Kangmas Tatok YY ysh,

Wah saya jadi jambu mete bener2 deh (untuk uda2 dan uni dari minang, itu 
artinya bener2 saya jeblok dan terjungkel sampai ngringkel diberi sanjungan 
yang tidak pada tempatnya) diberi compliment dari kangmas Tatok yang saya sudah 
intip mempunyai segudang pengalaman.

Saya sangat setuju sekali dengan pendapat kangmas Tatok bahwa platform dan 
frame yang diambil oleh Fadel adalah dari Israel, dan itu tidak pernah 
sebelumnya disadari oleh staf2nya maupun legislatif (mohon maaf saya terlalu 
terbuka mengatakan hal ini). Konsep ini benar2 dibangun dari Fadel. 

Tentang konsep ebenezer sebenarnya juga pernah mewarani pola pikir para 
pengambil keputusan pada jaman tahun 1980an. Saya masih sangat ingat waktu itu 
dengan pola2 hunian dalam bentuk2 unitnya. Ini kemudian digodok dengan 
pendekatan Indonesia misalnya oleh timnya pak Suroto (bekas Asmen Pera, Dirut 
Perumnas) dalam menelurkan UU 4/1992 tentang perumahan. Disana dikembangkan 
pendekatan Kasiba dan Lisiba. Namun waktu itu, ada pertanyan dari teman2 saya 
dari DTKTD yang waktu itu sangat canggih2 antara lain adalah pak Yusuf Yuniarto 
(sekarang Asdep di Menpera) tentang seberapa besar sebenarnya standard ukuran 
seperti yang disebut oleh Ebenezer tersebut untuk Indonesia. apa benar 400 ha 
untuk sbeuah newton itu ukuran yang pas. Waktu itu kebetulan yang diambil kasus 
Yogya. Apa iya Yogya yang karena sifat lingkungannya dan kepadatan pada kota 
eksistingnya demikian tinggi membutuhkan ada aglomerasi baru 400 ha. Waktu itu 
kemudian diambil sebuah kompromi. Namun kompromi tersebut menjadi mengambangkan 
kata standar tersebut. 

Jadi menurut saya, apa tidak lebih baik kita masuk, pada saat akan menggunakan 
konsep barat tersebut, hanya pada framework of thinkingnya saja dan kemudian 
masing-masing variabel tersebut disesuaikan dengan variabel diterminan yang 
exist di Indonesia. 

Contoh menarik, saat orang mengatakan bahwa Malioboro harus ditata. Saya 
mengatakan justru tidak. Biarkan saja. Yang diperlukan adalah memberikan 
kesempatan hidup yang lebih luas bagi masyarakat jogja tidak di Malioboro. 
Karena bila kita akan mengatur Malioboro saat ini, yang terjadi adalah chaos 
dan tidak akan bisa menyelesaikan masalah apapun. 

Juga seperti kata Gubernur Tokyo waktu itu, Suzuki, waktu ditanya oleh Menteri 
Radinal Moochtar pada waktu itu : apa saran anda untuk menyelesaikan 
permasalahan banjir Jakarta. Jawabnya, biarkan saja. Yang harus anda lakukan 
adalah justru meningkatkan income masyarakat. Begitu masyarakat income naik, 
maka akan terjadi self impowering dari masyarakat itu, sehingga sebagian 
terbesar beban banjir akan terkurangi. Anda akan dapat menyelesaikan masalah 
tersebut. Karena permasalahan ruang TIDAK BISA DISELESAIKAN DENGAN PENGATURAN 
RUANG SEMATA SERING PERMASALAHAN RUANG LEBIH EFEKTIF DENGAN MENYELESAIKAN AKAR 
PERMASALAHANNYA. Saya yakin pak Sujana Royat masih ingat waktu itu, karena pak 
almarhum mengatakannya didepan dia juga. 

Mungkin itu yang menjadi dasar saya waktu saya diberi tugas di jogja. Waktu itu 
konsentrasi justru tidak dilakukan untuk melakukan pengaturan ruang, tetapi 
lebih kepada menciptakan kondisi agar ruang tidak dirusak oleh pertumbuhan 
masyarakat baik di rural maupun terutama di urban. Masalahnya, ternyata saya 
harus mengakui saat ini, pada saat pembangunan menjadi sangat bersifat mundane, 
dan masalah spiritual dan budaya terlupakan, maka alam membuat sebuah koreksi 
sendiri.... Mas Tatok, mungkin saya akan bercerita banyak disini pada saatnya. 
Soalnya memang saya menemukan hal yang menarik, misalnya bahwa bentuk ruang 
bisa dipengaruhi oleh sebuah Sego Pecel atau Brongkos. Sebuah bentuk 
pemanfaatan ruang bisa dipengaruhi oleh Sate klathak... he he he.

Mohon maaf saya terlalu bersemangat

Kirim email ke