Pak "bspriyo" ysm (yang saya muliakan)
Boleh jadi realitasnya terlalu sedikit orang-orang desa yang pegang pecahan
rupiah 100.000an. Kalo mereka sempet pegang pecahan tsb, maka buru-burulah
mereka pergi ke BRI unit desa yang sudah menyebar di seluruh desa di seantero
nusantara ini (karena desa2 juga mulai tidak aman). Kemudian oleh sang "BRI"
dana-dana tersebut dikumpulkan di kota terbesar guna dibelanjakan untuk memberi
kredit bagi pengusaha-pengusaha di kota terbesar (atau kota-kota besar) atau
malah untuk beli SBI di kota terbesar. Jadi mungkin lho, yang menyebabkan
primacy itu sang "BRI" tersebut (dan tentunya termasuk "Bank-Bank Nasional"
lainnya, baik milik pemerintah maupun swasta, misal Bank Danamon yang selalu
nongkrong di pasar-pasar tradisional baik di desa-desa maupun di kota2 dengan
program semacam candak - kulak,dll). Kalo belanja pemerintah pada tahun ini
sekitar 750an Trilyun (termasuk untuk mbayar bunga SBI) itu sebenarnya hanya
sekian persen dari PDB kita yang sekitar 3500an Trilyun. Jadi
kembali lagi sang "Bank" lah yang mengambil peran penciptaan primacy,melalui
pengucuran kredit2 investasi dan kredit2 konsumsi mereka untuk pengusaha2 kita
dan masyarakat kita yang boleh jadi dibelanjakan justru di ruang2 yang tidak
kita harapkan/rencanakan. Nuwun sewu,apakah memang begitu?, untuk lebih
komplitnya bisa diperiksa di posting saya no 3323 dan 3329 tentang reposisi
tata ruang melalui tata uang
salam hormat
rayi
Panpan
"[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kang Deden ysk (saya kagumi)
Kang Deden mengatakan :
Saya pun berpikir bahwa government expenditure menyebabkan urban primacy in
Indonesia. Kota besar akan semakin besar karena didukung dana dari pemerintah
pusat. Sayangnya, saya belum mendapatkan data belanja negara berdasarkan
kota/kabupaten.
Saya juga setuju. Bahkan dalam skala yang kadang2 tidak kita duga. Cuba tolong
kita tengok, berapa banyak uang 100.000an yang berputar di Indonesia, khususnya
di desa2. Itu adalah cara para penyedot pertumbuhan untuk menciptakan primacy.
Argumentnya adalah :
Kalau orang desa menerima pecahan 100.000an, dia harus berpikir terhadap
mekanisme untuk membelanjakan uang itu. Dia tidak akan mungkin bisa berbelanja
di warung di pojok perkampungan di Samarang, Garut sana. karena jenis komoditi
yang diperjual belikan adalah pada kisaran 1.000-10.000. Nah dengan demikian,
mereka akan cenderung berbelanja ke kota2 yg lebih besar. Akibatnya penumpukan
kegiatan akan terjadi di kota2 yg lebih besar. Jadi daya dorong terhadap
kotanya juga.
Tapi coba kalau secara sadar pemerintah menyebarkan uang di desa2 dengan
pecahan 1.000 - 10.000. Ekonomi akan lebih cepat berputar.
Salam dr jogja
bambang sp
_
_._,_.___ Messages in this
topic (0) Reply
(via web post) | Start a new topic
Messages | Files
| Photos | Links | Database
| Polls | Calendar
Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms
of Use | Unsubscribe
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Indonesia phone card
Indonesia tour
Indonesia travel
Indonesia flower
Indonesia diving
Y!
Messenger
Make free calls
Call PC-to-PC
worldwide- free!
Yahoo! Mail
You're invited!
Try the all-new
Yahoo! Mail Beta
Y! GeoCities
Share More
Create a blog, web
site, and more.
.
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.