Dear All,

Dari sebuah ensiklopedi Arsitektur Vernakular (folk
architecture) skala dunia yang dieditori oleh Paul
Oliver terbit tahun 1977 dan berbagai proseding
seminar dengan topik yang sama saya menemukan sebuah
kesimpulan sementara: ada banyak pendekatan yang
dipakai di oleh berbagai ahli. Salah satu yang menarik
adalah pendekatan yang bersifat cross-discipline dan
cross-cultural ! Barangkali dalam dunia planning,
pendekatan interdisiplin, yang masuk dalam kategori
cross-discipline lebih banyak dikembangkan, sementara
yang cross-cultural kurang mendapat perhatian.

Apakah demikian ? Dalam kajian arsitektur vernakular,
keduanya digunakan semua dan memperkaya pemahaman
tentang keunikan dan kedalaman fenomena arsitektur
vernakular itu. Bagaimana dengan dalam dunia planning
?

Salam,
Djarot

--- Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> abimanyu takdir alamsyah wrote:
> >
> >
> >
> > Saya tidak sependapat kalau kita menghakimi
> pandangan atau pendekatan 
> > lain merupakan pemahaman tata ruang yang
> setengah-setengah. Seperti 
> > pandangan pakar yang dahulu memuji pendekatan
> pembangunan Ancol 
> > karena  memberi benefit lebih, dan sekarang
> menganggap pembangunan di 
> > kawasan pesisir semacam itu merusak lingkungan:
> "dulu kita belum tahu, 
> > tapi sekarang sudah tahu....".  Pengetahuan
> berkembang. Yang  tadinya 
> > saya belum memperoleh informasi dan pemahaman
> cukup sehingga bertindak 
> > sesuatu terhadap ruang tertentu, mungkin nanti
> akan saya anggap salah 
> > karena informasi terbaru membuktikan bahwa saya
> membuat hasil akhirnya 
> > tidak berkelanjutan.
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Maaf kalau bapak salah terima.
> Saya kembalikan pada pendapat umum bahwa pekerjaan
> tata ruang adalah 
> pendekatan dari berbagai macam disiplin.
> Masing-masing disiplin ini (pakarnya) silakan
> melihatnya dari berbagai 
> macam sudut pandang disiplinnya untuk nanti kemudian
> "disatukan". Justru 
> yang sya persoalkan, karena minimnya DATA dan
> INFORMASI maka si ahli 
> tadi melihatnya "setengah-setengah" yang sya juga
> istilahkan tidak dalam 
> playing field yang sama.
> 
> Maaf kalau hanya bagian ini sajayang saya komentari.
> 
> Salam,
> Roos Akbar
> 
> >
> > Saya sendiri menganggap bahwa forum milist ini
> dapat mewakili forum 
> > internal yang sah-sah saja terjadi 'saling bantai'
> antara yang 
> > konservatif, revolutif, ekstrim, dll untuk lebih
> mematangkan 
> > perkembangan ilmu dan pemikiran konseptual ketata
> ruangan. Tentu  hal 
> > ini berbeda bila dibuka dalam forum debat publik
> seperti tv , radio 
> > atau masmedia lainnya. Seperti nasib artis-artis
> di infotainmen, 
> > peserta diskusi terbuka tersebut maupun
> pengusulnya harus siap untuk 
> > menerima pencitraan masing-masing pembicara maupun
> peran disiplin ini 
> > dalam pembangunan di mata masyarakat pendengar,
> pemirsa ataupun 
> > pembaca dari berbagai kalangan dan kepentingan. 
> >
> > Saya sendiri menganggap bahwa konsep
> 'folk-place-work' dapat di 
> > re-view dengan perkembangan 'ilmu pengetahuan,
> potensi dan kualitas 
> > kearifan peradaban manusia' (folk) - 'metabolisme
> bio-geo-fisik yang 
> > mempengaruhi daya dukung, daya tampung dan
> kelestarian kualitas dan 
> > keragaman unsur lingkungan hidup, hingga dampak
> pemanasan globalnya' 
> > (place) - 'perkembangan konsep-konsep pembangunan,
> kesejahteraan dan 
> > keberlanjutan' yang lima dimensional. Tempat
> secara fisik-statis 
> > merupakan ruang tiga dimensiobal yang meliputi 
> ruang permukaan bumi, 
> > udara, laut dan bawah tanah. Dinamika perubahan
> dan perkembangan 
> > mengakibatkan tidak ada ruang yang lepas dari
> 'waktu'. Konsep, cara 
> > pandang, pergeseran paradigma yang dianut  tidak
> lepas dari  
> > perkembangan  kematangan peradaban manusia atau
> disederhanakan dengan 
> > istilah 'kultur'. Dengan demikian penataan ruang
> hendaknya merupakan 
> > bagian dari 'work', alat, cara! kerja, pendekatan
> hingga tindakan agar 
> > perkembangan kualitas 'folk' dan 'place' selalu
> semakin meningkat. 
> > Artinya konsep 'pembangunan berkelanjutan'
> (kultur, peradaban, 
> > folk)-nya harus selalu disepakati dulu di suatu
> wakturuang tertentu 
> > (place), baru bagaimana ruang ditata.
> >
> > Yang paling sering terlupakan untuk ditata
> sesungguhnya adalah peluang 
> > peningkatan kualitas manusia dan wakturuang
> setempat terutama antar 
> > kawasan (interface). Karena keberlanjutan
> metabolisme pembangunan 
> > tidak boleh sekadar menghasilkan kesejahteraan
> tempat secara agregat 
> > (place prosperity) tetapi setiap individu yang
> semula berada di suatu 
> > wakturuang tertentu yang di'bangun' (ditata)
> paling berhak 
> > disejahterakan (people prosperity). Jadi tidak ada
> konsep 
> > 'penggusuran', yang ada penyejahteraan melalui
> pemindahan ke 'place' 
> > baru, yang lebih menjamin peningkatan kualitas
> hidupnya.  Jadi, tidak 
> > ada penataan ruang yang bersifat individual.
> >
> > Semoga bermanfaat. Wasalam,
> >
> > Abimanyu
> >
> >
> >
> >
> > 2008/1/23 Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED] 
> > <mailto:[EMAIL PROTECTED]>>:
> >
> >     Rekans,
> >     Kalau boleh saya kembali mengeluarkan pendapat
> yang sering saya
> >     ulangi.
> >     Pendapat yang sangat tidak populer nampaknya
> karena tidak pernah ada
> >     perubahan yang signifikan.
> >     Bisa jadi karena pendapatnya salah, atau
> memang kita tidak mau
> >     memperbaiki dan hanya mau berwacana.
> >
> >     Pendapat saya adalah:
> >     Semakin banyak orang bicara tata ruang,
> semakin naik pamor tata ruang
> >     dan semakin banyak yangmerasa tahu tata ruang.
> >     Tetapi, tata ruang itu sendiri nampaknya masih
> dipahami
> >     setengah-setengah.
> >     Saya setuju pendapat pak BTS, semua orang bisa
> menyatakannya dari
> >     sudut
> >     pandangnya sendiri.
> >
> >     Kalau saya perhatikan, intinya adalah
> DATA/INFORMASI.
> >     Mohon maaf kalau saya katakan saya belum
> pernah melihat suatu dokumen
> >     tta ruang yang disusun dengan data yang baik
> dan benar.
> >     Kalau ini saja tidak dipenuhi bagaimana para
> pengamat dengan sudut
> >     pandang yang berbeda tadi bisa bicara pada
> level/playing field
> >     yang sama?
> >     Contoh kecil saja: sama ndak pandangan kita
> tentang RTH? Sekedar
> >     terbuka
> >     dan hijau saja? Untuk apa ini? Bagaimana
> dengan taman buatan di atas
> >     aspal yang diletakkan pot-pot bunga? Untuk
> hanya sekedar
> >     keindahan? Atau
> >     memang untuk mengurangi panas? Atau untuk
> resapan air?
> >
> >     Contoh yang paling sering saya ulangi, data
> land use. Dulu kita
> >     mikirnya
> >     hanya 1 level (misalnya perumahan), lha
> sekarang ada ruko, rukan
> >     bahkan
> >     rumah-gudang. Ada tidak data tentang ini
> semua? Saya masih tidak
> >     mengerti kalau tidak ada data tersebut kita
> bisa masih merencana.
> >
> >     Saya "dicerahkan" bahwa katanya inti dari
> suatu Sistem Manajemen
> >     Nasional adalah Tata Pengambilan Keputusan
> yang Berkewenangan (Pak
> >     Denny
> 
=== message truncated ===



      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke