Nuwun sewu Pak Solah, Saya sangat setuju kalau yang dimaksud adalah potensi sosial-budaya alias peradaban kita (humanity). Saya cuma khawatir penggunaan istilah "modal" dan "sumber daya" hanya mengacu kepada konsep ekonomi sempit, yg menyederhanakan suatu "entitas" yg hakiki menjadi "alat" atau "input" dalam konteks "produksi", sehingga melupakan jati diri manusia dan esensi kehidupannya di dunia ini. Itu saja.
Terima kasih atas tanggapannya, Wassalam, Abimanyu On Dec 19, 2007 5:16 PM, salahuddin wahid <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Hengky, Pak Abimanyu dan bapak-bapak yang lain. > > Membicarakan modal sosial tentu bukan maksudnya melakukan kwantifikasi > sosial. Itu tidak mungkin. Tetapi maksudnya dalam membangun untuk > mensejahterakan rakyat, selain modal ekonomi yang terukur, ada juga modal > sosial yang kualitatif dan modal SDM. Modal sosial itu amat penting karena > akan memungkinkan semua modal lain berinteraksi secara optimal. Salah satu > modal sosial yang terabaikan oleh kita ialah TRUST, rasa saling percaya. > Negara yang maju umumnya adalah negara yang termasuk high-trust society. > Menarik bahwa Indonesia mayoritas beragama Islam yang amat mengutamakan > sifat amanah, tetapi kita termasuk low-trust society. > Terima kasih atas perhatian thd sumbang saran singkat yang tidak ada > artinya ini. > > Salahuddin Wahid > > > *hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Pak Abimanyu, pak Nuzul dan milisters semuanya ysh, > Selamat jumpa lagi pak Abim, suwe ora jamu, lamo indak basuo, long time > no see juga ........... > Lebih 10 tahun lalu saya kalau main ke UI Depok di FT-Arsitektur saya > senang menggangguin pak Abim ..... yang kala itu komandan disana...... > Kalau menurut pak Abim *"..virus ekonom telah menjangkiti sebagian dari > kita*...." .... yah pak Nuzul .... virus memang tidak harus diartikan > sebagai 'musuh' dan penyakit seperti kuman yang menggerogoti kesehatan kita > ...... > Ada juga virus yang hanya membuat mabok saja dan yang terjangkiti malah > pengin terus kena dan tidak ingin sembuh ...... contohnya lha itu.... > 'virus cinta'... dari thomas djorghi atau dari siapa itu....... > Saya kira justru dalam kerangka membangun 'dialog lintas disipliner' > dimana demikian banyak disiplin ilmiah dan sektoral adalah para > development agent atau stakeholder pembangunan yang saling terkait...... > maka 'saling berbagi atau saling bertukar virus' diantara sesama > masyarakat intelektual lintas disipliner adalah saya kira merupakan upaya > dialogis positip untuk membangun dasar saling pengertian yang baik untuk > kerjasama yang erat ...... oleh karena pembangunan nasional tidak mungkin > dapat dijalankan sendirian oleh siapapun ........ > Bahwa sambil bercanda pak Abim mengatakan : > *".......artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya > seolah-olah perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas... .agar dianggap > "sah", dengan ukuran ekonomi..... . > seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, > biar bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.... .dsb. > buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun > antisipasi pemanasan global....".* > Saya kira urutan logikanya begini pak Abim ...... > Pertama, pembangunan dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat (bangsa)...... > dimana untuk merencanakan 'penghidupan' dari 230 juta penduduk ini > ....... > Yang 'beruntung' bisa menjadi salaryman (yang artinya kerja tak kerja tiap > tanggal 30 terima gaji) ......dan sekaligus mendapat pangkat, jabatan dan > tunjangan (sering juga 'mainan') serta pensiun hari tua (birokrasi negara) > jumlahnya hanya sekitar4 juta orang saja ... atau taruhlah ditambah > keluarganya menjadi 20 juta orang.... > Dari perusahaan swasta diseluruh negeri yang 'menghasilkan' salaryman juga > ..... saya tidak tahu jumlahnya sekitar berapa ...... itupun belum mencukupi > jumlahnya agar tiap-tiap rumahtangga diseluruh negeri ini para pencari > nafkahnya tidak menganggur ....... > Dari data Bank Dunia 2006.... disebutkan bahwa penduduk miskin kita > adalah 108.7 juta orang ...... dan data lain mengatakan bahwa dari sekitar > 100 juta TK kita sekitar 40 juta diantaranya adalah menganggur ........ maka > ini tentu mengisyaratkan bahwa... setidaknya dalam kerangka > 'menyumbangkan pemikiran bagi pembangunan bangsa' ....... kita setidaknya > perlu memikirkan bagaimana cara membantu menciptakan kesempatan kerja bagi > 40 jutaTK kita ... agar itu setidaknya dapat membantu menurunkan angka > kemiskinan kita yang108.7 juta jiwa itu ........... > Dalam kerangka kesempatan kerja untuk para penganggur itu ... upaya itu > saya kira memerlukan berbagai macam langkah ekonomi ..... baik itu dibidang > pertanian, perkotaan, industri, jasa dsb...... baik disektor formal ... > Seperti contoh kemarin baru saja pak Abim menanggapi posting dari pak > Rempu tentang keinginan rakyat salah satu kabupaten di Aceh agar 'batas > kawasan lindung dan kawasan budidaya' dapat' dinego'.... ...... > Itu menunjukkan bahwa 'masalah pembangunan disuatu daerah' yang rakyatnya > mulai merasa 'lapar lahan pertanian'...... setidaknya menunjukkan pula bahwa > selain kesempatan kerja 'non-pertanian' disana perlu diperluas .... yang > beberapa maknanya adalah perlunya dikembangkan kota-kota disana ....., > perlunya digalakkan KB (birth control) untuk menekan angka kelahiran .... > perlunya migrasi .... dsb.... sehingga kebutuhan lahan bagi habitat dan > aktivitas manusia diberbagai daerah bumi Indonesia ini tidak semakin > menjadi-jadi dan mengancam daya dukung ekologis optimal bumi kita > ........... > Perluasan kesempatan kerja non-pertanian jelas amat diperlukan ....... > dan tentu 'virus ekonomi' adalah sangat patut untuk dibicarakan > 'penularannya' ..... dan kalau salah satu dari 'virus ekonomi' itu adalah > ternyata 'social capital' ........ maka seperti diakui oleh pak Nuzul > ...... 'virus spatial capital'pun ternyata boleh dan perlu pula > dimasukkan sebagai komponen penting didalam virus 'social capital' > ........... > So, pak Abim ......... itulah saya kira perlunya dialog lintas disipliner > untuk berbagai pihak saling berkenan mendengarkan dan saling berkenan > menerima ..... > Bahwa pak Nuzul dari 'disiplin non-keruangan' berkenan menekuni diskusi > keruangan ini (salut untuk pak Nuzul).... dan ingin berbagi (virus) > ...... tentu juga beliau mau dibagi (virus) juga........ hasilnya semuanya > nanti untuk kebaikan rakyat dan bangsa pak ......... > Apa pak Abim mau juga kalau dibagi 'virus' seperti yang punya Thomas > Djorghi?....... > Sementara demikian dan salam, > aby > > > *abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Pak Aby dan rekan-rekan lain, ....plus Gus Solah ....yang longtime no > see.... > > kalau menurut saya, istilah social capital, spatial capita, atau > capital-capital lainnya menunjukkan bahwa virus ekonom telah menjangkiti > sebagian dari kita. > artinya, budaya, sumber daya alam, dll semua hal akhirnya seolah-olah > perlu ditransormasikan ke angka, kuantitas....agar dianggap "sah", dengan > ukuran ekonomi...... > seolah-olah kita mau buka usaha, perlu modal, dsb, dst....biar ga rugi, > biar bisa dibandingkan (walau kurs berbeda), biar bisa bersaing.....dsb. > buntut-buntutnya makanisme pasar yg jadi ukuran, termasuk demokrazy, ataupun > antisipasi pemanasan global.... > akibatnya pilar-pilar "pembangunan" selain manusia dan alam harus diberi > embel-embel ekonomi agar dianggap paradigma baru (mungkin paradigma baru > bagi para ekonom, walaupun dua dimensi yang di depan lebih merupakan pemeran > utama)... > ...padahal ekonomi sebetulnya hanya alat ukur statistik atau kuantifasi > untuk simplifikasi dunia nyata di masa lalu.... > ...padahal tidak ada model ekonomi yang benar-benar terjadi di masa > datang, kalau tidak ada citeris paribus..... > > sementara segitu dulu tanggapan saya, semoga bisa menyulut api pemikiran > kritis, trobosan, atau memancing nurani yg lebih dalam.... > > wass. > Abimanyu > > On Dec 18, 2007 2:34 PM, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Pak Eka, Gus Salah, pak Risman, pak Wawo, pak BSP, pak Risfan, mas > > BTS, pak Nuzul, mas Dwiagus, pak Abimanyu dan Milisters semuanya ysh > > ........... > > > > Yah..., karena wacana pentingnya 'social capital' ditawarkan kepada > > masyarakat perencanaan ruang .... maka saya pikir salah satu unsur kuat > > pendukung pembentukan social capital itu ya tentu 'spatial capital' ...... > > dan kalau pak Nuzul ingin itu didiskusikan lebih lanjut .... . kita tentu > > perlu menyediakan waktu tersendiri nanti .......... > > > > Saya hanya berpikir ... kalau itu ditawarkan juga kepada masyarakat > > rohaniwan dan pendidikan misalnya ... bukan tidak mungkin merekapun > > akan mengatakan 'moral capital', etos kerja keras, etos kewiraswastaan > > dsb... akan berperan penting pula dalam pembentukan 'social > > capital'......... > > Atau juga masyarakat hankam barangkali akan mengatakan 'nationality > > capital' juga bukan tidak penting untuk mendukung pengembangan social > > capital .....demikian.. dsb... dst....... > > Atau dengan kata lain ..... barangkali social capital tak dapat dibentuk > > atau terbentuk secara lepas tersendiri ..... tetapi ia perlu didukung > > oleh banyak sekali elemen positip lainnya dibawahnya ........ > > > > * * * > > Ekh... tapi tak disangka, tak dinyana, tak diduga ..... syukur > > alhamdulillah ..... rupanya selama ini diam-diam arsitek Bapak > > Salahuddin Wahid masih tetap berkenan hadir dan terus berkenan > > mencermati postings serta diskusi dimilis kita ini ........ > > Yah... ketika beberapa waktu ditahun lalu saya memohon perkenan pak > > Moderator untuk memasukkan nama beliau dimilis ini ...... saya sempat > > menduga .... tak berapa lama kemudian Gus Salah pasti akan tak > > memiliki banyak waktu dan atau tak akan seberapa berminat lagi dengan > > diskusi kita ini ....... > > Tetapi ternyata sampai hari ini beliau dipesantren Tebu Ireng Mojokerto > > sana masih tetap hadir diantara kita... dan justru berkenan 'turun > > kehalaman' untuk mengomentari posting sahabat kita mas Dwi ....... > > Jadi pak BSP yang sedang prihatin berat........ mohon berhentilah untuk > > bermuram durja pak ...... milis kita ini nampaknya terbukti tak > > sekedar seperti kata pak BSP... *"berasik ria dengan sebuah obrolan" * omong > > kosong saja .....atau hanya sekedar "..*menjadi hanya semacam tempat > > untuk menyenangkan diri bahwa kita telah berbuat banyak pada bangsa > > ini*"...... > > Saya kira Gus Salah tidak akan berminat berlama-lama hadir .... bila > > milis kita ini sekedar 'murahan' seperti itu .... atau bila isinya > > sekedar cengengesan atau debat kusir belaka.... > > Akh... maaf ..hehe...mendapatkan Gus Salah berkenan turut berdiskusi > > .... ... ini benar-benar hadiah akhir tahun yang indah buat saya > > ..... > > Terimakasih Gus Salah, trims pak Eka, trims para suhu serta para > > sahabat semua atas kebersamaan kita selama ini ............ > > > > Wassalam, > > aby > > > > *"Risman Maris" < [EMAIL PROTECTED]> wrote :* > > ** > > Yth Pak Mod, Pak Aby, Pak Nurul, Pak Dwiagus, Gus Solah, teman-teman, > > > > Suatu kehormatan jumpa Gus Solah di sini, mohon sudi terus tengok-tengok > > Pak di sela segala kesibukan, *ba'a kaba lamo indak basuo*, semoga > > sehat-sejahtera selalu. > > Gus Solah, tampaknya komunitas lagi keranjingan *back to basics*. Saya > > coba memahami Pak Dwi, barangkali ada dimaksud istilah Inggeris "*an > > excess*", suatu kelebihan, suatu sisa? Modal, memang aslinya berasal > > dari sesuatu "yang berlebih dimiliki". Bisa dihambur-hamburkan, dikonsumsi, > > itu karena merasa belum kenyang konsumtif kiranya. Bisa 'ditanam' seolah > > bibit, dan kalau begitu bisa untung bisa buntung ' *khan* Pak Dwi? > > Barangkali banyak *jargon* modal/kapital bisa ditelusuri dari makna > > dasar tersebut? > > Cara orang Indonesia menghamburkan kekayaan alamnya (suatu 'modal' dari > > sudut pandang orang luar negeri yang tak diberkahi sebanyak itu) disebabkan > > *kurangnya* modal sosial (suatu 'kapasitas lebih dalam bertindak demi > > kepentingan kolektif'). Sebaliknya kelebihan kapasitas individual sungguh > > besar. > > *Cultural capital*, *spatial capital*, sungguh harus dilihat adakah > > kelebihan Indonesia dalam bidang-bidang itu, objektif terbanding kepada > > kultur dan *space* lain? Kalau kita saja sendiri yang mengklaimnya, itu > > cara pandang narsistik semata dan celakanya jadi mudah diperalat. > > > > > > *"salahuddin wahid" [EMAIL PROTECTED] *<[EMAIL PROTECTED]> > > *wrote :* > > > > Tebuireng, 18 Desember 2007 > > > > Mas Dwiagus yt, > > > > Terima kasih emailnya. Menurut saya apa yang Anda kemukakan itu tidak > > tepat. Yang Anda kemukakan itu bukan social capita, cultural capital, tetapi > > social advantage dan cultural advantage. Kecuali, rumusan itu sifatnya > > lelucon atau bercanda. Kapital bukanlah hasil tetapi modal. Modal sosial > > adalah segala sesuatu didalam masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk > > mengembangkan atau membina masyarakat supaya lebih sejahtera lahir dan > > batin. > > > > Terima kasih dan salam untuk keluarga. > > Salahuddin Wahid > > > > > > *Benedictus Dwiagus <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:* > > > > Kalau social capital: sebuah keuntungan yang didapat karena berada dalam > > jejaring sosialnya (berelasi, saling berjejaring, saling dukung, saling > > berpengaruh) ,,.. > > Ada pula cultural capital,….. sebuah keuntungan yang didapat > > (peningkatan status,nilai tambah ke dalam diri) karena punya kultur > > tertentu… > > Kalau spatial capital, mungkin,: sebuah keuntungan yagn didapat karena > > berada dalam jejaring keruangan tertentu (posisi,jarak, kedekatan,kejauahan… > > ) > > > > ** > > *"Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :* > > > > ....... Saya kira istilah spatial capitalnya Pak Aby tampaknya adalah > > terminologi baru, minimal pertama kali saya mendengarnya dalam konteks > > social capital. > > Dalam konteks social captal, istilah pak Aby ini akan lebih bermakna > > jika dicari landasan teoritis dan contoh empiris. Anyway, ... sekali lagi > > ...... > > > > ------------------------------ > > Never miss a thing. Make Yahoo your > > homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs> > > > > > ------------------------------ > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> > > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > >

