Waalaikumsalam w.w. Sanak Defiyan Cori dan para sanak sa palanta, Tantu sajo masih tabuka paluang gadang untuak kito basamo mambahas labiah lanjuik masalah RMP ko. Pandapek ambo kan alun tantu batua. Rasonyo ado manfaatnyo kalau nanti ado di antaro nan mudo-mudo maadokan penelitian nan baiyo bana tantang RMP ko, sabagai pambandiang dari kesan pribadi kito surang-surang. Akan labiah langkok, labiah mandasar, labiah obyektif. [ Atau memang alah ado, hanyo kito nan alun tahu? ]
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] --- On Fri, 1/23/09, Defiyan Cori <[email protected]> wrote: From: Defiyan Cori <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir To: [email protected] Date: Friday, January 23, 2009, 8:49 AM Assalaamuálaikum Wr. Wb. Mudah2an Pak Saaf dan sanak lain yang budiman masih bisa menerima masukan dari ambo ko, InsyaALLAH ambo ndak punyo mukasuik apo2 salain mamajukan nagari nan denai cito. Sabab ambo hanyo urang ketek sajo...nan pernah hiduik padiah baraja dan badiskusi di zaman otoritarian SOEHARTO yang militeristik didikan KNIL tu dan model kepemimpinan ndak jauah beda jo Bulando dan Soekarno, walau lebih halui saketek... Pandangan Sanak ini merupakan salah satu wujud penjelasan yang paling masuk akal. Kita bukan mundur, kita masih jalan di tempat yang sama, tapi secara relatif orang di sekeliling kita yang maju. Kita sendiri sudah merasa puas melakukan hal-hal yang sama, bahkan rindu kembali ke 'kebesaran' masa yang lampau. Ambo setuju Pak Saaf kalau kito mancaliak permasalahan dengan jernih dan masuk akal. Manuruik ambo, awak ko, suku bangsa Minangkabau indak jalan ditempat dan bukan juo nan lain labiah maju dibandiang awak. Jiko kasimpulan iko batua, tantu bangsa ko alah maju ditangah paradaban dunia, tapi nyatonyo apo baitu...? Suku awak memang memiliki kontribusi di masa kemerdekaan bukan di masa Orde Baru,jadi manuruik ambo referensi "kebesaran" memang labiah tapek dilatakkan di maso itu, sadang Orde Baru marusak tatanan awak....apolai jo UU tentang Pemerintahan Desa no.. Mengenai kasus Rumah Makan ko kekhawatiran boleh saja menghinggapi kita dan itu cukup dengan cara yang wajar, karano manuruik ambo iko adolah kasus sajo, ndak sadoalah no Rumah Makan Padang akan kehilangan konsumen karano punyo ciri khas tersendiri. Dan, hadirnya resto-resto baru di daerah adalah sebuah fenomena dengan masakannya juga memiliki cita rasa tersendiri. Secara umum ini adalah sebuah persaingan dalam ceruk pasar, dan setiap orang dapat mengambil peran dalam ceruk pasar tersebut. Untuk tetap bisa mengambil hati para konsumen, maka disinilah perlunya strategi pemasaran dan juga orientasi pelayanan. Jadi tidak ada hubungan berdirinya Rumah Makan baru dengan dominasi Rumah Makan Padang, dan apa pentingnya mendominasi sih...? Saya memang agak terheran-heran melihat satu sikap mental [sebagian besar? ] urang awak yang mungkin merupakan salah satu penyebab dari situasi 'jalan di tempat' tersebut, yaitu konservatisme dan resistensi terhadap perubahan ['jalan di aliah urang manggaleh']. Sungguh sangat jarang saya melihat sikap keterbukaan, apalagi sikap yang berani menjemput dan menciptaan perubahan untuk masa datang. Kalaupun ada, sikap itu lebih merupakan sikap individual dari beberapa 'urang-urang awak' yang berani 'hijrah' dan 'berfikir di luar kotak'. Panduan perubahan kita kan sudah jelas Pak Saaf, falsafah Adat Basandi Syara', Syara'basandi Kitabullah, masalah no apo kito alah menjadikan no sebagai common denominator dalam kehidupan yang penuh persaingan..? Maaf Pak, kalau buliah ambo batanyo konservatisme dan resistensi macam apo yang Pak Saaf mukasuik...? Keberhasilan rangkaian Restoran 'Sederhana' dengan sistem 'franchise' sekarang ini mungkin merupakan salah satu contoh dari satu -- atau beberapa -- orang Minang yang berani menciptakan hal yang baru dari rutinitas 'manajemen restoran Padang' yang lama, yang dahulu pernah diulas dengan baik oleh pak Mochtar Naim. Nah ini kan bukti, bahwa kita tidak mundur, Pak..? Masih banyak bukti2 lain yang ambo temukan di Sulawesi Selatan dan daerah lain, bahwa ada masakan khas Makassar atau daerah lain..itu hal biasa saja dalam persaingan...Di Medan juga ada RM Padang yang maju... Bisakah keberanian ber-'hijrah' dari yang lama dan 'berfikir di luar kotak' ini dikembangkan di kalangan kita orang Minangkabau ? Sudah barang tentu bisa. Bukankah itu sesungguhnya esensi dari tradisi 'merantau' ? Tapi, bagaimana cara melaksanakannya dalam kurun abad ke 21 ini, sewaktu 'rantau' tidak lagi seluruhnya bersahabat, apalagi sewaktu suku-suku lain bergerak lebih cepat dan lebih dinamik ? Jawabannya mungkin terletak dalam pendidikan, khususnya pendidikan pribadi, di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam sekolah. Ambo sipakaiak Pak Saaf undoubtedly bahwa iko nan paliang utamo, Pak Saaf bisa buktikan bahwa nan manggaleh ko kabanyakan tamek apo? Iyo kalau lai amuah baraja, kalau indak iyo..lambek laun ndak jaleh lai ka manggaleh apo...? Iko bana nan indak di paratian dek Pemerintah Sumbar, karano iyo itu tadi "Pemda nyo katak dalam tempurung". Dulu ambo punyo gagasan dan alah ambo sampaikan supayo urang2 kampuang nan punyo sumangaik diajak mancaliak keberhasilan urang lain di nagari lain kalau para ka mancanegara supayo muncul best self learning, indak pejabat nan taruih jalan-jalan do...Eh...nyatonyo iyo pejabat tu nan pai jalan2... Jadi gejala menurunnya dominasi rumah makan Padang mungkin hanyalah salah satu indikasi saja dari fenomena kemunduran umum kita orang Minangkabau dalam dunia yang berubah amat cepat ini, yang jika direnung-renung berakar pada konservatisme dan resistensi kita sendiri terhadap perubahan. Ambo raso awak ndak paralu mandominasi do Pak, nan paliang penting eksistensi urang Minangkabau diharagoi dan manfaat bagi urang banyak, dan itu tidak perlu popularitas media, nanti juga akan dicari sendiri oleh media...Itulah konsep hidup almarhun Pak Natsir. Berita-berita dan opini di media massa bisa kita ambil hikmahnya untuk memotivasi kita lebih maju, bahwa kita adalah suku bangsa yang besar dan bermanfaat bagi bangsa ini. Jadi, mari kita hilagkan pikiran2 mendominasi yang akan menjadi "penyakit" dan menjadi sebab kita tidak beranjak. Masa lalu justru jadi motivator terbaik untuk itu, bukan sebaliknya...mari ita bangun bersama-sama Minagkabau's Dream...lepas dari hal2 yang mendominasi... Wallahualambissawab. Wassalam Defiyan Cori L/41 yang sedang merancang kebangkitan ------------------------------------------------- Rumah Makan Padang sudah jadi nomor satu sejak lama. Orang lain berfikir keras siang malam untuk maju.... Saya jadi teringat dominas komuter AI BI EM di tahun 80 han dan kemudian tergusur pelan pelan dan kemudian ...merangkak untuk bangun lagi...di era yang sudah dipenuhi para pesaing. pemilik dan pengusaha RMP, harus memeras otak lebih keras lagi apa maunya pasar.., Seorang teman asing saya ketika saya bawa makan kerumah makan padang langsung berkomentar " Wah saya kok makan bekas orang lain?" Mungkin perlu difkirkan merubah cara penyajian, seperti ambil sendiri atau diambilkan tak perlu lah disodorkan seluruh makanan yang ada didepan meja. Bayangkan bila ada orang yang nakal meletakan racun disalah satu makanan yang tidak dimakan. Ini bisa menutup usaha RMP tersebut. The above message is for the intended recipient only and may contain confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank you. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
