Doens Palanta, Sato saketek di thread iko, ambo kabatulan karajo di perusahan investasi asing juo dari Taiwan. Dan ambo tahu persis beberapa perusahaan sepatu investor dari Taiwan sajak 1995 an.
Kendala nan ambo caliak dari perusahaan Taiwan kesulitan dalam bahasa, mereka sangat sulit dalam bahasa Inggris, sahinggo klo buka perusahaan di Indonesia mambawo banyak tanago karajo langsuang dari Cino untuak hal2 vital, teknisi2 banyak langsuang dari Cino. sahinggo komunikasi mereka lancar, bukannya awak ndak punyo pulo teknisi tapi dari persoalan bahaso tadi mereka labiah gampang mambawo teknsi langsuang. untuak bagian2 yg harus bersentuhan langsuang jo tanago karajo Indonesia tapaso pulo ma angkek cino2 lokal nan bisa mandarin sebagai penterjemah. kadang mereka bawo cino malaysia yg mandarin labiah rancak pado cino indonesia. itu nan ambo caliak dipabrik2 sepatu nan investornyo Taiwan/Cino di Indonesia. Belakangan mereka menyadari itu dan mulai malatiah tanaga cino jo Bahasa Inggris, di perusahaan ambo kantua pusat di Taiwan, pabrik ado di Vietnam, Indonesia, Myanmar. 4 tahun terakhirko pabrik ambo dijadikan tampaik training karyawan bagi bagi keseluruhan pabrik, Karyawan baru nan ka bakrajo di Vietnam, Cino, Myanmar training di Indonesia, karano komunikasi harian di pabrik Indonesia Inggris samantaro pabrik nan di Vietnam, Myanmar dan cino pakai bahaso mandarin. Cukuik banyak juo tanago Cino di tampaik ambo plus nan Training bisa 60 urang. Jadi kebanyakan Cino investasi ado semacam aggreement nan ambo caliak tenago karajo mereka didatangkan dari cino untuak hal hal teknisi ado juo kemungkinan karano di cino populasi manusia sangaik banyak jadi ba'a nak bisa karajo kalau ado investasi lua bisa ikuik pulo tanago karajonyo . beda jo Korea. Korea populasi disinan ndak banyak mako korea ko mamaso diri supayo bisa bahasa indonesia dan bisa lancar komunikasi. Satantang mambanjiri TKA Cino kalau baco tulisan seorang netizen sudah baitu sajak dulu karano di buliahkan Undang2, cuma kini volume investasi nyo banyak tantu peningkatannyo banyak, Dibawah tulisan netizen tantang buruh cino. Suhunan Situmorang <https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153264411939915&set=a.41550059914.52608.685994914&type=1&fref=nf> Tentang Tenaga Kerja dari RRC Itu Sebagai konsultan hukum urusan korporasi-bisnis, saya akrab dng informasi proyek-proyek PMA (asing) di Indonesia, dari berbagai sumber informasi, kadang ikut menangani. Modal asing, sah di negara ini, dimulai 1967, suka atau tak suka. Presiden Soeharto yg memulai, dilanjutkan presiden-presiden pengganti. Pengusaha (modal) asing, telah puluhan tahun masuk ke berbagai sektor bisnis, ikut meramaikan aktivitas perekonomian, mulai dari infrastruktur, banking-finance, tambang, enerji (power), sektor riel hingga ritel. Umumnya para pemodal dari LN itu membawa tenaga kerja dari negara mereka, atau meng-hire dari negara lain. Aturan (hukum) penanaman modal dan ketenagakerjaan (hukum positif) memungkinkan, salah satu tujuannya utk mengundang minat pebisnis asing, walau ada batasan. Pemerintah dan DPR, dari masa ke masa, membolehkan. Sah. Legal. Salah satu proyek asing (RRC) yg acap saya lihat (tiap tahun), PLTU Labuhan Angin, Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumut. Kunjungan ke rumah mertua pada tiap akhir tahun--selanjutnya ke Samosir--yg berdomisili di Sibolga, membuat saya familiar dng wilayah pesisir pantai barat Sumut tsb. PLTU yg ikut menyuplai tenaga (power) listrik ke PLN wilayah Sumut itu dibangun di bibir pantai, berhadapan dng Teluk Sibolga yg lumayan cantik dng pulau-pulau di hadapan PLTU. Ini proyek kerjasama RI-RRC, pembangunannya dimulai 2006. China National Machinery Export and Import Corporation (CMEC) adalah kontraktor utama, dan (bila tak salah) yg mendanai semua proyek. Karena duitnya pinjaman RI dan peralatan dari RRC, para pekerja di PLTU Labuan Angin yg berkapasitas atau mampu menghasilkan tenaga 2×115 MW itu pun dari China. Pada awal pembangunan PLTU, jumlah tenaga kerja asing sekitar 1300 orang, kini sekitar 200-300, dan itu syarat dari kontrak yg ditandangani Pemerintah dng RRC. Hampir semua tenaga kerja asing tsb tak bisa berbahasa Indonesia, apalagi Bahasa Pesisir atau Batak *smile emoticon* . Mereka sesekali ke pusat kota Sibolga yg kecil itu berbelanja keperluan sehari-hari, atau mencari hiburan--yg menurut saya amat minim. PLTU ini beberapa kali mengalami kerusakan hingga belum bisa maksimal menghasilkan tenaga sebagaimana diproyeksikan. Ketika Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN, ia pernah mengunjungi PLTU tsb. Dia banggakan pembangkit listrik dari tenaga uap tsb (bahan bakar, batubara yg didatangkan dari Bukit Asam, dll). Air sungai di dekat PLTU "dimasak" utk menghasilkan uap yg diperlukan utk memutar turbin-turbin, terciptalah tenaga atau arus listrik, lalu di-supply ke PLN. PLTU berbahan bakar batubara dikatakan para ahli, lebih murah biaya produksinya ketimbang yg lain. Mungkin hanya tenaga panas bumi yg bisa menyaingi. PLTU Labuhan Angin belum maksimal menghasilkan tenaga listrik. Kata Dahlan Iskan saat mengunjungi proyek, bila kedua pembangkit telah OK, kebutuhan listrik tak hanya dialirkan ke Sumut, pun Aceh dan Riau. Sampai sekarang tenaga kerja asal RRC masih ada ratusan di sana, sisa tenaga kerja 1300-an yg telah kembali setelah tenaga mereka tak lagi dibutuhkan. Kepala PLTU, profesional PLN, asli Indonesia. Pun beberapa staf lain. Kelak, bila kontrak telah selesai, para pengelola PLTU, seluruhnya akan diisi orang Indonesia (itu yg saya dengar dari petinggi-petinggi PLN ketika saya beri training hukum korporasi). Apa yg mau saya sampaikan lewat posting-an ini? Proyek infrastruktur, kehadiran pemodal asing dan tenaga kerja asing, telah lama hadir dan sah di Indonesia. Pemerintah--atas persetujuan DPR dari masa ke masa--yg mengundang karena Indonesia butuh. Anda, kita, boleh tak setuju. Namun, isu serbuan tenaga kerja asing (tak hanya RRC, dari India pun banyak) bukan isu baru, telah dimulai sejak zaman Mbah Harto, Habibie, Megawati, SBY. Pak Jokowi hanya meneruskan, sebab selain karena menurutnya masih butuh, dia melihat tak ada pelanggaran hukum dng kebijakan tsb. Bila anda, kita, tak setuju, desaklah wakil-wakil rakyat di DPR sono agar menyetop. Tapi, untuk menghindari tuntutan ganti rugi sesuai isi kontrak yg telah ditandatangni, selesaikan dulu semua proyek dng pihak asing. Jangan asal main "setop" karena bisa digugat habis-habisan di pengadilan internasional (termasuk aribitrase internasional) dan RI siap dijatuhi sanksi oleh WTO, antara lain: dikucilkan dari pergaulan masyarakat ekonomi dunia, dan ini...tenaga kerja Indonesia akan dilarang masuk ke negara-negara anggota WTO. Siap-siaplah menampung berjuta TKI/TKW dan profesional yg bekerja di LN, dipulangkan dari negara di mana mereka kerja. Biar puas kalian! *frown emoticon* Menolak kehadiran asing, sama saja mengisolasi diri dari masyarakat dunia. Solusinya bukan di situ. Kemampuan dalam negeri yg seharusnya diperkuat, diperbaiki, siap berkompetisi dng asing (produk, SDM), efisien, dan membasmi koruptor di semua sektor. Indonesia tak harus jadi jajahan asing bila pengurus negara ini serius dan konsisten menjalankan peran dan fungsi dan tugas serta tanggung jawab mereka pada negara-rakyat. Mari lebih cerdas dan siapkan diri berkompetisi, lebih irit atau efisien, karena sesuai ketentuan WTO, tak lama lagi, semua negara anggota harus membuka diri, menyingkirkan halangan berupa regulasi masuknya produk dan tenaga kerja lintas-negara. Semua lini atau sektor, akan dibuka lebar-lebar, mulai 2016-2017, termasuk lawyer. Orang asing akan lawyering di negara kita nanti. Dan itu bukan karena "ulah" Pak Jokowi. (Ketika WTO ditandatangani pemerintah RI, beliau baru tamat kuliah kaliiii). Lalu, ke mana kita bila tak siap berkompetisi? Mari kita renungi.*** Kredit foto: MetroSiantar Salam Is Sikumbang St Marajo 45an Bukittinggi, Tangerang Pada 8 September 2015 15.57, Maturidi Donsan <[email protected]> menulis: > Tk Andri,alah tarang rareh saketek, jadi investasiko, aratinyo bana hutang. > > Adolo ciek lai basuo, banamo investasi dari luar nagari jo, tapi > ditanamkan Bank Indonesia barupo SBI (sertifikat Bank Indonesia). > > Kalau nan iko baalo aturan mainnyo ko. > > Mudah-mudahan Andri bisa menambah penjelasannyo > > Wass, > > > Maturidi > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- http://www.cimbuak.net Kampuang nan jauah dimato dakek dijari http://urangminang.wordpress.com http://palantaminang.wordpress.com -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
