Dear Ukon dan rekan milis
Kebetulan rumah orang tua saya di Meruya Selatan. Tapi untungnya, rumah dan
tanah kami tidak masuk dilineasi tanah sengketa itu, karena bukan dari
transaksi dengan Pak Haji Djuhri (tokoh masyarakat yang bersengketa dengan
PT.Portanigra) .
Kalau dengar kabar2 dari Ibu saya sih, ceritanya dulu itu ada yang namanya Pak
Haji Djuhri yang ketika meruya selatan masih rawa dan sawah, memfasilitasi
warga-warga yang ingin menjual tanahnya (seperti biasa, untuk kebutuhan mereka,
usaha,menikahkan anak,dll.) . Pak Haji Djuhri ini katanya mengumpulkan surat
girik-girik para warga, dan akhirnya diurus penjualannya oleh pak H.Djuhri
ini..... sampai surat sertifika tanah yang resmi keluar....
Pemilik sertifikat tanah ini beragam macamnya, mulai dari masyarakat, karyawan
instansi pemerintah (DPR.DPA,Pemda DKI) , institusi pemerintahan
(sekolah,kantor kellurahan), sampai UMB (universitas Mercu Buana) yang milik
probosutedjo sendiri juga terkena.
Entah mengapa, girik-girik ini bisa sampai di tangan PT Portanigra dan kemudian
disengketakan ..... maka tanah2 yang transaksinya difasilitasi H.Djuhri ini lah
yang terkena sengketa.
Entah mengapa pula di meja MA, surat2 girik ini ternyata mengalahkan surat
sertifikat yang dimiliki warga yang mestinya lebih kuat status hukumnya,....
saya gak tau yang mafia tanah si PT.Portanigra ini atau jusru si pak H.Djuhri
ya.
Tapi saya gak mau bergosip-gosip ah,.. siapa tau cerita saya itu kabar burung.
Tapi, yang jelas, spanduk2 bertebaran di setiap sisi jalan raya meruya selatan,
berteriak menolak eksekusi MA.
Meruya Selatan telah menyaksikan sebuah contoh proses urbanisasi yang
bereksternalistas sebuah pemiskinan ketika warga-warga betawi yang dulu
memiliki berhektar2 lahan sawah dan kebun, setelah bertahun2 terkena efek
urbanisasi, akhirnya lahan mereka terkikis, ..... terbagi2 untuk warisan,
terjual krn terdesak kebutuhan, dll. Tak sedikit dari mereka yang menikmati
windfall harga tanah yang lamat-lama meningkat dan jadi orang kaya mendadak,...
tapi tak banyak yang berhasil mengelola asetnya, dan tak sedikit yang habis
terkonsumsi, dan berakhir jadi tukang ojek di ujung jalan, atau pengangguran
tamatan SMA di pengkolan.
salam,
dwiAgus
ukonisme <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sengketa
tanah Meruya Selatan bikin heboh. Nggak heboh gimana, tanah sebegitu luasnya,
di Jakarta pula, bisa-bisanya jadi sebuah kisah kepemilikan yang nggak jelas
gitu. Ada yang bisa berbagi informasi & kronologinya mengapa kasus ini bisa
terjadi? Siapakah yang benar & salah dalam hal ini?
Salam
---------------------------------
Got a little couch potato?
Check out fun summer activities for kids.
B. Dwiagus Stepantoro
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com
Just be open,... who knows lightning will strike!!
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.