menjadi azimat bagi tuan-tuan untuk mengatakan
>> yang sesuai dengan selera tuan-tuan ? Kemana sikap kritis tuan-tuan selama
>> ini ?
>> Oh ya maaf, saya lupa bahwa tuan-tuan tak akan mau mengkritisinya atau
>> mungkin tidak mampu karena bagi tuan-tuan, landasan kritik itu hanya
>> realita dan kepentingan. Mana ada analisis ushul fiqh ?!! Ushul Fiqh kan
>> kurungan berfikir yang membuat picik menurut pandangan tuan-tuan.
>>
>> Terserah tuan-tuan lah dalam menggunakan cercaan. Kami tetap akan
>> mengurai simpul fatwa ulama tersebut dengan ilmu alat yang selama ini
>> menjadi kerangka berfikir para ulama. Semoga tuan-tuan bisa merenungkannya !
>>
>> Pendapat yang membolehkan ucapan selamat hari natal yang merupakan
>> perayaan atas kelahiran Isa sebagai anak tuhan, biasanya dilandaskan kepada
>> firman Allah swt ayat 8 surat "al-Mumtahanah" yang tidak melarang seorang
>> muslim memperlakukan non muslim dengan baik selama mereka tidak memerangi
>> kaum muslimin.
>> {لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ
>> وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا
>> إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ} [الممتحنة : 8]
>> "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
>> orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir
>> kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
>> adil". (QS. al-Mumtahanah 60:8)
>>
>> Penafsiran yang digunakan untuk menguatkan pendapat mereka , biasanya
>> bergerak dari perbedaan antara "al-birr" dalam kalimat تَبَرُّوهُمْ pada
>> ayat di atas dengan kalimat "al-wudd" dalam kalimat يُوَادُّونَ pada ayat
>> 22 surat al-Mujadilah. Penjelasan Imam Al-Qarafiy dalam kitab "al-Furuq",
>> juga digunakan sebagai pembenaran kesimpulan mereka yang berujung kepada,
>> "mengucapkan selamat natal hanyalah sekedar basa basi (mujamalah) dan
>> merupakan bagian dari "al-birru"(bersikap baik) asal tidak ada rasa kasih
>> sayang atau "mawaddah" dengan mereka".
>>
>> Namun sayang, mereka melupakan bahwa al-birru adalah wasilah yang sangat
>> dekat kepada "mawaddah" dan "mawaddah" merupakan perbuatan hati yang tidak
>> bisa dibaca melainkan dengan sikap zhahir. Dengan demikian, maka "mawaddah"
>> tidaklah bisa menjadi 'illat hukum karena tidak terukur bila kita merujuk
>> kepada kajian Ushul al-Fiqh (madzhab al-mutakallimin). Karena itulah
>> makanya Allah swt menyebutkan dua sabab zhahir yang menjadi alasan boleh
>> bersikap baik yaitu "tidak memerangi" dan "tidak menyingkirkan" kaum
>> muslimin.
>>
>> Nah di sini, perlu dijawab oleh tuan-tuan yang mendapat gelar cendikiawan
>> dan juga panggilan keulamaan, "apakah non muslim di Indonesia, termasuk
>> dalam kategori tersebut ?". Jawablah dengan mata terbuka ! Bagaimana setiap
>> saat mereka mengintai titik lemah umat ini untuk dimanfaatkan ? Pemurtadan,
>> perang urat syaraf, perusakan aqidah dan serangan dalam bentuk politik
>> kekuasaan kepada umat ini mereka lancarkan bertubi-tubi di bawah payung
>> yang tuan-tuan sediakan yaitu "pluralisme". Bahkan kalau kita mau merenung,
>> seperti tidak ada nilainya kemayoritasan umat di negara ini !
>>
>> Alangkah jauhnya tathbiq (penerapan) fatwa para ulama seperti
>> Al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy dll untuk kasus indonesia. Dan malah
>> secara khusus, saya sangat tidak sependapat dengan para ulama itu, bila itu
>> berlaku secara muthlaq di negara yang mayoritas muslim. Bila fatwa itu
>> digunakan di tengah umat Islam yang minoritas sebagai salah satu uslub
>> dakwah, itu mungkin masih bisa diterima walaupun tetap bukanlah pendapat
>> yang kuat.
>>
>> Kemudian perlu dipertimbangkan juga sabab turun ayat 8 surat
>> al-mumtahanah itu. Kasus Asma' Binti Abi Bakr ra dengan Ibunya yang musrik,
>> membuat sebagian ahli tafsir memahami bahwa makna تَبَرُّوهُمْ itu adalah
>> shilatur rahim. Jadi tidak bisa diberlakukan secara umum.
>>
>> Alasan berikutnya dari tuan-tuan yang membolehkan mengucapkan "selamat
>> natal" atau sejenisnya kepada orang kafir adalah mengeluarkan ucapan
>> selamat natal dari makna "tasyabbuh" yang terdapat dalam hadits:
>> من تشبه بقوم فهو منهم
>> "Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum itu".
>> (HR. Abu Daud, Ahmad dari Ibnu 'Umar ra)
>> Suatu istinbath yang aneh dan terkesan sekali mencari pembenaran, bukan
>> kebenaran. Bagaimana pengecualian seperti itu datang begitu saja tanpa
>> dalil ? Itulah yang dinamakan dalam ilmu ushul al-fiqh dengan :
>> التخصيص بغير مخصص
>> "Pengkhususan tanpa ada (dalil) yang mengkhususkan"
>>
>> Karena itulah, kita lihat para ulama menafsirkan ayat itu tanpa ada
>> pengecualian "tasyabbuh" baik perbuatan maupun perkataan. Apalagi larangan
>> bertasyabbuh dalam perkataan telah dinyatakan oleh firman Allah:
>> {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا
>> انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [البقرة : 104]
>> "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad):
>> "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi
>> orang-orang yang kafir siksaan yang pedih". (QS. al-Baqarah 2:104)
>>
>> Lihatlah penjelasan Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut !
>> نهى الله تعالى عباده المؤمنين أن يتشبهوا بالكافرين في مقالهم وفعالهم
>> (المصباح المنير في تهذيب تفسير ابن كثير - الشيخ/ خالد بن عثمان السبت)
>> "Allah ta'ala melarang hamba-hambanya yang beriman untuk menyerupai
>> orang-orang kafir dalam pembicaraan dan perbuatan mereka ". (Lihat juga
>> Al-Mishbah al-Munir fi Tahzibi Tafsir Ibn Katsir - al-Syaikh Khalid Ibn
>> 'Utsman al-Sabt)
>>
>> Nah, tinggallah alasan "realita yang terjadi saat ini" menjadi tameng
>> terakhir untuk membolehkan ucapan selamat natal.
>> Untuk menjelaskan itu, saya cukup bertanya saja, apakah perlunya ucapan
>> selamat natal itu bagi kaum nashrani ? Apakah tanpa ucapan itu dari kaum
>> muslimin, orang-orang nashrani merasa kurang asyik dalam menikmati hari
>> raya mereka ? Apa untungnya untuk umat Islam ? Apakah tanpa itu, hubungan
>> sesama anak bangsa akan rusak ?
>>
>> Dan ada lagi alasan yang sangat lucu yaitu: Tidak masalah mengucapkannya
>> asal tidak meyakini dan membenarkan maknanya. Semenjak kapan seorang muslim
>> disuruh demikian kalau tidak ada alasan yang dharurat ? Tak perlu berhujjah
>> dengan hadits mujamalah Nabi saw karena itu tidak terkait dengan perayaan
>> ibadah yang tegak di atas keyakinan syirik !
>>
>> Renungkanlah wahai umat Islam, betapa jauh kita sudah terseret dengan
>> mengikuti cara-cara mereka. Bukankah dahulu mulanya dari ucapan selamat
>> kemudian perayaan seremonial negara kemudian do'a bersama kemudian natal
>> bersama kemudian atribut santa dan seterusnya.
>> Apa yang mereka tuju dari semua itu ? Dengarkan peryataan mereka melalui
>> salah seorang kristen yang menjadi manager suatu peruahaan makanan cepat
>> saji :
>> "Karyawan muslim yang mau memakai atribut natal tidak perlu
>> dipermasalahkan dan tak bisa dilarang. “Kalau dari hatinya welcome, ya gak
>> apa-apa pakai atribut natal. Masa saya larang?” ujarnya". (Islam Pos 29
>> Shafar 1436 H)
>>
>> Dan perhatikan pula sikap umat Islam ! Mulai dari ucapan selamat-selamat
>> kemudian ikut acara-acaraan dan bahkan terseret jadi penggiat kegiatan.
>> Itulah yang terjadi pada acara tahun baru, valentine dll.
>> Alangkah naifnya seseorang yang telah diingatkan oleh pernyataan pahit di
>> hadapannya tapi belum juga terperingatkan. Apakah karena ghairah terhadap
>> Islam yang telah hilang sehingga semua perbuatan orang kafir harus di lihat
>> dengan husnuz zhann dan penyataan ulama yang mengingatkan, harus dihadapi
>> dengan cercaan.
>>
>> Apakah tidak cukup berbagai kenyataan itu untuk mendorong berlakunya
>> dalil sad al-dzari'ah (سد الذريعة) ? Apakah tidak cukup yang terjadi di
>> lapangan menjadi alasan untuk menggunakan kaedah menolak kemafsadatan lebih
>> didahulukan dari meraih kemashlahatan (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح) ?
>> Kalau belum juga, berarti tuan-tuan bukanlah orang yang bertasamuh
>> (bertoleransi) tapi adalah pecundang yang telah kehilangan jati diri
>> sebagai muslim.
>>
>> Akhirnya, saya hanya bisa mengingatkan, bukalah mata tuan-tuan untuk
>> merenungkan bukti kebenaran sabda Rasulullah saw:
>> عن أبي سعيد الخدري قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لتتبعن سنن
>> الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم ،
>> قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى؟ قال : فمن
>> "Dari Abu Sa’id al Khudri ra, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah
>> bersabda :
>> “Kalian akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kalian, sejengkal
>> demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke
>> lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”
>> Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani yang
>> engkau maksudkan?”
>> Nabi SAW menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?” ( HR. Muslim)
>>
>> Ala.. qad ballaghtu, Allahumma fasyhad.
>>
>> Saya tutup dengan:
>> ... إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي
>> إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
>> "...Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih
>> berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan)
>> Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku
>> kembali". (QS. Hud 11:88)
>>
>>
>> 2014-12-23 23:27 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:
>>
>>> Ada yang mau berkomentar?
>>>
>>> Salam,
>>>
>>> ANB
>>>
>>>
>>> http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/23/nh0yp6-irfan-hamka-buya-ucapkan-selamat-natal
>>>
>>> REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/>, JAKARTA -- Putra mantan
>>> ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Hamka, Irfan Hamka membantah
>>> ayahnya melarang mengucapkan selamat hari Natal kepada kaum Kristiani.
>>> Irfan mengatakan, dalam fatwa yang dikeluarkan Buya pada 1981, isinya bukan
>>> pelarangan mengucapkan selamat Natal atau mengharamkannya.
>>>
>>> Tapi, kata dia, yang diharamkan Buya adalah mengikuti ibadah Natal. Dia
>>> menjelaskan, maksud ayahnya tersebut, umat Islam dilarang mengikuti ibadah
>>> umat yang merayakan Natal, seperti menyanyi di gereja, membakar lilin atau
>>> apapun yang termasuk ibadah pada hari Natal.
>>>
>>> Dia mengisahkan, ayahnya dulu juga pernah mengucapkan selamat Natal bagi
>>> penganut Kristen. Dulu saat tinggal di Kebayoran Baru, ungkap dia, ada dua
>>> orang tetangga yang merupakan Kristiani. Nama kedua orang itu adalah Ong
>>> Liong Sikh dan Reneker.
>>>
>>> Saat ayahnya merayakan Idul Fitri, keduanya memberikan ucapan selamat
>>> kepada Buya. Begitu pun sebaliknya Buya juga mengucapkan selamat kepada
>>> kedua tetangganya tersebut. “Selamat, telah merayakan Natal kalian,” kata
>>> Irfan saat menirukan ucapan ayahnya kepada*Republika*, Selasa (23/12).
>>>
>>> Ulama penulis novel *Tenggelamnya Kapal van der Wijck* tersebut
>>> mengegaskan, dalam kata 'Natal kalian' untuk membatasi akidah. Pasalnya,
>>> dalam Alquran dijelaskan 'Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku'. Bahkan, lanjut
>>> Irfan, Buya juga pernah meminta istrinya untuk memberikan rendang kepada
>>> tetangganya. Tapi, rendang tersebut diberikan bukan saat malam Natal,
>>> melainkan tahun baru masehi.
>>>
>>> Irfan menegaskan tidak masalah mengucapkan selamat Natal, asalkan
>>> disertakan kata kalian atau bagi kaum Kristiano. Sebab, kata tersebut yang
>>> membedakan antara aqidah masing-masing agama. Dia juga meminta umat Islam
>>> untuk tidak mengucapkan selamat kepada umat Kristen sebelum umat tersebut
>>> merayakan ibadahnya. Karena, menurut Irfan, kata selamat diucapkan setelah
>>> peristiwa itu terjadi.
>>>
>>> --
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>>> * DILARANG:
>>> 1. Email besar dari 200KB;
>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>> 3. Email One Liner.
>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>>> mengirimkan biodata!
>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> ---
>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>>> Grup.
>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>>> kirim email ke [email protected].
>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>>
>>
>>
>>
>> --
>>
>> *****
>> *MINANGKABAU*
>> *| Surau | Dangau | Lapau | Rantau*
>> *| Moral knowing | Moral feeling | Moral action*
>> *| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to live
>> together*
>> *| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise*
>>
>> *| Ranah Surgawi*
>>
>> Salam Ta'zim
>> ---------------------------------------
>> *Aslim Nurhasan ST SATI*
>> *|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected]
>> <[email protected]>
>> | +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ®
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>



-- 

*****
*MINANGKABAU*
*| Surau | Dangau | Lapau | Rantau*
*| Moral knowing | Moral feeling | Moral action*
*| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to live
together*
*| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise*

*| Ranah Surgawi*

Salam Ta'zim
---------------------------------------
*Aslim Nurhasan ST SATI*
*|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected]
<[email protected]>
| +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke