Assalammualaikum WR WB. Di dekat rumah hanifah juga banyak RMP. Ada juga RMJ yang tempatnya sederhana. Salah satu di antaranya sangat rame. Disana jg tersedia gulai ayam, gulai ikan, asam padeh ikan dll. Target mrk adalah ibu2 atau mhs yang tidak punya waktu untuk memasak shg lauk pauk di beli yg sudah masak. Mrk tdk pakai ruang tempat makan. Harganya murah, rasa enak juga, bersih. Orangnya ramah. RMP sepi2 aja. Mungkio krn lebih mahal, kurang menyediakan berbagai jenis sayuran. Jarang ada tempe dan tahu. Kalau akan ada pertemuan sesama pengusaha RMP saran hanifah sebaiknya cara pelayanan dan pembayaran perlu di rubah. Pernah jg teman ngomong, beda pelayan, beda harga. Swalayan atau sistim tunjuk yang di mau serta bayar sebelum makan bagus jg jd pilihan. Pernah jg teman bercerita ada RMP membuang semua yg telah di sajikan di meja. Resikonya ya mubazir. Atau sajikan apa yang mereka pesan. Mudah2an bermanfaat. Wass. Hanifah
Riri Chaidir wrote: > Pak Saaf, Mak Ngah, dan dunsanak sadonyo. > > Saya mengenal beberapa pemilik dan pegawai RMP, dan beberapa kali berbagi > cerita tentang pengalamannya. Buat saya, justru cerita ini yang membuat saya > tertarik jika ada suatu penelitian yang "komprehensif" yang dilakukan pihak > yang independen. Misalnya PHRI. > > Misalnya tentang persepsi orang asing yang diceritakan Mak Ngah dan Uda > Zulkarnain, tentanng "makanan bekas". Saya juga pernah mendengar komentar > serupa dari salah satu teman satu tim. Lucunya, dia yang berkomentar, tapi > dia juga yang paling doyan ke sebuah rumah makan kecil di Jalan Juanda, > JakPus > > Mungkin penelitian nya bisa menjelaskan, kalau seandainya memang ada > kecenderungan orang asing tidak suka dengan "makanan bekas", bagaimana cara > mengatasinya. Karena "makanan bekas" itu merupakan konsekwensi dari model > pelayanan, dimana begitu orang masuk dan duduk, langsung dihidangkan berbagai > samba. (surang kawan ambo malah "beriklan" ka urang sa bangso jo inyo nan > baru di tim kami, bahwa makanan langsung dihidangkan tanpa bertanya. "even > you only need their chair to fix up your shoelace..." > > Atau penelitian mengenani mengapa satu RMP bisa "tangguh" bersaing dengan > group restaurant (Misalnya, rumah makan ketek nan di Juanda tu; atau di > ujuang jalan Juanda ado lo RMP gadang yang relatif baru tapi bisa rami, > sedangkan satu grup/ franchisee besar "tidak berani" masuk ke situ). > Sebaliknya kenapa sebuah rumah makan anggota grup terkenal di pintu keluar > tol Jatibening bisa sepi, dan akhirnya tutup setelah mencoba selama sekitar 2 > tahun). > > Tapi lagi-lagi, pemikiran awak ko cuma berguna kalau memang para pengusaha > RMP atau PHRI/ LSM lain memang merasa RMP ini harus "dinaikkan kembali > dominasinya". Kalau tidak, ya, he he, memang acok kali awak nan jadi > penontonko maraso lebih terlibat dibandingkan pemain sendiri, he he > > Riri > Bekasi, L 46 > > > > > > 2009/1/24 Dr.Saafroedin BAHAR < [email protected] > > Riri, mungkin akan menarik jika ada di antara kita yang mengenal salah satu > pemilik atau eks pemilik RMP ini menanya bagaimana pengalaman dan harapannya > tentang bisnis yang digelutinya itu. Jika beliau ada waktu, rasanya pak > Mochtar Naim tepat untuk mengadakan hal itu, karena dulu beliau pernah > menulis tentang 'manajemen restoran Padang'. > > Saya belum tahu apakah para pemilik RMP ini mempunyai semacam asosiasi atau > tidak. Kelihatannya kok tidak ada, seperti bisnis 'urang awak' pada umumnya. > > Dapat saya jelaskan bahwa MAPPAS atau WSTB belum siap untuk melakukan hal > itu, karena yang satu hanya kumpulan pemeduli -- semacam pengamat -- dan yang > lain sedang dalam proses pembentukan. > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [email protected] ; > [email protected] > --- On Fri, 1/23/09, Riri Chaidir < [email protected] > wrote: > From: Riri Chaidir < [email protected] > > Subject: [...@ntau-net] Re: Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir > To: [email protected] Date: Friday, January 23, 2009, 8:28 PM > Defyan, Pak Saaf, dan dunsanak sadonyo. > > Ambo kurang tertarik kalau pembahasan tentang RMP ini melebar kemana2. Kalau > sekedar memberikan latar belakang atau contoh kasus yang relatif sama, OK > lah. > > Bukan apa2, saya cuma takut nanti kalau orang2 menganggap saya terlalu > cerdas, sehingga semua orang berebut meng-hire saya untuk membantu > menyelesaikan semua masalah di republik ini. Nak kalau itu terjadi, bilo lo > waktu ambo basuo jo dunsanak di palantako lai. > > Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut artikel Antara > itu sudah menurun dominasinya. Di situ disebutkan 3 "masalah (kesehatan, rasa > pedas, dan harga). Terlepas dari apakah pendapat itu benar atau salah, ada > beberapa pendapat dari dunsanak, mengenai plus minusnya RMP. > > Nah, sekarang tinggal, apakah para pebisnis RMP itu sendiri memang merasa > "terganggu" dengan pemberitaan2 bernada minor tersebut? Kalau iya, mereka > harusnya yang mengatasinya. Tapi mungkin juga mereka tidak terganggu (ini > kalau saya lihat dari 3 faktor penyebab yang disebutkan di artikel tersebut > kan sudah lama). > > Kalau memang ini menjadi concern kita, sebaiknya ini "disalurkan" ke pihak > yang lebih kompeten. Saya juga tidak tahu, apakah pengusaha RMP itu punya > semacam asosiasi atau bagaimana. Tapi mungkin mereka bagian dari PHRI? > > Atau karena rumah makan sudah dianggap bagian dari pariwisata, ya MAPPAS > atau WSTB lah, pak Saaf, mungkin bisa menindaklanjutinya. Kita bisa supply > bahan2 dari diskusi RN, mungkin > > Itu kalau pendapat saya > > > Riri > Bekasi, L 46 > > > > > > > > > > 2009/1/23 Dr.Saafroedin BAHAR < [email protected] > > Waalaikumsalam w.w. Sanak Defiyan Cori dan para sanak sa palanta, > > Tantu sajo masih tabuka paluang gadang untuak kito basamo mambahas labiah > lanjuik masalah RMP ko. Pandapek ambo kan alun tantu batua. > > Rasonyo ado manfaatnyo kalau nanti ado di antaro nan mudo-mudo maadokan > penelitian nan baiyo bana tantang RMP ko, sabagai pambandiang dari kesan > pribadi kito surang-surang. Akan labiah langkok, labiah mandasar, labiah > obyektif. [ Atau memang alah ado, hanyo kito nan alun tahu? ] > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [email protected] ; > [email protected] > --- On Fri, 1/23/09, Defiyan Cori < [email protected] > wrote: > From: Defiyan Cori < [email protected] > Subject: [...@ntau-net] Re: > Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir > To: [email protected] Date: Friday, January 23, 2009, 8:49 AM > Assalaamuálaikum Wr. Wb. > Mudah2an Pak Saaf dan sanak lain yang budiman masih bisa menerima masukan > dari ambo ko, InsyaALLAH ambo ndak punyo mukasuik apo2 salain mamajukan > nagari nan denai cito. Sabab ambo hanyo urang ketek sajo...nan pernah hiduik > padiah baraja dan badiskusi di zaman otoritarian SOEHARTO yang militeristik > didikan KNIL tu dan model kepemimpinan ndak jauah beda jo Bulando dan > Soekarno, walau lebih halui saketek... > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
