Saya pun berpikir bahwa government expenditure menyebabkan urban primacy in 
Indonesia. Kota besar akan semakin besar karena didukung dana dari pemerintah 
pusat. Sayangnya, saya belum mendapatkan data belanja negara berdasarkan 
kota/kabupaten. 

Selanjutnya mengenai kriteria ukuran kota, terlepas dari kriteria yg digunakan, 
sudahkah kita memiliki batas kota/metropolitan yg menjadi kesepakatan bersama? 
Beberapa data yg saya pakai utk menentukan penduduk metropolitan Jakarta saja 
beragam. Batas metropolitan Jakarta yg dipakai adalah berbeda-beda. Ada yg 
menyebut semua kecamatan di Kab. Bogor dan Kab. Cianjur masuk. Ada juga hanya 
sebagian Kab. Bogor, dst. 
FYI, di USA, BPS-nya menentukan batas metropolitan setiap census dan semua 
orang akan memiliki pemahaman yg sama ttg batas2 wilayah tsb.

Catatan tambahan mengenai urban primacy: beberapa hari yl, saya menulis kembali 
di blog ttg Jakarta's vulnerability to global warming. Ini adalah tambahan 
biaya dari konsentrasi pembangunan yg berlebihan di Jakarta. Tulisan ini pun 
dimuat di the Jakarta Post hari Sabtu yl. 

Salam dari Savannah, USA.
Deden Rukmana

----- Original Message ----
From: Haryasetyaka <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, April 29, 2007 10:43:53 PM
Subject: Re: [referensi] Re: Perumahan The Urban Poor (4) Belok Ke Strategi 
.......


nah...
inilah salah satu contoh bahwa tata ruang (ke-planologi-an) bukanlah instrumen 
yg mujarab utk semua permasalahan...

kita menganggap bahwa besar/kecilnya subsidi ditentukan oleh urban-size..
padahal tidak... mungkin malah bisa sebaliknya... urban-size dipengaruhi oleh 
kebijakan fiskal.

contoh, mengapa belanda kota-nya bisa kecil-2 dan managable.. sedangkan amerika 
(GDP-nya relatif comparable) kota-nya pada bengkak semua...
apakah suatu kebetulan bahwa pajak BBM Belanda jauh lebih tinggi dari USA? 
(tentu saja saya paham bahwa pajak BBM bukan satu-2nya instrumen kebijakan yg 
berpengaruh...)

APBD memang tidak mensubsidi angkutan umum (public transport)... tapi BBM 
transportasi darat disubsidi... artinya transportasi pribadi malah disubsidi...

hemat saya yg lebih berpengaruh terhadap sistem transportasi adalah 
kepadatan... bukan jumlah penduduk...
kalau kepadatan tinggi, angkutan umum bisa beroperasi dengan lebih massal dan 
efisien.. kepadatan tinggi, dengan jumlah penduduk sedikit (misal dibawah 
1juta).. artinya luas lahan kota-nya tidak terlalu bengkak.. sehingga sepeda 
kayuh cukup utk bertransportasi... 

Oke.. mengenai tarif PDAM... memang pemerintah tidak mensubsidi perusahaan... 
tapi bukannya kerugian selalu ditutup? (pak BTS mohon klarifikasi..).. PDAM itu 
ada PSO ga sih? Aset nya juga dari PEMDA toh?

apapun itu, ketika harga ditentukan oleh pemerintah... dan hak usaha dibatasi 
pada satu operator, artinya terdapat the so-called 'kegagalan pasar'.
dikatakan 'failure' tapi saya tidak mengatakan bahwa buruk...

sekian dulu dan salam,
-K-





Harya Setyaka

Duren Tiga Selatan 89

Jakarta INDONESIA



----- Original Message ----

From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>

To: [email protected]

Sent: Sunday, April 29, 2007 6:13:11 PM

Subject: Re: [referensi] Re: Perumahan The Urban Poor (4) Belok Ke Strategi 
.......



                                 

Ysh Mas Tatok Yahya (TY)

  

Saya mau sedikit  menanggapi soal subsidi dan  city size:

  

1. TY : ...kalo terlalu kecil  akan

menyebabkan subsidi untuk transport, air minum dll

menjadi besar, klo  terlalu besar maka kemampuan

manajemennya juga menjadi  pertanyaan.

  

BTS : Dari catatan APBD kota-kota kecil, tak pernah  ada subsidi untuk 
transportasi, air minum, dll. Karena nggak ada subsidi, maka  kebutuhan 
masyarakat itu  disubtitusi oleh swasta dengan tarif yang  ditentukan oleh 
pemda dalam bentuk peraturan kepala daerah. Justru kota besar  seperti Jakarta 
ini malah ada subsidi bagi transportasi lebih dari Rp 100 milyar  per tahun 
untuk TransJakarta maupun PPD. 

  

2. TY : ...pada  saat itu ukuran kota

kecil adalah antara 20 000 sampai 100 000  penduduk,

katanya batasan2 inilah yang digunakan, didukung

dengan empiris,  

  

BTS : Saya belum temukan ada kajian empiris tentang  ukuran kota kecil antara 
20.000 sampai 100.000 penduduk. Selama ini  (1990-2000) ada pengertian bahwa 
Kota kecil berpenduduk < 100 ribu; Kota  Sedang berpenduduk : > 100 ribu dan < 
500 ribu; Kota Besar berpenduduk  > 500 ribu dan < 1 juta; sedangkan Kota Metro 
berpenduduk > 1 juta.  Penentuan ukuran-ukuran kota ini sepertinya ditentukan 
begitu saja, tanpa ada  dokumen akademis (mungkin dokumennya hilang). Saya 
sendiri pernah melakukan  penelitian pengelompokan kota-kota dengan cara 
"clustering" dengan data Sensus  2000. Saya temukan bahwa Kota Kecil 
berpenduduk <200 ribu; Kota Sedang  berpenduduk >200 ribu dan < 700 ribu; Kota 
Besar dan Metro berpenduduk  > 700 ribu.

  

  

Thanks. CU. BTS.

  

    ----- Original Message ----- 

   F



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/ 
Yahoo! Groups Links



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke