Pak Syaf dan sanak di palanta yang kami hormati,

Sudah menjadi konsekwensi logis bahwa Polemik adat minangkabau tidak
akan pernah berhenti dan diam dari masa kemasa selalu akan timbul
dengan berbagai pandangan dan referensi  akal manusia yang hanya
sekedar mempertahankan  pusako tinggi  demi kelangsungan hidup dan
kehidupan Mandeh, Etek, Uni dan Adiak padusi dikampuang.

Polemik ini akan berhenti bilamana antara ajaran agama Islam (syariat
Islam) dan adat (tradisi) telah sejalan dan searah dengan Al-qur’an
dan Hadist, sebagai orang Islam wajib menegakkan dan menjalankan
Syariat Islam di atas bumi ini, jika tidak maka terimalah menjadi
seorang yang menyandang predikat Kuffur dan Fasik.

Memang agak alot mencari penyelesian dan suatu pengakuan pembenaran,
bilamana salah satu pihak kajian itu dengan pendekatan halal dan
haram  , sementara dipihak lain dengan pendekatan untung dan rugi ,
dengan kata lain salah satu pihak pendekatan kebenaran mereka hanya
karena Iman dan sementara dipihak lain pendekatan kebenaran mereka
hanya karena Akal dan Perut.
Sebenarnya polemik adat minangkabau bisa selesai, jika kita sama-sama
mengunakan satu referensi  yaitu AlQur’an yang bersumberkan dari
perkataan Allah Subhanahuwataala dan Hadist yang bersumberkan dari
ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad Sholalahualaihiwassalam.
Insyaallah ...

Mungkin kita sudah jauh tertinggal dengan daerah-daerah lain yang
telah menetrapkan ABS-SBK yang sesungguhnya, salah satu penyebabnya
adalah niat untuk berangkat maju agak lemah, kendaraannya sudah ada,
sopir  merasa kurang penumpang, dan penumpang ragu naik kendaraan itu
karena banyaknya calo-calo terminal.

Salam,
Muhammad Yamin L46

------------------------------------------------
On Apr 21, 3:34 pm, "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]> wrote:
> Riri,
> Nah di situlah hebatnya, Riri. Perhatikanlah baik-baik -- cukup dalam wacana 
> di RN ini saja -- apa masalah yang selalu diperdebatkan dan siapa yang 
> mendebat secara berkepanjangan setiap upaya untuk menjabarkan ABS SBK itu 
> secara koheren dan konsisten, dan argumen apa yang selalu dikeluarkan.
> Dalam buku saya 'Masih Ada Harapan' (2004) saya mengutip pendapat Prof Amri 
> Marzali yang mengatakan bahwa kehidupan kita orang Minangkabau memang penuh 
> kontradiksi dan inkonsistensi, dan hebatnya, kita kok kelihatannya bangga 
> dengan kontradiksi dan inkonsistensi itu.
> Jadi tak usahlah diusahakan untuk benar-benar mengerti secara logika, coba 
> saja mengerti secara 'minang', apapun artinya itu. Akar masalahnya terletak 
> pada disainnya, sejak 'dari sono'-nya.
> Bagi saya pribadi, diterimanya -- atau tak ditentangnya lagi -- 'Ranji ABS 
> SBK' sudah cukup.
> Mengenai hal-hal lain yang lebih mendasar, saya serahkan saja kepada para 
> pakarnya, kepada para 'stakeholders' lain seperti pada kaum muda dan kaum 
> perempuan Minang, dan akhirnya kepada perkembangan zaman.
> [Saya kan berkali-kali mengatakan saya bukan ahli adat dan juga bukan ahli 
> agama.]
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
> Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
> Alternate e-mail addresses:
> [email protected];
>
> ________________________________
> From: Riri Chaidir <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, April 21, 2009 3:02:31 PM
> Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo
>
> Pak Saaf.
> Kalau begitu,  harusnya (dengan logika dangkal saya) segala issues yang tidak 
> berkaitan dengan sistem kekerabatan harusnya ga ada masalah lagi.
> Jadi harusnya orang2 awam seperti saya bisa dengan jelas melihat “ini adat 
> minangkabau” atau “ini bukan” …
> Tapi rasanya kok belum2 juga ya …
>  
> Riri
>  
>
> ________________________________
>
> From:[email protected] [mailto: [email protected] ] On 
> Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
> Sent: Tuesday, April 21, 2009 11:45 AM
> To: [email protected]
> Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo
>  
> Riri dan para sanak sa palanta,
> Kebetulan, salah seorang mahasiswa saya pada Program Pascasarjana UGM tahun 
> 2007 yang lalu berasal dari Gorontalo, dan membenarkan bahwa masyarakat di 
> sana berpegang pada ABS SBK, seperti juga di Bengkulu, Riau, dan Brunai.
> Hanya bagusnya, mereka tak menghadapi komplikasi seperti di Sumatera 
> Barat, karena baik masyarakatnya maupun agama islam mengajarkan sistem 
> kekerabatan patrilineal. Berbeda dengan kita di Sumatera Barat yang menganut 
> sistem kekerabatan matrilineal.
> Dengan kata lain, masalah ABS SBK di Sumatera Barat bukan pada Rukun Iman dan 
> atau Rukun Islam, tetapi pada sistem kekerabatan, dan seiring dengan itu, 
> pada hukum waris. Dan -- susahnya -- jika sudah bicara mengenai dua hal ini, 
> maka berhentilah semua wacana, kita akan berbicara berputar-putar tak 
> habis-habisnya seperti dapat dibuka kembali pada arsip Rantau Net ini.
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta ; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, 
> Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
> Alternate e-mail addresses:
> [email protected];
> [email protected]
> [email protected]
>  
>  
>  
>  
>
> ________________________________
>
> From:Riri Chaidir <[email protected]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, April 21, 2009 10:59:48 AM
> Subject: [...@ntau-net] Re: ABS-SBK di Gorontalo
> Kelihatannya masyarakat Gorontalo Bukan hanya mengenal, tetapi malah lebih 
> jauh.
>  
> Ini juga dicantumkan dalam dokumen2 pemerintahan, ada yang menyebutkan Adat 
> bahkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan.(Profil Daerah 
> Gorontalo di website 
> Depdagri,http://www.depdagri.go.id/konten.php?nama=Daerah&op=detail_provinsi&i...).
>  
> Nah, saya tidak tahu, apakah di Sumbar sikap masyarakat dan pemerintahnya 
> sampai kesini atau masih terbatas wacana2 di palanta
>  
>  
> Riri
> Bekasi, L 46
>  
>  
>  
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto: [email protected] ] On 
> Behalf Of Lies Suryadi
> Sent: Tuesday, April 21, 2009 7:57 AM
> To: [email protected]
> Subject: [...@ntau-net] ABS-SBK di Gorontalo
>  
>  
>  
> Dunsanak di lapau sakalian,
> Ambo baco di koran, liek di tipi, masyarakat Gorontalo juo mengenal ABS-SBK. 
> Ha...baa pulo konsep mereka tu? Mungkin lai ado sanak di lapau nan tau.
>  
> Wassalam.
> Suryadi
>  
>
> [email protected]
> [email protected]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke