Kangmas Tatok ysssh (yang saya sangat sangat hormati) serta rekan milister ysc,

Saya benar2 malu dengan ungkapan mas Tatok. Saya hanya bisa matur, nun inggih 
kangmas panci leres sanget (untuk uda dan uni artinya : bana sakali Uda Tatok, 
semuanyo bana sakali. Indak ado salahnyo). Saya mencoba menjawab dari hal yang 
paling substantial menurut saya.

1. Kejujuran 

Yang paling penting dalam sebuah proses perencanaan adalah kejujuran dimana 
huruf J harus dengan kapital yang sangat2 besar. Tetapi ternyata di dunia ini 
komoditi yang bernama JUJUR itu makin lama makin sulit diperoleh karena 
produsennya kelihatannya pada bangkrut. Karena kejujuran tidak saja menyangkut 
akan menjadi apa suatu ruang, namun yang lebih penting adalah apa maknanya dan 
bagaimana mencapainya serta yang jauh lebih penting lagi adalah apa manfaat 
bagi baik orang yang tinggal di ruang tersebut dan bagi masyarakat yang lebih 
luas.

Salah satu contoh adalah perkataan bahwa produk rencana harus aksesible 
terhadap semua pihak. Saya tidak mau membahas tentang DTK (dinas tata kota) 
yang sukar untuk ditembus, bukan itu. Tapi, misalpun peta rencana tersebut 
dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat, apa yang dapat ditangkap 
oleh mbok Karto yang jualan di pasar Peterongan sana  (ini di Semarang), atau 
di pasar Bendul Merisi (ini di Surabaya)  akan sangat berbeda dengan yang 
dicerna oleh pak Gunawan Sukakaya yang tinggal di Dharmo Grand Surabaya sana, 
atau oleh pak Victor Rajakaya yang tinggal di Candi Semarang. Karena menangkap 
opportunity dari sebuah rencana bagi orang yang satu dan yang lain itu berbeda. 

Disini kata aksesible hanya sampai dengan mudahnya suatu rencana atau suatu 
maksud dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Tetapi yang lebih 
penting adalah aksesible pada pemahaman terhadap dampak dari rencana tersebut 
serta manfaatnya bagi masyarakat secara individu. Sering seorang perencana 
mengatakan, lho dibangun jalan ini khan agar ibu mudah melaksanakan perjalanan. 
Mereka akan sering bereaksi, wah kulo mboten ngertos kok sakjatosipun manfaat 
kangge kulo (baca = saya tidak tahu apakah sebenarnya manfaat dari jalan itu). 
Coba saja tanya pada mereka2 itu yang menjadi mayoritas penduduk tentang 
rencana2 besar perencana. Pasti mereka akan bila kulo mboten magertos atau 
mboten paham/ abdi henteu terang. 

Disinilah paradoks dari sebuah rencana. Yang sering kurang dicermati oleh para 
perencana tersebut.

2. Manusia adalah makhluk sosial dan bukan sekedar angka.

Mas Tatok ngendiko tentang treshold, memang itu benar sekali kalau itu 
dikaitkan dengan besaran penduduk. Yang menarik untuk kita cermati adalah 
disini penduduk selalu dilihat sebagai angka, bukan sebagai manusia yang 
seutuhnya. Padahal manusia adalah merupakan makhluk yang sangat kompleks. 
Sehingga angka 1000 yang secara satuan unit rumah bisa dianggap sebagai 1 unit, 
dalam pandangan tertentu bisa berarti 3 unit misalnya, bila itu sudah melihat 
kompleksitasnya. Kita sering mengatakan, ah itu bisa dibuat suatu desain untuk 
merekayasa sistim sosialnya. Kalimat tersebut bagi saya berdasarkan pengalaman 
yang ada ternyata terlalu menggampang persoalan dan sangat berbahaya. 

Contohnya adalah kegagalan awal saya waktu pertama menganggap masyarakat 
pedagang K-5nya Malioboro yang jumlahnya waktu itu hanya sekitar 869, dapat 
dirangkum dalam 1 paguyuban. Ternyata mereka benar2 tidak bisa untuk disatukan 
meskipun secara ruangan mereka hampir overlap. Mereka terkelompok dalam 5 
paguyuban yang berbeda-beda. Mereka berusaha dalam ruangan yang sama dan waktu 
yang sama. Hal ini mungkin yang perlu kita sadari. Hati2 dengan simplifikasi. 
Memang tidak salah teori lokasi, tetapi pada saat perumusan pahami benar2 
sistim sosialnya.

Disinilah sering perencana terjebak (termasuk saya sering mengalami hal 
tersebut) pada penyederhanaan manusia hanya sebagai unsur dalam pembentuk 
ruang. Padahal sering kita lihat bahwa manusia sebenarnya sebagai unsur utama 
(diterminant variable) dalam pembentuk ruang dan yang lain adalah menjadi 
pelengkap. Memang benar bahwa meski pelengkap, kepentinganya harus diperhatikan 
dalam rangka kelestarian. Namun jangan dibalik, dalam rangka kelestarian justru 
kepentingan manusia dikorbankan.

3. UU 4/1992 sebagai gabungan urban planning dan housing development

Dan terakhir, saya sangat setuju pendapat kangmas Tatok bahwa UU 4/1992 adalah 
merupakan suatu kompromis pendekatan terhadap proses perencanaan spasial sejak 
dari nasional/regional menuju ke urban/rural planning dan turun ke detail dan 
akhirnya ke housing. Perlu juga dicermati bahwa pada masa itu sebenarnya telah 
terjadi rivalitas antara 2 direktorat yaitu direktorat perumahan dan direktorat 
tata kota dan tata daerah. Motornya pada waktu itu adalah pak Suroto/pak Suyono 
MSc di perumahan, dan pak Ruslan Diwiryo/pak Suyono MSc (menarik beliau adalah 
orang perumahan yang di DTKTD kan. Nah pendekar2 Tata Ruang pada waktu itu 
antara lain adalah pak Risman Maris. Justru yang menarik adalah bahwa Planologi 
ITB tidak terlalu banyak berkiprah pada awalnya. Baru masuk Planologi ITB yang 
dimotori oleh almarhum pak Sugijanto Soegijoko dengan NUDSnya. Itupun 
sebenarnya sebuah proses panjang yg dipersiapkan sejak pak Sugijanto sekolah 
doktoralnya di MIT waktu itu. 

Saya ingin sekali bercerita tentang hal tersebut di lain kesempatan sehingga 
kita bisa memahami sebenarnya apa yang terjadi dengan perencanaan kita di 
Indonesia ini, dan sebenarnya perencanaan kita saat ini tidaklah sama dengan 
perkembangan perencanaan di Amerika maupun di Eropa sana. 

Saya masih ingat bagaimana dit perumahan menjabarkan RTBL dan disandingkan 
dengan RTR. Dimana fungsi dit perumahan dan dimana fungsi dtktd. Perlu diingat 
bahwa UU4/1992 adalah produk yg lebih dulu lahir dibandingkan UU 24/92 meski 
ditahun yang sama. Itu adalah produk kompromistis. Sehingga KASIBA disandingkan 
dengan NTD (newton development). dan LISIBA sebagai thematic unit (waktu itu 
didefinisikan demikian). 

Kebetulan memang waktu itu sedang booming perumahan. Namun sebenarnya UU 4/1992 
merupakan salah satu amanat Tahun Dasawarsa Perumahan (acara ini sudah hilang) 
dengan gerakan rumah sederhana.

Sekian dulu ocehan saya, semoga bermanfaat.

Salam dari jogja

bambang sp 


 

Kirim email ke