Pak Hengky, Pak Abimanyu dan bapak-bapak yang lain.
   
  Membicarakan modal sosial tentu bukan maksudnya melakukan kwantifikasi 
sosial. Itu tidak mungkin. Tetapi maksudnya dalam membangun untuk 
mensejahterakan rakyat, selain modal ekonomi yang terukur, ada juga modal 
sosial yang kualitatif dan modal SDM. Modal sosial itu amat penting karena akan 
memungkinkan semua modal lain berinteraksi secara optimal. Salah satu modal 
sosial yang terabaikan oleh kita ialah TRUST, rasa saling percaya. Negara yang 
maju umumnya adalah negara yang termasuk high-trust society. Menarik bahwa 
Indonesia mayoritas beragama Islam yang amat mengutamakan sifat amanah, tetapi 
kita termasuk low-trust society.
  Terima kasih atas perhatian thd  sumbang saran singkat yang tidak ada artinya 
ini.
   
  Salahuddin Wahid  

hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            
  
  Pak Abimanyu, pak Nuzul dan milisters semuanya ysh,  
  
  Selamat jumpa lagi pak Abim, suwe ora jamu,  lamo indak basuo, long time no 
see juga ...........
  Lebih 10 tahun lalu saya kalau main ke UI Depok di FT-Arsitektur saya senang 
menggangguin pak Abim ..... yang kala itu komandan disana......   
  
  Kalau menurut pak Abim “..virus  ekonom telah menjangkiti sebagian dari 
kita....” .... yah pak Nuzul .... virus memang tidak harus diartikan sebagai 
‘musuh’ dan penyakit seperti kuman yang menggerogoti kesehatan kita ......
  Ada juga virus yang hanya membuat mabok saja dan yang terjangkiti malah 
pengin terus kena dan tidak  ingin sembuh ...... contohnya lha itu.... ’virus 
cinta’... dari thomas djorghi atau dari siapa itu.......
  
  Saya kira justru dalam kerangka membangun  ‘dialog lintas disipliner’ dimana 
demikian banyak disiplin ilmiah dan sektoral  adalah para development agent 
atau stakeholder pembangunan yang saling terkait...... maka ‘saling berbagi  
atau saling bertukar virus’ diantara sesama masyarakat intelektual lintas 
disipliner adalah  saya kira merupakan  upaya dialogis positip untuk membangun 
dasar saling pengertian yang baik untuk kerjasama yang erat ...... oleh karena 
pembangunan nasional tidak mungkin dapat dijalankan sendirian oleh siapapun 
........
  
  Bahwa sambil bercanda pak Abim mengatakan :
“.......artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah 
perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas... .agar dianggap "sah", dengan 
ukuran ekonomi..... .
seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar 
bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.... .dsb. 
buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun 
antisipasi pemanasan global....”.
  
  Saya kira urutan logikanya begini pak Abim ...... 
  Pertama, pembangunan dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat (bangsa)...... 
dimana  untuk merencanakan  ‘penghidupan’ dari 230 juta penduduk ini ....... 
  Yang ’beruntung’ bisa menjadi salaryman (yang artinya kerja tak kerja tiap 
tanggal 30 terima gaji) ......dan sekaligus mendapat pangkat, jabatan dan 
tunjangan (sering juga ‘mainan’) serta pensiun hari tua (birokrasi negara) 
jumlahnya hanya sekitar4 juta orang saja ... atau taruhlah ditambah keluarganya 
menjadi 20 juta orang.... 
  Dari perusahaan swasta diseluruh negeri yang ‘menghasilkan’ salaryman juga 
..... saya tidak tahu jumlahnya sekitar berapa ...... itupun belum mencukupi 
jumlahnya agar tiap-tiap rumahtangga diseluruh negeri ini para pencari 
nafkahnya tidak menganggur .......
  
  Dari data  Bank Dunia 2006.... disebutkan bahwa penduduk miskin kita adalah 
108.7 juta orang ...... dan data lain mengatakan bahwa dari sekitar 100 juta TK 
kita sekitar 40 juta diantaranya adalah menganggur ........ maka ini tentu 
mengisyaratkan bahwa...  setidaknya dalam kerangka ‘menyumbangkan pemikiran 
bagi pembangunan bangsa’ .......  kita setidaknya perlu memikirkan bagaimana 
cara membantu menciptakan kesempatan kerja bagi 40 jutaTK kita ... agar itu 
setidaknya dapat membantu menurunkan  angka kemiskinan kita yang108.7 juta jiwa 
itu ...........
  Dalam kerangka kesempatan kerja untuk para penganggur itu ... upaya itu saya 
kira memerlukan berbagai macam langkah ekonomi ..... baik itu dibidang 
pertanian, perkotaan, industri, jasa dsb...... baik disektor formal ...
  
  Seperti contoh  kemarin baru saja pak Abim  menanggapi posting dari pak Rempu 
tentang keinginan rakyat salah satu kabupaten di Aceh agar ‘batas kawasan 
lindung dan kawasan budidaya’ dapat’ dinego’.... ......
  Itu menunjukkan bahwa ‘masalah pembangunan disuatu daerah’ yang rakyatnya 
mulai merasa ‘lapar lahan pertanian’...... setidaknya menunjukkan pula bahwa  
selain kesempatan kerja ‘non-pertanian’ disana perlu diperluas ....  yang 
beberapa maknanya adalah perlunya dikembangkan kota-kota disana ....., perlunya 
digalakkan KB (birth control) untuk menekan angka kelahiran .... perlunya 
migrasi .... dsb.... sehingga kebutuhan lahan bagi habitat dan aktivitas 
manusia  diberbagai daerah bumi Indonesia ini tidak semakin menjadi-jadi dan  
mengancam daya dukung ekologis optimal bumi kita ........... 
  
  Perluasan kesempatan kerja non-pertanian  jelas amat diperlukan ....... dan 
tentu ‘virus ekonomi’ adalah sangat patut untuk  dibicarakan ‘penularannya’  
..... dan kalau salah satu dari ‘virus ekonomi’ itu adalah ternyata  ‘social 
capital’ ........ maka seperti diakui oleh pak Nuzul ...... ‘virus spatial 
capital’pun  ternyata boleh dan perlu pula dimasukkan  sebagai komponen penting 
didalam virus ‘social capital’ ...........
  
  So, pak Abim ......... itulah saya kira perlunya dialog lintas disipliner 
untuk berbagai pihak saling berkenan mendengarkan dan saling berkenan menerima 
.....
  Bahwa pak Nuzul dari ‘disiplin non-keruangan’  berkenan menekuni diskusi 
keruangan ini  (salut untuk pak Nuzul).... dan ingin berbagi (virus) ...... 
tentu juga beliau mau dibagi (virus) juga........ hasilnya semuanya nanti untuk 
kebaikan rakyat dan bangsa pak ......... 
  
  Apa pak Abim mau juga kalau dibagi ‘virus’ seperti yang punya Thomas 
Djorghi?.......
  
  Sementara demikian dan salam, 
  aby


abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:       Pak Aby dan 
rekan-rekan lain, ....plus Gus Solah ....yang longtime no see....

kalau menurut saya, istilah social capital, spatial capita, atau 
capital-capital lainnya  menunjukkan bahwa virus  ekonom telah menjangkiti 
sebagian dari kita. 
artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah perlu 
ditransormasikan ke angka, kuantitas....agar dianggap "sah", dengan ukuran 
ekonomi......
seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, biar 
bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.....dsb. 
buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun 
antisipasi pemanasan global.... 
akibatnya pilar-pilar "pembangunan" selain manusia dan alam harus diberi 
embel-embel ekonomi agar dianggap paradigma baru (mungkin paradigma baru bagi 
para ekonom, walaupun dua dimensi yang di depan lebih merupakan pemeran 
utama)... 
...padahal ekonomi sebetulnya hanya alat ukur statistik atau kuantifasi untuk 
simplifikasi dunia nyata di masa lalu....
...padahal tidak ada model ekonomi yang benar-benar terjadi di masa datang, 
kalau tidak ada citeris paribus..... 

sementara segitu dulu  tanggapan saya, semoga bisa menyulut api pemikiran 
kritis, trobosan, atau memancing  nurani yg lebih dalam.... 

wass.
Abimanyu 

  On Dec 18, 2007 2:34 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            
  Pak Eka, Gus Salah, pak Risman, pak Wawo, pak BSP, pak Risfan, mas BTS, pak 
Nuzul, mas Dwiagus, pak Abimanyu dan Milisters semuanya  ysh ........... 
   
  Yah..., karena wacana pentingnya 'social capital' ditawarkan kepada 
masyarakat perencanaan ruang .... maka saya pikir salah satu unsur   kuat 
pendukung pembentukan social capital itu ya tentu 'spatial capital' ...... dan 
kalau pak Nuzul ingin itu didiskusikan lebih lanjut .... . kita tentu perlu 
menyediakan waktu tersendiri nanti ..........
   
  Saya hanya berpikir ... kalau   itu ditawarkan juga kepada masyarakat 
rohaniwan dan pendidikan misalnya ... bukan tidak mungkin  merekapun akan 
mengatakan 'moral capital', etos kerja keras,   etos kewiraswastaan dsb... akan 
berperan penting pula dalam pembentukan 'social capital'.........    
  Atau juga masyarakat hankam barangkali  akan mengatakan 'nationality capital' 
juga bukan tidak penting untuk mendukung pengembangan social capital  
.....demikian.. dsb... dst.......
  Atau dengan kata lain ..... barangkali social capital tak dapat dibentuk atau 
terbentuk  secara lepas tersendiri ..... tetapi ia perlu didukung oleh banyak 
sekali elemen positip lainnya dibawahnya ........ 
   
  *           *           * 
  Ekh... tapi tak disangka, tak dinyana,  tak diduga ..... syukur alhamdulillah 
.....  rupanya selama ini diam-diam arsitek Bapak Salahuddin Wahid masih tetap 
berkenan  hadir dan terus berkenan mencermati postings serta diskusi dimilis 
kita ini ........
  Yah... ketika beberapa waktu ditahun lalu  saya memohon perkenan pak 
Moderator untuk memasukkan nama beliau dimilis ini ...... saya sempat menduga 
.... tak berapa lama kemudian Gus Salah   pasti akan tak memiliki banyak waktu 
dan atau  tak akan  seberapa berminat lagi dengan diskusi kita ini ....... 
  Tetapi ternyata sampai hari ini beliau dipesantren Tebu Ireng Mojokerto sana 
masih tetap hadir diantara kita... dan justru berkenan 'turun kehalaman' untuk 
mengomentari    posting sahabat kita mas Dwi .......
  Jadi pak BSP yang sedang prihatin berat........ mohon berhentilah untuk 
bermuram durja pak ...... milis   kita ini nampaknya terbukti  tak sekedar 
seperti kata pak BSP... "berasik ria dengan sebuah obrolan"  omong kosong saja 
.....atau hanya sekedar "..menjadi hanya semacam tempat untuk menyenangkan diri 
bahwa kita telah berbuat banyak pada bangsa ini "...... 
  Saya kira Gus Salah tidak akan berminat berlama-lama hadir ....  bila milis   
kita ini sekedar 'murahan' seperti itu .... atau bila isinya sekedar 
cengengesan  atau debat kusir belaka....
  Akh... maaf ..hehe...mendapatkan Gus Salah berkenan turut berdiskusi .... ... 
ini benar-benar hadiah   akhir  tahun  yang indah buat saya .....  
  Terimakasih Gus Salah,  trims pak Eka, trims para suhu serta para sahabat 
semua atas kebersamaan   kita selama ini ............ 
   
  Wassalam,
  aby
   
  "Risman Maris" < [EMAIL PROTECTED]>  wrote :
   
  Yth Pak Mod, Pak Aby, Pak Nurul, Pak Dwiagus, Gus Solah, teman-teman, 
   
  Suatu kehormatan jumpa Gus Solah di sini, mohon sudi terus tengok-tengok Pak 
di sela segala kesibukan, ba'a kaba lamo indak basuo, semoga sehat-sejahtera 
selalu.
  Gus Solah, tampaknya komunitas lagi keranjingan back to basics. Saya coba 
memahami Pak Dwi, barangkali ada dimaksud istilah Inggeris "an excess", suatu 
kelebihan, suatu sisa? Modal, memang aslinya berasal dari sesuatu "yang 
berlebih dimiliki". Bisa dihambur-hamburkan, dikonsumsi, itu karena merasa 
belum kenyang konsumtif kiranya. Bisa 'ditanam' seolah bibit, dan kalau begitu 
bisa untung bisa buntung ' khan Pak Dwi? Barangkali banyak jargon modal/kapital 
bisa ditelusuri dari makna dasar tersebut?
  Cara orang Indonesia menghamburkan kekayaan alamnya (suatu 'modal' dari sudut 
pandang orang luar negeri yang tak diberkahi sebanyak itu) disebabkan kurangnya 
modal sosial (suatu 'kapasitas lebih dalam bertindak demi kepentingan 
kolektif'). Sebaliknya kelebihan kapasitas individual sungguh besar. 
  Cultural capital, spatial capital, sungguh harus dilihat adakah kelebihan 
Indonesia dalam bidang-bidang itu, objektif terbanding kepada kultur dan space 
lain? Kalau kita saja sendiri yang mengklaimnya, itu cara pandang narsistik 
semata dan celakanya jadi mudah diperalat. 
   
   
  "salahuddin wahid" [EMAIL PROTECTED] wrote :
   
  Tebuireng, 18 Desember 2007
   
  Mas Dwiagus yt,
   
  Terima kasih emailnya. Menurut saya apa yang Anda kemukakan itu tidak tepat. 
Yang Anda kemukakan itu bukan social capita, cultural capital, tetapi social 
advantage dan cultural advantage. Kecuali, rumusan itu sifatnya lelucon atau 
bercanda. Kapital bukanlah hasil tetapi modal. Modal sosial adalah segala 
sesuatu didalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan atau 
membina masyarakat supaya lebih sejahtera lahir dan batin. 
   
  Terima kasih dan salam untuk keluarga.
  Salahuddin Wahid



  Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
   
  Kalau social capital: sebuah keuntungan yang didapat karena berada dalam 
jejaring sosialnya (berelasi, saling berjejaring, saling dukung, saling 
berpengaruh) ,,..
  Ada pula cultural capital,….. sebuah keuntungan yang didapat (peningkatan 
status,nilai tambah ke dalam diri) karena punya kultur tertentu… 
  Kalau spatial capital, mungkin,: sebuah keuntungan yagn didapat karena berada 
dalam jejaring keruangan tertentu (posisi,jarak, kedekatan,kejauahan…  )
   
  
  
   
  "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote : 
   
  ....... Saya kira istilah spatial capitalnya Pak Aby tampaknya adalah 
terminologi baru, minimal pertama kali saya mendengarnya dalam konteks social 
capital. 
  Dalam konteks social captal, istilah pak Aby ini akan lebih bermakna jika 
dicari landasan teoritis dan contoh empiris. Anyway, ... sekali lagi ...... 
   
  
  
---------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 





  



    
---------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.  

                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke