Dear All,

Saya ingin menanggapi Folk-Place-Work dari sudut
pandang dan posisi duduk saya yang dipinggiran dunia
planning. Menurut saya, tiga aspek itu masih relevan
dalam penataan ruang kehidupan manusia, namun memang
perlu dikembangkan sampai menyentuh dimensi-dimensi
yang lebih kaya dan mendalam. Artinya, ketiganya masih
relevan sebagai serbuah kotak besar yang isinya banyak
dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan
kehidupan itu sendiri.

Hal ini saya komparasikan dengan perkembangan ilmu
fisika. Tentu kita tahu bahwa fisika klasik yang
pengamatannya berbasis mata telanjang masih relevan
juga namun terus berkembang hingga fisika mofern dan
yang lebih modern. Dulu fisika klasik orang bicara
pada skala batu-kayu-besi, dan berkat kemajuan ilmu
dan teknologi pengamatan kemudian berkembang
pengamatannya hingga skala atm dan molekul. Ini
ternyata terus berkembang, sampai sangat dalam hingga
skala sub-atom bahkan sub-molekul, dst. 

Saya kira, banyak ilmu yang berkembang mengikuti pola
yang sama, makin terspesialisasi, bahkan di kedokteran
juga semakin ter-sub-spesialisasi. Memang yang menjadi
masalah, apakah spesialisasi-spesialisasi itu semakin
menjauhkan satu terhadap yang lain ataukah justru
semakin menyatukan gerak sehingga menjadi kekuatan
dahsyat untuk perubahan dan perbaikan. Tampaknya
kekritisannya terletak pada semakin mendalam justru
harus semakin menyatukan dalam mengatasi permasalahan,
bukan sebaliknya !

Persoalan lainnya, jika unsur yang dibahas sampai
sedemikian rinci dan renik, apakah domain kajian masih
berada di dalam ranah ilmu planning ? Saya sendiri
sedang mengalaminya, sedang bertransformasi,
arsitektur yang konon menonjolkan dimensi estetika
saya kembangkan ke arah yang menonjolkan dimensi
kemanusiaan.... sebab arsitektur mengabdi kepada
kemanusiaan dan alam: kehidupan itu sendiri. Ia adalah
sarana untuk membangun manusia dan alam.... sambil
menjaga keutuhan ciptaan !

Selain itu, kita selalu dalam dilema, melihat realitas
sebagai terpecah-pecah atau holistik, sebab pemilihan
sudut pandang menentukan pendekatan kita terhadap
realitas ruang dan penataan ruang itu....biasanya
masuk diskusi filsafat ilmu kok soal seperti ini !
Artinya, kita memang harus kritis terhadap
sudutpandang dan cara kerja pikiran kita sendiri juga,
begitu wejangan Eyang Abiyoso ! Tengkyu deh !

Salam,
Djarot

Salam khusus buat keluarga Pandawa: Eyang Bisma, Eyang
Abiyoso, Prabu Kresna, Uwa Samiaji dan Adimas Abimanyu
! juga kerabat Amarta dan Hastinapura semua !

--- abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Para milister,
> Saya juga pernah mereview draft RTRW yang akan
> segera di setujui pemda, dari
> suatu daerah yang baru ditingkatkan statusnya
> menjadi kota.Ternyata antara
> isi bundel data/informasi (dalam format standar) dan
> isi bundel analisisnya
> cenderung sama (copy page plus bla-bla?) dan tidak
> terindikasi analisis
> mendalam mengenai "Folk-Place-Work" (bila gagasan
> F.Le Play ini dianggap
> masih layak pakai), tiba-tiba muncul bundel 
> RTRW-nya yang semua daerah
> hijau menjadi didominasi kuning. Mungkin rent
> ekonomi dan dominasi pasar
> 'real-estat' dengan peluang peningkatan PAD begitu
> menarik pemerintah daerah
> setempat.
> 
> Waktu mereview RTRW suatu propinsi di luar Jawa,
> saya bahkan menemukan
> banyak RTRW Kota dan kabupaten yang bersebelahan
> (yang kebetulan format dan
> cara penyajiannya sangat serupa, walau nama
> penyusunnya berbeda, menunjukkan
> bahwa penyusunnya cenderung 'satu grup' ?) ternyata
> kawasan yang berbatasan
> memiliki pola tata ruang yang sangat berbeda.
> Artinya dalam 'place' dan
> 'folk' yang sama, 'work' yang diusulkan berbeda
> karena (kepentingan
> pengelola) wilayah administrasinya berbeda.
> 'Boro-boro' aspek 'ruang'  (yang
> secara filosofis termasuk 'meta fisik'), aspek
> 'bidang' (land) dan 'folk'
> saja tidak tersentuh hati nurani penyusunnya.
> 
> Selain menunjukkan bahwa praktek penataan ruang di
> lapangan masih
> 'bermasalah', bisa karena kepentingan atau
> kepedulian penyusunnya (planer),
> bisa  karena  kepentingan  atau 'ketidak tahuan'
> pemberi tugasnya
> (pemerintah), bisa juga  karena  'tradisi' hingga
> paradigma teoritis
> keilmuannya. Ini semua menjadi alasan mengapa aspek
> tata ruang perlu
> dibicarakan secara lebih seksama, bahkan sampai
> seperti perang bratayuda
> antar berbagai pihak yang mengemban acuan 'kebenaran
> ilmiah'  semakin  lama
> semakin  berkembang.
> 
> Saya tidak sependapat kalau kita menghakimi
> pandangan atau pendekatan lain
> merupakan pemahaman tata ruang yang
> setengah-setengah. Seperti pandangan
> pakar yang dahulu memuji pendekatan pembangunan
> Ancol karena  memberi
> benefit lebih, dan sekarang menganggap pembangunan
> di kawasan pesisir
> semacam itu merusak lingkungan: "dulu kita belum
> tahu, tapi sekarang sudah
> tahu....".  Pengetahuan berkembang. Yang  tadinya
> saya belum memperoleh
> informasi dan pemahaman cukup sehingga bertindak
> sesuatu terhadap ruang
> tertentu, mungkin nanti akan saya anggap salah
> karena informasi terbaru
> membuktikan bahwa saya membuat hasil akhirnya tidak
> berkelanjutan.
> 
> Saya sendiri menganggap bahwa forum milist ini dapat
> mewakili forum internal
> yang sah-sah saja terjadi 'saling bantai' antara
> yang konservatif,
> revolutif, ekstrim, dll untuk lebih mematangkan
> perkembangan ilmu dan
> pemikiran konseptual ketata ruangan. Tentu  hal ini
> berbeda bila dibuka
> dalam forum debat publik seperti tv , radio atau
> masmedia lainnya. Seperti
> nasib artis-artis di infotainmen, peserta diskusi
> terbuka tersebut maupun
> pengusulnya harus siap untuk menerima pencitraan
> masing-masing pembicara
> maupun peran disiplin ini dalam pembangunan di mata
> masyarakat pendengar,
> pemirsa ataupun pembaca dari berbagai kalangan dan
> kepentingan.
> 
> Saya sendiri menganggap bahwa konsep
> 'folk-place-work' dapat di re-view
> dengan perkembangan 'ilmu pengetahuan, potensi dan
> kualitas kearifan
> peradaban manusia' (folk) - 'metabolisme
> bio-geo-fisik yang mempengaruhi
> daya dukung, daya tampung dan kelestarian kualitas
> dan keragaman unsur
> lingkungan hidup, hingga dampak pemanasan globalnya'
> (place) - 'perkembangan
> konsep-konsep pembangunan, kesejahteraan dan
> keberlanjutan' yang lima
> dimensional. Tempat secara fisik-statis merupakan
> ruang tiga dimensiobal
> yang meliputi  ruang permukaan bumi, udara, laut dan
> bawah tanah. Dinamika
> perubahan dan perkembangan mengakibatkan tidak ada
> ruang yang lepas dari
> 'waktu'. Konsep, cara pandang, pergeseran paradigma
> yang dianut  tidak lepas
> dari  perkembangan  kematangan peradaban manusia
> atau disederhanakan dengan
> istilah 'kultur'. Dengan demikian penataan ruang
> hendaknya merupakan bagian
> dari 'work', alat, cara kerja, pendekatan hingga
> tindakan agar perkembangan
> kualitas 'folk' dan 'place' selalu semakin
> meningkat. Artinya konsep
> 'pembangunan berkelanjutan' (kultur, peradaban,
> folk)-nya harus selalu
> disepakati dulu di suatu wakturuang tertentu
> (place), baru bagaimana ruang
> ditata.
> 
> Yang paling sering terlupakan untuk ditata
> sesungguhnya adalah peluang
> peningkatan kualitas manusia dan wakturuang setempat
> terutama antar kawasan
> (interface). Karena keberlanjutan metabolisme
> pembangunan tidak boleh
> sekadar menghasilkan kesejahteraan tempat secara
> agregat (place prosperity)
> tetapi setiap individu yang semula berada di suatu
> wakturuang tertentu yang
> di'bangun' (ditata) paling berhak disejahterakan
> (people prosperity). Jadi
> tidak ada konsep 'penggusuran', yang ada
> penyejahteraan melalui pemindahan
> ke 'place' baru, yang lebih menjamin peningkatan
> kualitas hidupnya.  Jadi,
> tidak ada penataan ruang yang bersifat individual.
> 
> Semoga bermanfaat. Wasalam,
> 
> Abimanyu
> 
> 
> 
> 
> 2008/1/23 Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> >   Rekans,
> > Kalau boleh saya kembali mengeluarkan pendapat
> yang sering saya ulangi.
> > Pendapat yang sangat tidak populer nampaknya
> karena tidak pernah ada
> > perubahan yang signifikan.
> > Bisa jadi karena pendapatnya salah, atau memang
> kita tidak mau
> > memperbaiki dan hanya mau berwacana.
> >
> > Pendapat saya adalah:
> > Semakin banyak orang bicara tata ruang, semakin
> naik pamor tata ruang
> > dan semakin banyak yangmerasa tahu tata ruang.
> > Tetapi, tata ruang itu sendiri nampaknya masih
> dipahami setengah-setengah.
> > Saya setuju pendapat pak BTS, semua orang bisa
> menyatakannya dari sudut
> > pandangnya sendiri.
> >
> > Kalau saya perhatikan, intinya adalah
> DATA/INFORMASI.
> > Mohon maaf kalau saya katakan saya belum pernah
> melihat suatu dokumen
> > tta ruang yang disusun dengan data yang baik dan
> benar.
> > Kalau ini saja tidak dipenuhi bagaimana para
> pengamat dengan sudut
> > pandang yang berbeda tadi bisa bicara pada
> level/playing field yang sama?
> > Contoh kecil saja: sama ndak pandangan kita
> tentang RTH? Sekedar terbuka
> > dan hijau saja? Untuk apa ini? Bagaimana dengan
> taman buatan di atas
> > aspal yang diletakkan pot-pot bunga? Untuk hanya
> sekedar keindahan? Atau
> > memang untuk mengurangi panas? Atau untuk resapan
> air?
> >
> > Contoh yang paling sering saya ulangi, data land
> use. Dulu kita mikirnya
> > hanya 1 level (misalnya perumahan), lha sekarang
> ada ruko, rukan bahkan
> > rumah-gudang. Ada tidak data tentang ini semua?
> Saya masih tidak
> > mengerti kalau tidak ada data tersebut kita bisa
> masih merencana.
> >
> > Saya "dicerahkan" bahwa katanya inti dari suatu
> Sistem 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke