* Alumni STFK Ledalero Gelar Diskusi (3) Bukan Cari NTT Idol, Bung...
Oleh : Tony Kleden MENGGELAR sebuah diskusi panel di kampus STFK Ledalero punya nilai tambah. Nilai tambah itu terletak pada kuatnya arus pemikiran didukung pengamatan, penelitian dan pengalaman dari para staf pengajar yang punya view jauh ke depan dan para mahasiwa yang terkenal kritis. Dan, di negeri ini Ledalero telah tampil menjadi 'arus dari timur'. Arus itu belakangan menjadi begitu kuat menghantar manusia-manusia handal, kritis dan tajam pemikirannya ke pusat-pusat kekuasaan, melebarkan jaringannya ke begitu banyak bidang dan aspek kehidupan. Menurut data, sekolah calon imam ini 'hanya' menghantar 40 persen mahasiswa menjadi imam yang kini bekerja di seluruh dunia. Sisanya menjadi 'garam' di medan kerja yang lain. Ada cendekiawan kaliber seperti Ignas Kleden, Daniel Dhakidae, Jan Riberu, Sirilus Belen. Di NTT ada nama-nama popular seperti Kristo Blasin, Anton Bele, FX Sega, Apoli Bala, Goris Foju, Anton Darus, Marius Ardi Jelamu dan masih banyak lagi yang berkecimpung di begitu banyak bidang. Ketika diskusi panel dengan menghadirkan tiga doktor jebolan luar negeri -- selain Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya -- yang telah malang melintang dalam begitu banyak urusan dan ihwal di dalam dan luar negeri, nuansa akademis, pikiran kritis-ilmiah--demokratis dan segudang pengalaman sangat terasa. Dr. Konrad Kebung, SVD adalah doktor filsafat dari Amerika Serikat. Dr. Leo Kleden, SVD adalah doktor filsafat dari Universitas Leuven, Belgia. Dr. Paul Budi Kleden, SVD doktor teologi dengan perhatian lebih pada teologi politik dari Jerman. Ketiganya anak tanah Flobamora, yang makan jagung dan ubi di daerah ini. Yang membedakan mereka adalah pengalaman. Dr. Leo Kleden sekitar tujuh tahun menjadi anggota Dewan Jenderal SVD dan berkedudukan di Roma. Pengalamannya sarat, pengamatannya tajam, analisisnya menukik. Itu hanya mungkin karena dia telah mengunjungi lima benua dan menjejakkan kakinya di lebih dari 30 negara di dunia. Dr. Paul Budi Kleden menghabiskan waktu sekitar 13 tahun di Eropa. Sudah tentu, budaya, iklim demokrasi, kehidupan bermasyarakat dan bernegara di benua tua itu dipahami, diamati dan dipelajari. Dr. Konrad Kebung, SVD akrab dengan orang-orang desa di NTT. Dia mengerti baik kultur dan filsafat hidup Amerika. Dia juga paham betul kultur orang NTT. Itu karena sejak tahun 1988 dia telah mengajar di STFK Ledalero. Lebih dari itu, semua dosen adalah lulusan luar negeri, baik yang berstrata S3 (doktor) maupun S2 (master). Maka ketika ditambah dengan Drs. Frans Lebu Raya, Wakil Gubernur NTT, yang tentu juga kaya pengalaman di bidang pemerintahan, sebuah diskusi tentang NTT menarik tersaji. Mengusung tema "Memotret Pembangunan di NTT, Kemarin, Hari Ini dan Esok", ratusan peserta, termasuk para mahasiswa yang mesti dibatasi, sangat antusias. Dengan konsentrasi penuh para peserta menyimak pemaparan semua materi. Mengapa perlu memotret pembangunan? Memotret dalam konteks ini mengandung tiga makna, yaitu menyamakan persepsi tentang keberhasilan dan kegagalan, menyamakan persepsi tentang pengembangan propinsi kepulauan, dan membagi pengalaman mengenai program pembangunan di NTT selama ini. Geliat pembangunan daerah ini selama 49 tahun usianya perlu dipotret. Bagaimana hasil potretnya? Buram, cerah, gelap, rusak, berhasil, itulah hasil dari potret itu. Menurut Lebu Raya, tidak mudah meletakkan format pembangunan yang betul-betul kena dan tepat untuk NTT sehingga potretnya jadi baik. Sudah tujuh gubernur mengawaki biduk NTT yang tahun depan merayakan usia emasnya. Dari tujuh gubernur itu, lima di antaranya adalah 'darah daging' NTT. El Tari terkenal dengan semboyan progresifnya: tanam, tanam, tanam, sekali lagi tanam. Ben Mboi muncul dengan operasi nusa makmur, operasi nusa hijau. Hendrik Fernandez populer dengan Gempar dan Gerbades. Herman Musakabe tampil dengan Tujuh Program Strategis Membangun NTT. Terakhir Piet A Tallo dengan Tiga Batu Tungku yang kemudian pada periode kedua dimodifikasi lagi menjadi Tiga Pilar Pembangunan. Hasil apa gerangan yang dituai dari aneka program ini? Tentu tidak adil untuk menilai kalau kondisi terpuruk NTT hari ini karena tidak ada program para gubernur itu yang cocok. Masing-masing gubernur dengan programnya adalah anak kandung zamannya. Masing-masing mereka tampil pada zamannya dan menjawab kebutuhan dan kondisi NTT pada masanya. Tetapi ketika dipaparkan bahwa pada tahun 2005, dari sekitar 4 juta jiwa, 1.546.200 jiwa masuk dalam kategori miskin (sekitar 35 persen), kita seolah tak percaya. Tak percaya karena merasa bahwa sekian lama ini, sekian banyak program pembangunan, sekian banyak dana seakan tak ada maslahatnya untuk NTT. Kita ingin menggugat, memberontak dan mempertanyakan apa gunanya ada pemerintah, apa pentingnya merumuskan program-program muluk kalau hampir semua indikator Human Development Index (HDI/Indeks Pembangunan Manusia) NTT jauh terpuruk di urutan ke- 33 dari 35 propinsi di Indonesia? Sudah pasti ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa HDI kita begitu jatuh terpuruk. Tetapi faktor yang paling dominan adalah kepemimpinan. Dalam diskusi panel itu kriteria pemimpin menjadi tema yang kuat dibicarakan. Semua sepemahaman bahwa sosok pemimpin, gaya kepemimpinan, integritas moral, kematangan emosional, kebijakan dan kearifan mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, bakti kepada kejujuran, satunya kata dan perbuatan, rajin turun ke rakyat, kesehatan mental, ketahanan fisik, adalah domain-domain penting dan niscaya dari seorang pemimpin NTT ke depan. Dr. Konrad Kebung, SVD menawarkan beberapa syarat pemimpin NTT ke depan. Pertama, memiliki semangat pengabdian yang tinggi dan sungguh berpihak pada rakyat. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang memiliki visi utama yaitu kesejahteraan dan kebaikan masyarakat. Kedua, cemerlang dalam berpikir, namun juga praktis-pragmatis dalam pelaksanaan. Pemimpin tidak cuma pintar omong, tetapi juga tahu berbuat. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya bisa berteori dan mampu menghipnotis rakyat melalui kata-kata tentang keterpurukan masyarakat. Yang lebih dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu mengubah apa yang dikatakannya itu. Ketiga, memiliki semangat demokratis yang tinggi. Semangat ini terungkap dalam seluruh hidupnya. Secara praktis, NTT butuh pemimpin yang dekat dengan rakyat, tidak mengambil jarak dengan rakyat, yang lebih memperhatikan dan mementingkan manusia, dan bukan orientasinya pada kesibukan kerja. "Sebagai abdi, dia tidak mempraktekkan top down leadership, melainkan servant leadership," kata Dr. Konrad Kebung, SVD, Ketua STFK Ledalero. Tinggal 39 hari lagi, 2,7 juta warga NTT menggunakan hak pilihnya memilih Gubernur-Wakil Gubernur NTT lima tahun ke depan. Figur-figur yang ingin maju sudah mulai 'menjual' diri. Namanya juga menjual, tentu tidak ada yang nomor dua. Semuanya nomor satu. Itu biasa dan merupakan dinamika politik. Harapan rakyat jelas. NTT butuh pemimpin yang bisa memberdayakan rakyat, bukan memperdayai rakyat dengan program-program mercusuar yang tak lebih dari tipuan-tipuan halus. NTT butuh figur yang merakyat, figur yang jujur, bersih, tidak NATO (no action, talk only/cuma banyak omong, tanpa realisasi). Lebih dari itu, kita tidak sedang mencari NTT Idol yang menghipnotis warga NTT dengan kepiawaian mengobral kata. Kita juga tidak sedang mencari tukang sulap yang mampu mengelabui rakyat melalui aksi tipu- tipuan. Kita juga tidak sedang berada di pusat grosir dan gampang termakan 'iklan dari surga' yang menjebak. Yang kita cari adalah pemimpin yang punya hati, punya tekad, punya kemauan untuk bekerja, bekerja dan bekerja membangun NTT. Karena itu, salah pilih semua kita ramai-ramai terjun bebas ke kubangan keterpurukan, keterbelakangan, kemiskinan, dan rendah diri. (habis) HYPERLINK "http://www.indomedia.com/poskup/2008/04/25/edisi25/utama_4.htm"http://www.i ndomedi-a.com/poskup/-2008/04/25/-edisi25/utama_-4.htm No virus found in this incoming message. Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.4/1396 - Release Date: 24/04/2008 18:32 No virus found in this outgoing message. Checked by AVG. Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.5/1398 - Release Date: 25/04/2008 14:31

