Maturnuwun kangmas bspriyo ingkang sampun kerso tanggap wacana. sepertinya disini gabungan pengembangan kota dengan pengembangan perumahan, nah konsep yang saya denger dari sumbernya tentang besarannya menganut prinsip threshold analysis. kalo terlalu kecil akan menyebabkan subsidi untuk transport, air minum dll menjadi besar, klo terlalu besar maka kemampuan manajemennya juga menjadi pertanyaan, lalu berapa besarnya? kata sumber. karena yang alatnya adalah threshold analysis, maka satuan untuk ngukurnya bukan luas (ha), tetapi jumlah penduduk yang dapat ditampung, klo bangunan vertikal, dan horizontal kan hetungannya lain (luasnya). pada saat itu ukuran kota kecil adalah antara 20 000 sampai 100 000 penduduk, katanya batasan2 inilah yang digunakan, didukung dengan empiris, bahwa klo perumahan baru dan sedikit terisolasi, angkot, warung, termasuk wartel/net baru mau buka/melayani masyarakat kalau sudah mencapai 600-1000 unit rumah, sebelum mencapai itu ya ojek dan beca saja, nasi gorengpun enggan masuk.
nuwun sewu boleh kita flash back sebentar, UU 4/92 di formulasikan untuk menanggapi situasi sebelum tahun 1992, dimana kondisi saat itu business perumahan sedang booming, kemudahan banyak sekali tersedia. maka jiwa UU 4/92 lebih banyak controlling dari encouraging tho, nah sekarang ini kondisinya berbalik 180 derajat alias slump business properti kolaps, kecuali apartemen yang tidak untuk urban poor. yang diperlukan adalah daya dorong untuk pembangunan perumahan bagi urban poor. nah ketentuan dan strategi menghadapi kondisi ini blm terformulasikan. ini merupakan tantangan buat kita semua. Mas bspriyo yang waskito, setuju sekali framework of thinking boleh pinjam, dengan penyesuaian terhadap kondisi yang kita hadapi. katanya kita ini sudah berubah paradigma (makaten njih mas bspriyo) Good Governance berarti mitra kita juga diajak ya. inilah yang perlu kita rintis bersama, kemitraan, yang setara. Nyuwun sewu mas bspriyo sepindah malih, untuk menggalang kemitraan diperlukan saling percaya dan untuk saling percaya diperlukan kejujuran, nah disinilah intinya baik dari tataran tinggi maupun tataran implementasi. Untuk itu marilah kita dahar kembul sego pecel, brongkos, lalapan sambel klathak. jujur menawi eco matur eco, menawi mboten eco njih matur ra uenak. untuk menyantuni para urban poor diperlukan kejujuran dan dedikasi tinggi terhadap warga negara yang masih ketinggalan, jadi selain sosial, budaya/cultur juga diperlukan mental model yang berdedikasi pada urban poor/komitment. (leres mas?). tantangan disini adalah bagaimana membangun kejujuran secara berjamaah dalam pembangunan kota?? kok sampai pada cultur yang jujur mas???? nuwun ttyy. --- "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kangmas Tatok YY ysh, > > Wah saya jadi jambu mete bener2 deh (untuk uda2 dan > uni dari minang, itu artinya bener2 saya jeblok dan > terjungkel sampai ngringkel diberi sanjungan yang > tidak pada tempatnya) diberi compliment dari kangmas > Tatok yang saya sudah intip mempunyai segudang > pengalaman. > > Saya sangat setuju sekali dengan pendapat kangmas > Tatok bahwa platform dan frame yang diambil oleh > Fadel adalah dari Israel, dan itu tidak pernah > sebelumnya disadari oleh staf2nya maupun legislatif > (mohon maaf saya terlalu terbuka mengatakan hal > ini). Konsep ini benar2 dibangun dari Fadel. > > Tentang konsep ebenezer sebenarnya juga pernah > mewarani pola pikir para pengambil keputusan pada > jaman tahun 1980an. Saya masih sangat ingat waktu > itu dengan pola2 hunian dalam bentuk2 unitnya. Ini > kemudian digodok dengan pendekatan Indonesia > misalnya oleh timnya pak Suroto (bekas Asmen Pera, > Dirut Perumnas) dalam menelurkan UU 4/1992 tentang > perumahan. Disana dikembangkan pendekatan Kasiba dan > Lisiba. Namun waktu itu, ada pertanyan dari teman2 > saya dari DTKTD yang waktu itu sangat canggih2 > antara lain adalah pak Yusuf Yuniarto (sekarang > Asdep di Menpera) tentang seberapa besar sebenarnya > standard ukuran seperti yang disebut oleh Ebenezer > tersebut untuk Indonesia. apa benar 400 ha untuk > sbeuah newton itu ukuran yang pas. Waktu itu > kebetulan yang diambil kasus Yogya. Apa iya Yogya > yang karena sifat lingkungannya dan kepadatan pada > kota eksistingnya demikian tinggi membutuhkan ada > aglomerasi baru 400 ha. Waktu itu kemudian diambil > sebuah kompromi. Namun kompromi tersebut menjadi > mengambangkan kata standar tersebut. > > Jadi menurut saya, apa tidak lebih baik kita masuk, > pada saat akan menggunakan konsep barat tersebut, > hanya pada framework of thinkingnya saja dan > kemudian masing-masing variabel tersebut disesuaikan > dengan variabel diterminan yang exist di Indonesia. > > Contoh menarik, saat orang mengatakan bahwa > Malioboro harus ditata. Saya mengatakan justru > tidak. Biarkan saja. Yang diperlukan adalah > memberikan kesempatan hidup yang lebih luas bagi > masyarakat jogja tidak di Malioboro. Karena bila > kita akan mengatur Malioboro saat ini, yang terjadi > adalah chaos dan tidak akan bisa menyelesaikan > masalah apapun. > > Juga seperti kata Gubernur Tokyo waktu itu, Suzuki, > waktu ditanya oleh Menteri Radinal Moochtar pada > waktu itu : apa saran anda untuk menyelesaikan > permasalahan banjir Jakarta. Jawabnya, biarkan saja. > Yang harus anda lakukan adalah justru meningkatkan > income masyarakat. Begitu masyarakat income naik, > maka akan terjadi self impowering dari masyarakat > itu, sehingga sebagian terbesar beban banjir akan > terkurangi. Anda akan dapat menyelesaikan masalah > tersebut. Karena permasalahan ruang TIDAK BISA > DISELESAIKAN DENGAN PENGATURAN RUANG SEMATA SERING > PERMASALAHAN RUANG LEBIH EFEKTIF DENGAN > MENYELESAIKAN AKAR PERMASALAHANNYA. Saya yakin pak > Sujana Royat masih ingat waktu itu, karena pak > almarhum mengatakannya didepan dia juga. > > Mungkin itu yang menjadi dasar saya waktu saya > diberi tugas di jogja. Waktu itu konsentrasi justru > tidak dilakukan untuk melakukan pengaturan ruang, > tetapi lebih kepada menciptakan kondisi agar ruang > tidak dirusak oleh pertumbuhan masyarakat baik di > rural maupun terutama di urban. Masalahnya, ternyata > saya harus mengakui saat ini, pada saat pembangunan > menjadi sangat bersifat mundane, dan masalah > spiritual dan budaya terlupakan, maka alam membuat > sebuah koreksi sendiri.... Mas Tatok, mungkin saya > akan bercerita banyak disini pada saatnya. Soalnya > memang saya menemukan hal yang menarik, misalnya > bahwa bentuk ruang bisa dipengaruhi oleh sebuah Sego > Pecel atau Brongkos. Sebuah bentuk pemanfaatan ruang > bisa dipengaruhi oleh Sate klathak... he he he. > > Mohon maaf saya terlalu bersemangat __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

