Tarimokasi baiiriang Salam Ta'zim, Sanak Akmal. On 24 Dec 2014 08:20, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]> wrote:
> Kanda Aslim, > tabayun/verifikasi itu perlu, hatta yang mengucapkan adalah putra Buya > Hamka. Ambo bisa menelpon langsung Pak Irfan Hamka, dan pasti dia akan > berkata bahwa kutipan di Republika itu benar. Jadi harus ditelusuri dari > jalur lain (second opinion). > > Karena waktu Buya wafat (1981) ambo masih anak ingusan, sementara para > senior Palanta RN ada yang menjadi jamaah di Al Azhar bahkan ada yang kenal > dekat secara pribadi dengan Buya, barangkali ada yang bisa memeriksa ulang > benar tidaknya pernyataan Pak Irfan Hamka itu. > > Jadi ketika ambo menulis pendek "Ada yang mau komentar", karena berada di > bawah thread subyek "Irfan Hamka: Buya Ucapkan Selamat Natal" ambo merasa > arah pertanyaan ambo sudah jelas menyangkut hal itu. > > Tetapi karena sudah ada dua tanggapan (dari Mak Darwin Chalidi dan kanda > Aslim) yang menyorongkan penjelasan boleh tidaknya mengucapkan selamat > natal dari dua sumber berbeda yang tak berkaitan dengan konteks perkataan > Pak Irfan Hamka, tampaknya ambo yang kurang jelas menjabarkan pertanyaan. > Sehingga kini ambo ulangi dengan (semoga) lebih jelas: > > "Apakah ada di antara dunsanak Palanta RN yang bisa memastikan benar > tidaknya ucapan Irfan Hamka tentang sikap Buya Hamka mengucapkan selamat > natal bagi tetangganya itu?" > > Wassalam, > > ANB > > > > Pada 24 Desember 2014 08.07, Aslim Nurhasan ST SATI <[email protected]> > menulis: > >> jo topik -->Irfan Hamka: Buya Ucapkan Selamat Natal >> + pertanyaan -->Ada yang mau berkomentar? >> >> iyo ndak tabayang dek Ambo, kalau jawaban nan diinginkan adolah: >> A. Tidak, Irfan Hamka salah mengenai itu. Buya Hamka tidak pernah >> melakukan itu. >> B. Benar, Buya Hamka pernah melakukan yang dikatakan Irfan. >> C. Tidak tahu. >> >> Sanak Akmal: mohon maaf, ateh kabodohan Ambo dalam babaso Indonesia. >> >> >> >> >> 2014-12-24 7:58 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>: >> >>> Kanda Aslim n.a.h. >>> >>> Sama seperti jawaban ambo untuk Mak Darwin Chalidi, maksud ambo dengan >>> pertanyaan "Ada yang mau komentar" adalah menyangkut penjelasan H. Irfan >>> Hamka tentang perkataan ayahandanya itu. Tersebab di palanta ko banyak >>> yang masa mudanya mengaji di Masjid Al Azhar bahkan kenal pribadi dengan >>> Buya Hamka, apakah pernah mendengar cerita ini sebelumnya? >>> >>> Ini pertanyaan partikular (tentang pernyataan Irfan Hamka) bukan >>> pertanyaan general tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat natal. >>> >>> Ambo berterima kasih bila yang muncul tanggapan partikular juga, seperti: >>> >>> A. Tidak, Irfan Hamka salah mengenai itu. Buya Hamka tidak pernah >>> melakukan itu. >>> B. Benar, Buya Hamka pernah melakukan yang dikatakan Irfan. >>> C. Tidak tahu. >>> >>> >>> Terima kasih >>> >>> Wassalam, >>> >>> ANB >>> >>> Pada 24 Desember 2014 07.43, Aslim Nurhasan ST SATI <[email protected] >>> > menulis: >>> >>> >>>> >>>> Buya Gusrizal Gazahar >>>> <https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1/posts/10202955874049856?fref=nf> >>>> >>>> "Bila Sesuai Dengan Selera, Hilanglah Sikap Kritis Yang Dituhankan >>>> Selama Ini" >>>> (Wahai Kaum Muslimin, Jangan Latah dan Jangan Akali Dalil Untuk >>>> Membolehkan Ucapan "Selamat Natal") >>>> >>>> Seorang yang dipanggil "Buya" berasal dari Ranah ini, tertawa >>>> mendengarkan ada yang mengharamkan ucapan "selamat natal" bagi kaum >>>> muslimin. >>>> Saya juga tersenyum membacanya, karena memang itu yang bisa >>>> dilakukannya, tertawa, mencemooh dan melontarkan cap "picik" kepada orang >>>> yang berbeda dengannya. >>>> Karena tak ada bahan baginya untuk menganalisa kajian fiqh apalagi >>>> tafsir. Setiap persoalan agama, hanya dipandang dari sudut sosial dan >>>> politik yang berlandaskan kepada penyerahan diri kepada realita walaupun >>>> menyimpang. Itu lah yang mereka sebut realistis !!!!???? >>>> >>>> Tak usah heran ! Bagi mereka, konsistensi dalam bersikap tidak akan >>>> ditemui. Yang mereka miliki hanya ilmu bersilat lidah yang tak pernah >>>> terhambat sedikitpun walaupun mencederai persoalan yang prinsip dalam >>>> syari'at Islam. >>>> Lihatlah ! Bagaimana mereka menyorakkan pemisahan politik dan kekuasaan >>>> dengan agama tapi mereka pergunakan kekuasaan itu untuk menancapkan kuku >>>> berbisa pluralisme, liberalisme, relatifisme dan isme-isme lainnya ke dalam >>>> tubuh umat Islam. >>>> Kalau dibantah, mereka akan mengelak dengan "bukan itu yang kami >>>> maksud", "anda tidak mengerti dengan istilah tsb" dan mereka akan mulai >>>> membawa kita ke area perdebatan ilmiah ala mereka seolah-olah kita ini buta >>>> tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan dalam realita sebenarnya. >>>> >>>> "Bersilat lidah" melakukan pembenaran terhadap selera mereka, terus >>>> terlihat dengan jelas. Untuk membolehkan ucapan "selamat natal", mereka tak >>>> segan berlindung di balik nama besar al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy, >>>> Musthafa al-Zarqa dan lainnya. >>>> >>>> Menggelikan sekali sikap mereka ini. Sikap kritis mereka jadi tumpul >>>> bila pernyataan ulama itu sesuai dengan selera mereka namun mereka akan >>>> berapi-api membantah bila ulama-ulama itu berfatwa "demokrasi itu >>>> bercanggah dengan syura yang dijelaskan oleh Islam". Ulama besar akan kecil >>>> bila berbicara tak sesuai selera. Begitu lah sikap para cendikiawan yang >>>> berpayung liberalisme dan pluralisme tsb. >>>> Seharusnya umat ini sudah menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang >>>> yang menghormati ulama yang mereka sebutkan itu dan mereka bukan pula >>>> orang-orang yang mau berhujjah sebenarnya dengan landasan ajaran Islam. >>>> Mereka tak lebih adalah orang-orang yang tunduk kepada realita walupun >>>> menyimpang dari kebenaran yang diturunkan oleh Allah swt. >>>> >>>> Mungkin akan ada pula berkomentar ketika membaca tulisan ini, "itu >>>> tendensius". Mungkin akan ada yang muncul dengan pernyataan seperti orang >>>> bijak, "saatnya berbicara "kita" bukan berbicara "kami" dan "mereka" karena >>>> itu akan memperlebar jurang perbedaan". Saya hanya akan menanggapinya >>>> dengan "bila hilang keberanian untuk berbeda dalam hak dan bathil maka >>>> hilanglah pegangan dalam kehidupan dan jadilah orang hanyut dan lenyap >>>> dalam pusaran kehidupan itu. Sekarang memang zamannya seseorang harus >>>> berani menyatakan perbedaan walupun akan dituduh aneh bahkan dungu oleh >>>> mereka yang merasa pintar". >>>> >>>> Tak perlu berselindung di balik nama besar Al-Qaradhawiy dan lainnya ! >>>> Tak perlu pula segan untuk mengatakan tidak setuju dengan pernyataan >>>> al-Qaradhawiy dan lainnya ! Bukankah itu sikap kritis yang tuan-tuan >>>> ajarkan wahai kaum pluralis ???!!! >>>> Kalau pandangan yang merujuk kepada para imam-imam madzhab saja >>>> tuan-tuan cemoohkan dengan istilah "berfikir fiqh orientik", kenapa >>>> pernyataan Yusuf al-Qaradhawiy dan al-Zarqa menjadi azimat bagi tuan-tuan >>>> untuk mengatakan yang sesuai dengan selera tuan-tuan ? Kemana sikap kritis >>>> tuan-tuan selama ini ? >>>> Oh ya maaf, saya lupa bahwa tuan-tuan tak akan mau mengkritisinya atau >>>> mungkin tidak mampu karena bagi tuan-tuan, landasan kritik itu hanya >>>> realita dan kepentingan. Mana ada analisis ushul fiqh ?!! Ushul Fiqh kan >>>> kurungan berfikir yang membuat picik menurut pandangan tuan-tuan. >>>> >>>> Terserah tuan-tuan lah dalam menggunakan cercaan. Kami tetap akan >>>> mengurai simpul fatwa ulama tersebut dengan ilmu alat yang selama ini >>>> menjadi kerangka berfikir para ulama. Semoga tuan-tuan bisa merenungkannya >>>> ! >>>> >>>> Pendapat yang membolehkan ucapan selamat hari natal yang merupakan >>>> perayaan atas kelahiran Isa sebagai anak tuhan, biasanya dilandaskan kepada >>>> firman Allah swt ayat 8 surat "al-Mumtahanah" yang tidak melarang seorang >>>> muslim memperlakukan non muslim dengan baik selama mereka tidak memerangi >>>> kaum muslimin. >>>> {لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي >>>> الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا >>>> إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ} [الممتحنة : 8] >>>> "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap >>>> orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir >>>> kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku >>>> adil". (QS. al-Mumtahanah 60:8) >>>> >>>> Penafsiran yang digunakan untuk menguatkan pendapat mereka , biasanya >>>> bergerak dari perbedaan antara "al-birr" dalam kalimat تَبَرُّوهُمْ pada >>>> ayat di atas dengan kalimat "al-wudd" dalam kalimat يُوَادُّونَ pada ayat >>>> 22 surat al-Mujadilah. Penjelasan Imam Al-Qarafiy dalam kitab "al-Furuq", >>>> juga digunakan sebagai pembenaran kesimpulan mereka yang berujung kepada, >>>> "mengucapkan selamat natal hanyalah sekedar basa basi (mujamalah) dan >>>> merupakan bagian dari "al-birru"(bersikap baik) asal tidak ada rasa kasih >>>> sayang atau "mawaddah" dengan mereka". >>>> >>>> Namun sayang, mereka melupakan bahwa al-birru adalah wasilah yang >>>> sangat dekat kepada "mawaddah" dan "mawaddah" merupakan perbuatan hati yang >>>> tidak bisa dibaca melainkan dengan sikap zhahir. Dengan demikian, maka >>>> "mawaddah" tidaklah bisa menjadi 'illat hukum karena tidak terukur bila >>>> kita merujuk kepada kajian Ushul al-Fiqh (madzhab al-mutakallimin). Karena >>>> itulah makanya Allah swt menyebutkan dua sabab zhahir yang menjadi alasan >>>> boleh bersikap baik yaitu "tidak memerangi" dan "tidak menyingkirkan" kaum >>>> muslimin. >>>> >>>> Nah di sini, perlu dijawab oleh tuan-tuan yang mendapat gelar >>>> cendikiawan dan juga panggilan keulamaan, "apakah non muslim di Indonesia, >>>> termasuk dalam kategori tersebut ?". Jawablah dengan mata terbuka ! >>>> Bagaimana setiap saat mereka mengintai titik lemah umat ini untuk >>>> dimanfaatkan ? Pemurtadan, perang urat syaraf, perusakan aqidah dan >>>> serangan dalam bentuk politik kekuasaan kepada umat ini mereka lancarkan >>>> bertubi-tubi di bawah payung yang tuan-tuan sediakan yaitu "pluralisme". >>>> Bahkan kalau kita mau merenung, seperti tidak ada nilainya kemayoritasan >>>> umat di negara ini ! >>>> >>>> Alangkah jauhnya tathbiq (penerapan) fatwa para ulama seperti >>>> Al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy dll untuk kasus indonesia. Dan malah >>>> secara khusus, saya sangat tidak sependapat dengan para ulama itu, bila itu >>>> berlaku secara muthlaq di negara yang mayoritas muslim. Bila fatwa itu >>>> digunakan di tengah umat Islam yang minoritas sebagai salah satu uslub >>>> dakwah, itu mungkin masih bisa diterima walaupun tetap bukanlah pendapat >>>> yang kuat. >>>> >>>> Kemudian perlu dipertimbangkan juga sabab turun ayat 8 surat >>>> al-mumtahanah itu. Kasus Asma' Binti Abi Bakr ra dengan Ibunya yang musrik, >>>> membuat sebagian ahli tafsir memahami bahwa makna تَبَرُّوهُمْ itu adalah >>>> shilatur rahim. Jadi tidak bisa diberlakukan secara umum. >>>> >>>> Alasan berikutnya dari tuan-tuan yang membolehkan mengucapkan "selamat >>>> natal" atau sejenisnya kepada orang kafir adalah mengeluarkan ucapan >>>> selamat natal dari makna "tasyabbuh" yang terdapat dalam hadits: >>>> من تشبه بقوم فهو منهم >>>> "Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum >>>> itu". (HR. Abu Daud, Ahmad dari Ibnu 'Umar ra) >>>> Suatu istinbath yang aneh dan terkesan sekali mencari pembenaran, bukan >>>> kebenaran. Bagaimana pengecualian seperti itu datang begitu saja tanpa >>>> dalil ? Itulah yang dinamakan dalam ilmu ushul al-fiqh dengan : >>>> التخصيص بغير مخصص >>>> "Pengkhususan tanpa ada (dalil) yang mengkhususkan" >>>> >>>> Karena itulah, kita lihat para ulama menafsirkan ayat itu tanpa ada >>>> pengecualian "tasyabbuh" baik perbuatan maupun perkataan. Apalagi larangan >>>> bertasyabbuh dalam perkataan telah dinyatakan oleh firman Allah: >>>> {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا >>>> انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [البقرة : 104] >>>> "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada >>>> Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan >>>> bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih". (QS. al-Baqarah 2:104) >>>> >>>> Lihatlah penjelasan Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut ! >>>> نهى الله تعالى عباده المؤمنين أن يتشبهوا بالكافرين في مقالهم وفعالهم >>>> (المصباح المنير في تهذيب تفسير ابن كثير - الشيخ/ خالد بن عثمان السبت) >>>> "Allah ta'ala melarang hamba-hambanya yang beriman untuk menyerupai >>>> orang-orang kafir dalam pembicaraan dan perbuatan mereka ". (Lihat juga >>>> Al-Mishbah al-Munir fi Tahzibi Tafsir Ibn Katsir - al-Syaikh Khalid Ibn >>>> 'Utsman al-Sabt) >>>> >>>> Nah, tinggallah alasan "realita yang terjadi saat ini" menjadi tameng >>>> terakhir untuk membolehkan ucapan selamat natal. >>>> Untuk menjelaskan itu, saya cukup bertanya saja, apakah perlunya ucapan >>>> selamat natal itu bagi kaum nashrani ? Apakah tanpa ucapan itu dari kaum >>>> muslimin, orang-orang nashrani merasa kurang asyik dalam menikmati hari >>>> raya mereka ? Apa untungnya untuk umat Islam ? Apakah tanpa itu, hubungan >>>> sesama anak bangsa akan rusak ? >>>> >>>> Dan ada lagi alasan yang sangat lucu yaitu: Tidak masalah >>>> mengucapkannya asal tidak meyakini dan membenarkan maknanya. Semenjak kapan >>>> seorang muslim disuruh demikian kalau tidak ada alasan yang dharurat ? Tak >>>> perlu berhujjah dengan hadits mujamalah Nabi saw karena itu tidak terkait >>>> dengan perayaan ibadah yang tegak di atas keyakinan syirik ! >>>> >>>> Renungkanlah wahai umat Islam, betapa jauh kita sudah terseret dengan >>>> mengikuti cara-cara mereka. Bukankah dahulu mulanya dari ucapan selamat >>>> kemudian perayaan seremonial negara kemudian do'a bersama kemudian natal >>>> bersama kemudian atribut santa dan seterusnya. >>>> Apa yang mereka tuju dari semua itu ? Dengarkan peryataan mereka >>>> melalui salah seorang kristen yang menjadi manager suatu peruahaan makanan >>>> cepat saji : >>>> "Karyawan muslim yang mau memakai atribut natal tidak perlu >>>> dipermasalahkan dan tak bisa dilarang. “Kalau dari hatinya welcome, ya gak >>>> apa-apa pakai atribut natal. Masa saya larang?” ujarnya". (Islam Pos 29 >>>> Shafar 1436 H) >>>> >>>> Dan perhatikan pula sikap umat Islam ! Mulai dari ucapan >>>> selamat-selamat kemudian ikut acara-acaraan dan bahkan terseret jadi >>>> penggiat kegiatan. Itulah yang terjadi pada acara tahun baru, valentine >>>> dll. >>>> Alangkah naifnya seseorang yang telah diingatkan oleh pernyataan pahit >>>> di hadapannya tapi belum juga terperingatkan. Apakah karena ghairah >>>> terhadap Islam yang telah hilang sehingga semua perbuatan orang kafir harus >>>> di lihat dengan husnuz zhann dan penyataan ulama yang mengingatkan, harus >>>> dihadapi dengan cercaan. >>>> >>>> Apakah tidak cukup berbagai kenyataan itu untuk mendorong berlakunya >>>> dalil sad al-dzari'ah (سد الذريعة) ? Apakah tidak cukup yang terjadi di >>>> lapangan menjadi alasan untuk menggunakan kaedah menolak kemafsadatan lebih >>>> didahulukan dari meraih kemashlahatan (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح) ? >>>> Kalau belum juga, berarti tuan-tuan bukanlah orang yang bertasamuh >>>> (bertoleransi) tapi adalah pecundang yang telah kehilangan jati diri >>>> sebagai muslim. >>>> >>>> Akhirnya, saya hanya bisa mengingatkan, bukalah mata tuan-tuan untuk >>>> merenungkan bukti kebenaran sabda Rasulullah saw: >>>> عن أبي سعيد الخدري قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لتتبعن سنن >>>> الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم ، >>>> قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى؟ قال : فمن >>>> "Dari Abu Sa’id al Khudri ra, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah >>>> bersabda : >>>> “Kalian akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kalian, >>>> sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka >>>> masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.” >>>> Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani yang >>>> engkau maksudkan?” >>>> Nabi SAW menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?” ( HR. Muslim) >>>> >>>> Ala.. qad ballaghtu, Allahumma fasyhad. >>>> >>>> Saya tutup dengan: >>>> ... إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي >>>> إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ >>>> "...Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku >>>> masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan >>>> (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya >>>> kepada-Nya-lah aku kembali". (QS. Hud 11:88) >>>> >>>> >>>> 2014-12-23 23:27 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>: >>>> >>>>> Ada yang mau berkomentar? >>>>> >>>>> Salam, >>>>> >>>>> ANB >>>>> >>>>> >>>>> http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/23/nh0yp6-irfan-hamka-buya-ucapkan-selamat-natal >>>>> >>>>> REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/>, JAKARTA -- Putra mantan >>>>> ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Hamka, Irfan Hamka membantah >>>>> ayahnya melarang mengucapkan selamat hari Natal kepada kaum Kristiani. >>>>> Irfan mengatakan, dalam fatwa yang dikeluarkan Buya pada 1981, isinya >>>>> bukan >>>>> pelarangan mengucapkan selamat Natal atau mengharamkannya. >>>>> >>>>> Tapi, kata dia, yang diharamkan Buya adalah mengikuti ibadah Natal. >>>>> Dia menjelaskan, maksud ayahnya tersebut, umat Islam dilarang mengikuti >>>>> ibadah umat yang merayakan Natal, seperti menyanyi di gereja, membakar >>>>> lilin atau apapun yang termasuk ibadah pada hari Natal. >>>>> >>>>> Dia mengisahkan, ayahnya dulu juga pernah mengucapkan selamat Natal >>>>> bagi penganut Kristen. Dulu saat tinggal di Kebayoran Baru, ungkap dia, >>>>> ada >>>>> dua orang tetangga yang merupakan Kristiani. Nama kedua orang itu adalah >>>>> Ong Liong Sikh dan Reneker. >>>>> >>>>> Saat ayahnya merayakan Idul Fitri, keduanya memberikan ucapan selamat >>>>> kepada Buya. Begitu pun sebaliknya Buya juga mengucapkan selamat kepada >>>>> kedua tetangganya tersebut. “Selamat, telah merayakan Natal kalian,” kata >>>>> Irfan saat menirukan ucapan ayahnya kepada*Republika*, Selasa >>>>> (23/12). >>>>> >>>>> Ulama penulis novel *Tenggelamnya Kapal van der Wijck* tersebut >>>>> mengegaskan, dalam kata 'Natal kalian' untuk membatasi akidah. Pasalnya, >>>>> dalam Alquran dijelaskan 'Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku'. Bahkan, lanjut >>>>> Irfan, Buya juga pernah meminta istrinya untuk memberikan rendang kepada >>>>> tetangganya. Tapi, rendang tersebut diberikan bukan saat malam Natal, >>>>> melainkan tahun baru masehi. >>>>> >>>>> Irfan menegaskan tidak masalah mengucapkan selamat Natal, asalkan >>>>> disertakan kata kalian atau bagi kaum Kristiano. Sebab, kata tersebut yang >>>>> membedakan antara aqidah masing-masing agama. Dia juga meminta umat Islam >>>>> untuk tidak mengucapkan selamat kepada umat Kristen sebelum umat tersebut >>>>> merayakan ibadahnya. Karena, menurut Irfan, kata selamat diucapkan setelah >>>>> peristiwa itu terjadi. >>>>> >>>>> -- >>>>> . >>>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >>>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >>>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >>>>> =========================================================== >>>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >>>>> * DILARANG: >>>>> 1. Email besar dari 200KB; >>>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >>>>> 3. Email One Liner. >>>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) >>>>> serta mengirimkan biodata! >>>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >>>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >>>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >>>>> mengganti subjeknya. >>>>> =========================================================== >>>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan >>>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ >>>>> --- >>>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >>>>> Grup. >>>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >>>>> kirim email ke [email protected]. >>>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >>>>> >>>> >>>> >>>> >>>> -- >>>> >>>> ***** >>>> *MINANGKABAU* >>>> *| Surau | Dangau | Lapau | Rantau* >>>> *| Moral knowing | Moral feeling | Moral action* >>>> *| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to >>>> live together* >>>> *| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise* >>>> >>>> *| Ranah Surgawi* >>>> >>>> Salam Ta'zim >>>> --------------------------------------- >>>> *Aslim Nurhasan ST SATI* >>>> *|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected] >>>> <[email protected]> >>>> | +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ® >>>> >>>> -- >>>> . >>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >>>> =========================================================== >>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >>>> * DILARANG: >>>> 1. Email besar dari 200KB; >>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >>>> 3. Email One Liner. >>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) >>>> serta mengirimkan biodata! >>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >>>> mengganti subjeknya. >>>> =========================================================== >>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan >>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ >>>> --- >>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >>>> Grup. >>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >>>> kirim email ke [email protected]. >>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >>>> >>> >>> -- >>> . >>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >>> =========================================================== >>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >>> * DILARANG: >>> 1. Email besar dari 200KB; >>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >>> 3. Email One Liner. >>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >>> mengirimkan biodata! >>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >>> mengganti subjeknya. >>> =========================================================== >>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan >>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ >>> --- >>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >>> Grup. >>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >>> kirim email ke [email protected]. >>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >>> >> >> >> >> -- >> >> ***** >> *MINANGKABAU* >> *| Surau | Dangau | Lapau | Rantau* >> *| Moral knowing | Moral feeling | Moral action* >> *| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to live >> together* >> *| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise* >> >> *| Ranah Surgawi* >> >> Salam Ta'zim >> --------------------------------------- >> *Aslim Nurhasan ST SATI* >> *|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected] >> <[email protected]> >> | +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ® >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
