Assalaamuálaikum Wr. Wb.
Mudah2an Pak Saaf dan sanak lain yang budiman masih bisa menerima masukan dari
ambo ko, InsyaALLAH ambo ndak punyo mukasuik apo2 salain mamajukan nagari nan
denai cito. Sabab ambo hanyo urang ketek sajo...nan pernah hiduik padiah baraja
dan badiskusi di zaman otoritarian SOEHARTO yang militeristik didikan KNIL tu
dan model kepemimpinan ndak jauah beda jo Bulando dan Soekarno, walau lebih
halui saketek...
Pandangan Sanak ini merupakan salah satu wujud penjelasan yang paling masuk
akal. Kita bukan mundur, kita masih jalan di tempat yang sama, tapi secara
relatif orang di sekeliling kita yang maju. Kita sendiri sudah merasa puas
melakukan hal-hal yang sama, bahkan rindu kembali ke 'kebesaran' masa yang
lampau.
Ambo setuju Pak Saaf kalau kito mancaliak permasalahan dengan jernih dan masuk
akal. Manuruik ambo, awak ko, suku bangsa Minangkabau indak jalan ditempat dan
bukan juo nan lain labiah maju dibandiang awak. Jiko kasimpulan iko batua,
tantu bangsa ko alah maju ditangah paradaban dunia, tapi nyatonyo
apo baitu...? Suku awak memang memiliki kontribusi di masa kemerdekaan bukan di
masa Orde Baru,jadi manuruik ambo referensi "kebesaran" memang labiah tapek
dilatakkan di maso itu, sadang Orde Baru marusak tatanan awak....apolai jo UU
tentang Pemerintahan Desa no..
Mengenai kasus Rumah Makan ko kekhawatiran boleh saja menghinggapi kita dan itu
cukup dengan cara yang wajar, karano manuruik ambo iko adolah kasus sajo, ndak
sadoalah no Rumah Makan Padang akan kehilangan konsumen karano punyo ciri khas
tersendiri. Dan, hadirnya resto-resto baru di daerah adalah sebuah
fenomena dengan masakannya juga memiliki cita rasa tersendiri. Secara umum ini
adalah sebuah persaingan dalam ceruk pasar, dan setiap orang dapat mengambil
peran dalam ceruk pasar tersebut. Untuk tetap bisa mengambil hati para
konsumen, maka disinilah perlunya strategi pemasaran dan juga orientasi
pelayanan. Jadi tidak ada hubungan berdirinya Rumah Makan baru dengan dominasi
Rumah Makan Padang, dan apa pentingnya mendominasi sih...?
Saya memang agak terheran-heran melihat satu sikap mental [sebagian besar? ]
urang awak yang mungkin merupakan salah satu penyebab dari situasi 'jalan di
tempat' tersebut, yaitu konservatisme dan resistensi terhadap perubahan ['jalan
di aliah urang manggaleh']. Sungguh sangat jarang saya melihat sikap
keterbukaan, apalagi sikap yang berani menjemput dan menciptaan perubahan untuk
masa datang. Kalaupun ada, sikap itu lebih merupakan sikap individual dari
beberapa 'urang-urang awak' yang berani 'hijrah' dan 'berfikir di luar kotak'.
Panduan perubahan kita kan sudah jelas Pak Saaf, falsafah Adat Basandi Syara',
Syara'basandi Kitabullah, masalah no apo kito alah menjadikan no sebagai common
denominator dalam kehidupan yang penuh persaingan..? Maaf Pak, kalau buliah
ambo batanyo konservatisme dan resistensi macam apo yang Pak Saaf mukasuik...?
Keberhasilan rangkaian Restoran 'Sederhana' dengan sistem 'franchise' sekarang
ini mungkin merupakan salah satu contoh dari satu -- atau beberapa -- orang
Minang yang berani menciptakan hal yang baru dari rutinitas 'manajemen restoran
Padang' yang lama, yang dahulu pernah diulas dengan baik oleh pak Mochtar Naim.
Nah ini kan bukti, bahwa kita tidak mundur, Pak..? Masih banyak bukti2 lain
yang ambo temukan di Sulawesi Selatan dan daerah lain, bahwa ada masakan khas
Makassar atau daerah lain..itu hal biasa saja dalam persaingan...Di Medan juga
ada RM Padang yang maju...
Bisakah keberanian ber-'hijrah' dari yang lama dan 'berfikir di luar kotak' ini
dikembangkan di kalangan kita orang Minangkabau ? Sudah barang tentu
bisa. Bukankah itu sesungguhnya esensi dari tradisi 'merantau' ? Tapi,
bagaimana cara melaksanakannya dalam kurun abad ke 21 ini, sewaktu 'rantau'
tidak lagi seluruhnya bersahabat, apalagi sewaktu suku-suku lain bergerak lebih
cepat dan lebih dinamik ? Jawabannya mungkin terletak dalam pendidikan,
khususnya pendidikan pribadi, di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam
sekolah.
Ambo sipakaiak Pak Saaf undoubtedly bahwa iko nan paliang utamo, Pak Saaf bisa
buktikan bahwa nan manggaleh ko kabanyakan tamek apo? Iyo kalau lai amuah
baraja, kalau indak iyo..lambek laun ndak jaleh lai ka manggaleh apo...? Iko
bana nan indak di paratian dek Pemerintah Sumbar, karano iyo itu tadi "Pemda
nyo katak dalam tempurung". Dulu ambo punyo gagasan dan alah ambo sampaikan
supayo urang2 kampuang nan punyo sumangaik diajak mancaliak keberhasilan urang
lain di nagari lain kalau para ka mancanegara supayo muncul best self learning,
indak pejabat nan taruih jalan-jalan do...Eh...nyatonyo iyo pejabat tu nan pai
jalan2...
Jadi gejala menurunnya dominasi rumah makan Padang mungkin hanyalah salah satu
indikasi saja dari fenomena kemunduran umum kita orang Minangkabau dalam dunia
yang berubah amat cepat ini, yang jika direnung-renung berakar pada
konservatisme dan resistensi kita sendiri terhadap perubahan.
Ambo raso awak ndak paralu mandominasi do Pak, nan paliang penting eksistensi
urang Minangkabau diharagoi dan manfaat bagi urang banyak, dan itu tidak perlu
popularitas media, nanti juga akan dicari sendiri oleh media...Itulah konsep
hidup almarhun Pak Natsir.
Berita-berita dan opini di media massa bisa kita ambil hikmahnya untuk
memotivasi kita lebih maju, bahwa kita adalah suku bangsa yang besar dan
bermanfaat bagi bangsa ini. Jadi, mari kita hilagkan pikiran2 mendominasi yang
akan menjadi "penyakit" dan menjadi sebab kita tidak beranjak. Masa lalu justru
jadi motivator terbaik untuk itu, bukan sebaliknya...mari ita bangun
bersama-sama Minagkabau's Dream...lepas dari hal2 yang mendominasi...
Wallahualambissawab.
Wassalam
Defiyan Cori L/41 yang sedang merancang kebangkitan
-------------------------------------------------
Rumah Makan Padang sudah jadi nomor satu sejak lama. Orang lain berfikir keras
siang malam untuk maju.... Saya jadi teringat dominas komuter AI BI EM di
tahun 80 han dan kemudian tergusur pelan pelan dan kemudian ...merangkak untuk
bangun lagi...di era yang sudah dipenuhi para pesaing.
pemilik dan pengusaha RMP, harus memeras otak lebih keras lagi apa maunya
pasar.., Seorang teman asing saya ketika saya bawa makan kerumah makan padang
langsung berkomentar " Wah saya kok makan bekas orang lain?"
Mungkin perlu difkirkan merubah cara penyajian, seperti ambil sendiri atau
diambilkan tak perlu lah disodorkan seluruh makanan yang ada didepan meja.
Bayangkan bila ada orang yang nakal meletakan racun disalah satu makanan yang
tidak dimakan. Ini bisa menutup usaha RMP tersebut.
The above message is for the intended recipient only and may contain
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination,
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank
you.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---