> Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut
> artikel Antara itu sudah menurun dominasinya. Di situ 
> disebutkan 3 "masalah (kesehatan, rasa pedas, dan harga).

Sebagai tambahan bahan renungan yang tidak pernah terberita:
1. Kalau soal "pedas", yang banyak juga aorang yang komplein dengan
"manis". Kesukaan pengunjung terserah kepada selera masing-masing.
Soal "harga", sangat bervariasi tergantung pada kempamuan dompet
masing-masing. 

2. Pernah saya mengajak seseorang Sono makan di Rumah Makan Padang.
Tetapi apa gledeknya: "Rumah Makan Padang? Makan sisa?". Saya
terkejut, tidak pernah mendengar pemikiran atau keritikan "Orang Lain"
mengenai Rumah Makan Padang. Rupanya yang menjadi komplein di sini
adalah, makanan yang sudah dihidangkan di meja, sebagian sudah
dipegang-pegang - "dikanyak-kanyak" - orang untuk mengambil kuahnya,
dikembalikan, digabungkan lagi ketempat panci untuk nanti diambil
kembali untuk dihidangkan kepada tamu lain. Jadi ini rupanya yang
dianggap "sisa", "Makan Sisa!".

Salam,
--MakNgah
--Sjamsir Sjarif
 

--- In [email protected], Riri Chaidir <riri.chai...@...> wrote:
>
> Defyan, Pak Saaf, dan dunsanak sadonyo.
> 
> Ambo kurang tertarik kalau pembahasan tentang RMP ini melebar
kemana2. Kalau
> sekedar memberikan latar belakang atau contoh kasus yang relatif
sama, OK
> lah.
> 
> Bukan apa2, saya cuma takut nanti kalau orang2 menganggap saya terlalu
> cerdas, sehingga semua orang berebut meng-hire saya untuk membantu
> menyelesaikan semua masalah di republik ini. Nak kalau itu terjadi,
bilo lo
> waktu ambo basuo jo dunsanak di palantako lai.
> 
> Kalau boleh kita kembali ke topik awalnya. RMP yang menurut artikel
Antara
> itu sudah menurun dominasinya. Di situ disebutkan 3 "masalah (kesehatan,
> rasa pedas, dan harga). Terlepas dari apakah pendapat itu benar atau
salah,
> ada beberapa pendapat dari dunsanak, mengenai plus minusnya RMP.
> 
> Nah, sekarang tinggal, apakah para pebisnis RMP itu sendiri memang
merasa
> "terganggu" dengan pemberitaan2 bernada minor tersebut? Kalau iya,
mereka
> harusnya yang mengatasinya. Tapi mungkin juga mereka tidak terganggu
(ini
> kalau saya lihat dari 3 faktor penyebab yang disebutkan di artikel
tersebut
> kan sudah lama).
> 
> Kalau memang ini menjadi concern kita, sebaiknya ini "disalurkan" ke
pihak
> yang lebih kompeten. Saya juga tidak tahu, apakah pengusaha RMP itu
punya
> semacam asosiasi atau bagaimana. Tapi mungkin mereka bagian dari PHRI?
> 
> Atau karena rumah makan sudah dianggap bagian dari pariwisata, ya MAPPAS
> atau WSTB lah, pak Saaf, mungkin bisa menindaklanjutinya. Kita bisa
supply
> bahan2 dari diskusi RN, mungkin
> 
> Itu kalau pendapat saya
> 
> 
> Riri
> Bekasi, L 46
> 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke