Pak Bambang SP, Pak Tatok dan rekan-rekan milist ysh,

Saya sepakat bahwa Gubernur Fadel Muhammad telah
bertindak cerdik dalam memilih strategi pengembangan
wilayah Gorontalo. Mengapa saya mengatakannya sebagai
suatu strategi cerdik? Saya akan menjelaskannya
kemudian.

Sangat banyah referensi dan pengalaman dari proses
urbanisasi danmetropolisasi (bahkan ada pengalaman
megapolisasi) yang dimulai oleh pemilihan strategi
pengembangan pertanian pada awalnya. Megapolisasi Sao
Paulo merupakan salah satu contohnya.

Mungkin semua kita sekarang mengenal Sao Paulo sebagai
salah satu megapolitan dunia di negara berkembang yang
dalam beberapa hal banyak dijadikan referensi
pembangunan kota di negara berkembang. Namun, mungkin,
hanya sedikit dari kita yang tahu bahwa di akhir abad
19, yaitu di sekitar tahun 1880an, Sao Paulo hanya
merupakan sebuah desa kecil di pesisir Brasil. Pada
sekitar tahun &_çàan, Sao Paulo mulai dikembangkan
dengan melakukan pembukaan secara besar-besaran
perkebunan kopi di Sao Paulo dan sekitarnya. Kopi
merupakan sebuah komoditas yang sangat berharga ketika
itu selain gula dan rempah-rempah. Pembukaan
pêrkebunan tersebut berhasil mendatangkan arus migrasi
penduduk (beserta modal dan investasinya) dari Amerika
Utara dan terutama Eropa Barat, yang kemudian menambah
kekuatan urbanisasi dari Sao Paulo.

Di awal abad ke 20, yaitu di sekitar tahun 1910an,
suatu rentang antara 20-30 tahun setelah pembukaan
lahan perkebunan, mulai dikembangkan kegiatan industri
di Sao Paulo. Perkembangan industri terus meningkatkan
urbanisasi dan metropolisasi Sao Paulo sehingga di
pertengahan abad 20 Sao Paulo telah menjadi salah satu
metropolitan Brasil yang sangat penting. Sekarang di
awal abad 21, Sao Paulo menjadi kota terbesar di
Brasil dengan kontribusi industri yang lebih dari
separuh nilai industri Brasil.

Bercermin dari pengalaman Sao Paulo tersebut, beberpa
hal yang harus dicermati oleh Gubernur Fadel Muhammad
dalam strateginya mengembangkan Gorontalo sebagai
propinsi jagung.

Pertama, saya menilai menilai strategi Gubernur Fadel
Muhammad dalam mengembangkan Propinsi Gorontalo
melalui jagung merupakan suatu strategi cerdik.
Mengapa? Mengapa bukan cengkeh, padahal dulu cengkeh
merupakan salah satu komoditas utama dari Sulawesi.
Mungkin karena cengkeh tidak lagi menjadi suatu
primadona karena sudah dihancurkan oleh BPPC (he...
he... he.... Mohon maaf karena pendapat ini terlalu
tendensius). Tapi saya pikir karena cengkeh merupakan
suatu komoditas yang tidak banyak forward linkages-nya
dan relatif monopsongi, yaitu komoditas yang pasarnya
relatif hanya satu industri yaitu industri rokok
kretek. Akibatnya cengkeh bukan menjadi pilihan
Gubernur Fadel dalam pemilihan komoditas unggulan bagi
wilayahnya, walaupun cengkeh punya sejarah panjang di
Sulawesi termasuk gorontalo (mungkin... Ini dugaan
saya saja).

Saya katakan bahwa Gubernur Fadel cerdik memilih
jagung, karena setidaknya karena beliau berhasil
memilih komoditas yang berpotensi untuk bersifat 'masa
depan'. Setidaknya hal ini disebabkan karena beberapa
hal. Pertama, jangung bukan saja komoditas yang 'bukan
final product', melainkan suatu komodutas yang bisa
berfungsi sebagai final, intermediare atau bahkan
starting product. Jagung bisa langsung dikonsumsi
sebagai makanan pokok karena karbohidrat, protein dan
lemaknya. Tapi jagung juga bisa dijadikan sebagai
bahan baku pakan ternak atau 'pakan manusia' setelah
diolah menjadi bentuk-bentuk (produk-produk) lainnya
apakah jagung pipilan, jagung pecahan, tepung jagung,
dll. Selain itu, salah satu potensi jagung yang lain
adalah potensinya sebagai bahan baku energi
alternatif. Ini yang membuat jagung berpotensi untuk
memiliki banyak pasar.

Dan yang kedua adalah potensi limbah jagung yang
berpotensi untuk bahan baku pupuk alternatif. Selama
ini, limbah jagung yang berasal dari pohon jagung yang
sudah mengering belum termanfaatkan karena biasanya
hanya untuk dibakar. Padahal limbah tsb memiliki
volume yang sangat banyak dibandingkan dengan produk
utamanya yaitu biji jagung. Oleh karena itu, apabila
bisa diciptakan bahwa limbah (sampah) tersebut adalah
salah satu aset yang harus dimanfaatkan dengan baik,
maka limbah tsb bisa dicacah untuk kemudian
difermentasi (?) sehingga dapat menjadi kompos yang
nantinya dapat digunakan untuk pertanian jagung
organik yang khusus untuk konsumsi manusia. Di
beberapa negara maju seperti di Eropa, produk-produk
pertanian organik memiliki tempat yang tersendiri di
dalam pasar. Apakah jagung organik juga punya potensi?
Hal itu harus dicari tahu secara lebih detail. Apabila
hal-hal di atas tsb benar, maka pemilihan jagung di
Gorontalo bisa bersifat sama dengan pemilihan kopi di
Sao Paulo di akhir abad 19. 

Hal kedua yang harus dicermati oleh Gubernur Fadel
adalah bahwa Sao Paulo memerlukan migrasi tenaga
kerja, investor beserta modalnya untuk mengembangkan
desa Sao Paulo untuk menjadi kota besar. Penduduk
Propinsi Gorontalo yang masih kurang dari 1 juta
(833,5 ribu jiwa) di tahun 2000 masih memungkinkan
untuk diperbesar dengan berbagai kebijakan pembangunan
yang tepat, seperti kebijakan investasi perkebunan yg
ramah, pengembangan pelayanan pendidikan yang murah
namun berkualitas (karena banyak disubsidi oleh
pemerintah), pengembangan fasilitas kesehatan yang
terjangkau dsb. Jumlah penduduk yang tidak terlampau
besar akan memberi keuntungan karena lebih mudah dalam
peningkatan pelayanan pendidikan, kesehatan dan
pelayanan sosial lainnya. Harapannya, kapasitas dan
kemampuan produksi masyarakat bisa dijaga dan bahkan
ditingkatkan.

Hal ketiga yang perlu dicermati adalah waktu yang
panjang, yaitu antara 20 - 30 tahun untuk Sao Paulo
bisa mengembangkan kegiatan industri setelah
pengembangan pertaniannya. Namun hak ini bukan berarti
bahwa Gorontalo juga harus memerlukan waktu 20 - 30
tahun untuk mengembangkan kegiatan industrinya
terutama industri yang berbasis jagung. Kemajuan
teknologi informasi, komunikasi, perhubungan dan
transportasi serta keterbukaan pasar pada saat ini
bisa dimanfaatkan untuk mempersingkat waktu tersebut
sehingga


--- "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> Kangmas Tatok YY ysh,
> 
> Wah saya jadi jambu mete bener2 deh (untuk uda2 dan
> uni dari minang, itu artinya bener2 saya jeblok dan
> terjungkel sampai ngringkel diberi sanjungan yang
> tidak pada tempatnya) diberi compliment dari kangmas
> Tatok yang saya sudah intip mempunyai segudang
> pengalaman.
> 
> Saya sangat setuju sekali dengan pendapat kangmas
> Tatok bahwa platform dan frame yang diambil oleh
> Fadel adalah dari Israel, dan itu tidak pernah
> sebelumnya disadari oleh staf2nya maupun legislatif
> (mohon maaf saya terlalu terbuka mengatakan hal
> ini). Konsep ini benar2 dibangun dari Fadel. 
> 
> Tentang konsep ebenezer sebenarnya juga pernah
> mewarani pola pikir para pengambil keputusan pada
> jaman tahun 1980an. Saya masih sangat ingat waktu
> itu dengan pola2 hunian dalam bentuk2 unitnya. Ini
> kemudian digodok dengan pendekatan Indonesia
> misalnya oleh timnya pak Suroto (bekas Asmen Pera,
> Dirut Perumnas) dalam menelurkan UU 4/1992 tentang
> perumahan. Disana dikembangkan pendekatan Kasiba dan
> Lisiba. Namun waktu itu, ada pertanyan dari teman2
> saya dari DTKTD yang waktu itu sangat canggih2
> antara lain adalah pak Yusuf Yuniarto (sekarang
> Asdep di Menpera) tentang seberapa besar sebenarnya
> standard ukuran seperti yang disebut oleh Ebenezer
> tersebut untuk Indonesia. apa benar 400 ha untuk
> sbeuah newton itu ukuran yang pas. Waktu itu
> kebetulan yang diambil kasus Yogya. Apa iya Yogya
> yang karena sifat lingkungannya dan kepadatan pada
> kota eksistingnya demikian tinggi membutuhkan ada
> aglomerasi baru 400 ha. Waktu itu kemudian diambil
> sebuah kompromi. Namun kompromi tersebut menjadi
> mengambangkan kata standar tersebut. 
> 
> Jadi menurut saya, apa tidak lebih baik kita masuk,
> pada saat akan menggunakan konsep barat tersebut,
> hanya pada framework of thinkingnya saja dan
> kemudian masing-masing variabel tersebut disesuaikan
> dengan variabel diterminan yang exist di Indonesia. 
> 
> Contoh menarik, saat orang mengatakan bahwa
> Malioboro harus ditata. Saya mengatakan justru
> tidak. Biarkan saja. Yang diperlukan adalah
> memberikan kesempatan hidup yang lebih luas bagi
> masyarakat jogja tidak di Malioboro. Karena bila
> kita akan mengatur Malioboro saat ini, yang terjadi
> adalah chaos dan tidak akan bisa menyelesaikan
> masalah apapun. 
> 
> Juga seperti kata Gubernur Tokyo waktu itu, Suzuki,
> waktu ditanya oleh Menteri Radinal Moochtar pada
> waktu itu : apa saran anda untuk menyelesaikan
> permasalahan banjir Jakarta. Jawabnya, biarkan saja.
> Yang harus anda lakukan adalah justru meningkatkan
> income masyarakat. Begitu masyarakat income naik,
> maka akan terjadi self impowering dari masyarakat
> itu, sehingga sebagian terbesar beban banjir akan
> terkurangi. Anda akan dapat menyelesaikan masalah
> tersebut. Karena permasalahan ruang TIDAK BISA
> DISELESAIKAN DENGAN PENGATURAN RUANG SEMATA SERING
> PERMASALAHAN RUANG LEBIH EFEKTIF DENGAN
> MENYELESAIKAN AKAR PERMASALAHANNYA. Saya yakin pak
> Sujana Royat masih ingat waktu itu, karena pak
> almarhum mengatakannya didepan dia juga. 
> 
> Mungkin itu yang menjadi dasar saya waktu saya
> diberi tugas di jogja. Waktu itu konsentrasi justru
> tidak dilakukan untuk melakukan pengaturan ruang,
> tetapi lebih kepada menciptakan kondisi agar ruang
> tidak dirusak oleh pertumbuhan masyarakat baik di
> rural maupun terutama di urban. Masalahnya, ternyata
> saya harus mengakui saat ini, pada saat pembangunan
> menjadi sangat bersifat mundane, dan masalah
> spiritual dan budaya terlupakan, maka alam membuat
> sebuah koreksi sendiri.... Mas Tatok, mungkin saya
> akan bercerita banyak disini pada saatnya. Soalnya
> memang saya menemukan hal yang menarik, misalnya
> bahwa bentuk ruang bisa dipengaruhi oleh sebuah Sego
> Pecel atau Brongkos. Sebuah bentuk pemanfaatan ruang
> bisa dipengaruhi oleh Sate klathak... he he he.
> 
> Mohon maaf saya terlalu bersemangat



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke