Pak Eka ysh,

Mungkin perlu lebih hati-hati untuk mencari 'Tokoh NTT', sesukar
mengidentifikasi 'Tokoh Indonesia'. Sebagai salah satu propinsi kepulauan,
NTT serupa keragamannya dengan Indonesia walaupun dalam skala mikro.
Keragaman ekoregion dan antroposistem Pulau Timor dengan Pulau Flores saja
cukup berbeda, juga pulau-pulau kecil lainnya, apalagi pulau-pulau sedang di
bagian Baratnya. Satu Pulau Timor saja sudah berasal dari dua negara yang
berbeda. Walaupun demikian keragaman dan pertikaian yang pernah terjadi di
masa lalu ternyata bukan berarti menghilangkan peluang saling mendukung
kehidupan bersama antar suku, adat, agama, kepercayaan dan kehidupan
komunitas yang berbeda tersebut. Ini dapat dilihat dari kehidupan
berdampingan komunitas yang semula bermasalah (dampak gejolak di Pusat yll)
di Oesapa misalnya.
Sebagai contoh, perlu pendekatan yang lebih bijak dalam mengupayakan
'Gemala' (gerakan masuk laut) bagi mayoritas komunitas daratan setempat,
walaupun terdapat komunitas lain yang mungkin justru telah ratusan tahun
hidup dan berorientasi laut dipesisir pulau yang sama. Tokoh yang diangkat
perlu yang mampu mengemban keikaan dari kebhinekaan yang selama ini ada
setempat. T
Sungguh saya terharu pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya pada
pembukaan lokakarya daerah di salah satu propinsi kepulauan di wilayah Timur
dari Indonesia tercinta ini, lagu yang di kota-kota orang Pusat sudah jarang
dinyanyikan dengan penuh perasaan.

Salam,

Abimanyu
pecinta pulau-laut juga
2008/4/27 ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>:

>
> Pak Dwiagus ysh,
>
> Sebenarnya saya kurang tahu atau tidak mau tahu tentang kepemimpinan NTT
> selama ini. Kebetulan di milis ini ada beberapa rekan berasal dari NTT
> mudah-mudahan mau memberikan informasi.
>
> Sampai tahun lalu dikenal 'Trio Piet" di NTT, yaitu Piet Tallo
> (gubernur), Piet Rebo (kadis PU), dan Piet satu lagi lupa mungkin ketua
> Bappeda. Pada umumnya pemimpin-pemimpin NTT ini berasal dari Sabu,
> kecuali Hasan Musakabe (Flores?) dan El Tari (Rote?). Piet Tallo sendiri
> dulu bupati TTS, saya kira sebelumnya beliau orang TTS. Dulu waktu
> menjadi bupati sangat terkenal, karena pernah masuk majalah Tempo,
> menyuapi orang dengan tanah. Saya dapat konfirmasi bila dulu beliau
> sangat prihatin dengan kebiasaan warga yang suka mabuk-mabukan. Baik
> sedih maupun senang, selalu warga mabuk-mabukan. Terkadang kalau sudah
> mabuk, tidak tahu mau tidur di mana. Sama seperti dengan beberapa warga
> di kotanya Cak Andri, istilahnya : kalau tidak ada uang tidur di rumah,
> kalau ada uang tidur di parit.
>
> Pernah suatu pagi beliau sidak di So'e, lalu mendapatkan ada warga yang
> tidur di emperan toko. Beliau marah lalu mengambil segenggam tanah dan
> menyuapi warga tersebut. Kata beliau, "kalau mabuk mana bisa membangun
> dan memperbaiki kehidupan, makan saja ini tanah". Memang sejak saat itu
> (atau sampai sekarang?) TTS bebas dari miras.
>
> Saya percaya banyak orang-orang NTT memiliki kemampuan sebagai pemimpin.
> Terkadang memang perlu sedikit keras dan tegas mengingat situasi dan
> kondisinya.
>
> Mohon Pak Dwiagus memperhitungkan juga satu tokoh baru, walaupun bukan
> asli NTT, namun juga memiliki reputasi nasional dan internasional.
> Namanya Eurico Guterres, sarjana hukum alumni Universitas Cipinang.
> Sebagai catatan, saat ini masih ada sekitar 100 ribuan pengungsi Timtim
> yang tersebar di berbagai tempat di NTT. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>,
> "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > * Alumni STFK Ledalero Gelar Diskusi (3)
> >
> > Bukan Cari NTT Idol, Bung...
> >
> > Oleh : Tony Kleden
> >
> > MENGGELAR sebuah diskusi panel di kampus STFK Ledalero punya nilai
> > tambah. Nilai tambah itu terletak pada kuatnya arus pemikiran
> > didukung pengamatan, penelitian dan pengalaman dari para staf
> > pengajar yang punya view jauh ke depan dan para mahasiwa yang
> > terkenal kritis.
> >
> > Dan, di negeri ini Ledalero telah tampil menjadi 'arus dari timur'.
> > Arus itu belakangan menjadi begitu kuat menghantar manusia-manusia
> > handal, kritis dan tajam pemikirannya ke pusat-pusat kekuasaan,
> > melebarkan jaringannya ke begitu banyak bidang dan aspek kehidupan.
> > Menurut data, sekolah calon imam ini 'hanya' menghantar 40 persen
> > mahasiswa menjadi imam yang kini bekerja di seluruh dunia. Sisanya
> > menjadi 'garam' di medan kerja yang lain. Ada cendekiawan kaliber
> > seperti Ignas Kleden, Daniel Dhakidae, Jan Riberu, Sirilus Belen. Di
> > NTT ada nama-nama popular seperti Kristo Blasin, Anton Bele, FX Sega,
> > Apoli Bala, Goris Foju, Anton Darus, Marius Ardi Jelamu dan masih
> > banyak lagi yang berkecimpung di begitu banyak bidang.
> >
> > Ketika diskusi panel dengan menghadirkan tiga doktor jebolan luar
> > negeri -- selain Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya -- yang
> > telah malang melintang dalam begitu banyak urusan dan ihwal di dalam
> > dan luar negeri, nuansa akademis, pikiran kritis-ilmiah--demokratis
> > dan segudang pengalaman sangat terasa. Dr. Konrad Kebung, SVD adalah
> > doktor filsafat dari Amerika Serikat. Dr. Leo Kleden, SVD adalah
> > doktor filsafat dari Universitas Leuven, Belgia. Dr. Paul Budi
> > Kleden, SVD doktor teologi dengan perhatian lebih pada teologi
> > politik dari Jerman.
> >
> > Ketiganya anak tanah Flobamora, yang makan jagung dan ubi di daerah
> > ini. Yang membedakan mereka adalah pengalaman. Dr. Leo Kleden sekitar
> > tujuh tahun menjadi anggota Dewan Jenderal SVD dan berkedudukan di
> > Roma. Pengalamannya sarat, pengamatannya tajam, analisisnya menukik.
> > Itu hanya mungkin karena dia telah mengunjungi lima benua dan
> > menjejakkan kakinya di lebih dari 30 negara di dunia.
> >
> > Dr. Paul Budi Kleden menghabiskan waktu sekitar 13 tahun di Eropa.
> > Sudah tentu, budaya, iklim demokrasi, kehidupan bermasyarakat dan
> > bernegara di benua tua itu dipahami, diamati dan dipelajari. Dr.
> > Konrad Kebung, SVD akrab dengan orang-orang desa di NTT. Dia mengerti
> > baik kultur dan filsafat hidup Amerika. Dia juga paham betul kultur
> > orang NTT. Itu karena sejak tahun 1988 dia telah mengajar di STFK
> > Ledalero. Lebih dari itu, semua dosen adalah lulusan luar negeri,
> > baik yang berstrata S3 (doktor) maupun S2 (master).
> >
> > Maka ketika ditambah dengan Drs. Frans Lebu Raya, Wakil Gubernur NTT,
> > yang tentu juga kaya pengalaman di bidang pemerintahan, sebuah
> > diskusi tentang NTT menarik tersaji. Mengusung tema "Memotret
> > Pembangunan di NTT, Kemarin, Hari Ini dan Esok", ratusan peserta,
> > termasuk para mahasiswa yang mesti dibatasi, sangat antusias. Dengan
> > konsentrasi penuh para peserta menyimak pemaparan semua materi.
> > Mengapa perlu memotret pembangunan? Memotret dalam konteks ini
> > mengandung tiga makna, yaitu menyamakan persepsi tentang keberhasilan
> > dan kegagalan, menyamakan persepsi tentang pengembangan propinsi
> > kepulauan, dan membagi pengalaman mengenai program pembangunan di NTT
> > selama ini. Geliat pembangunan daerah ini selama 49 tahun usianya
> > perlu dipotret.
> >
> > Bagaimana hasil potretnya? Buram, cerah, gelap, rusak, berhasil,
> > itulah hasil dari potret itu. Menurut Lebu Raya, tidak mudah
> > meletakkan format pembangunan yang betul-betul kena dan tepat untuk
> > NTT sehingga potretnya jadi baik. Sudah tujuh gubernur mengawaki
> > biduk NTT yang tahun depan merayakan usia emasnya. Dari tujuh
> > gubernur itu, lima di antaranya adalah 'darah daging' NTT. El Tari
> > terkenal dengan semboyan progresifnya: tanam, tanam, tanam, sekali
> > lagi tanam. Ben Mboi muncul dengan operasi nusa makmur, operasi nusa
> > hijau. Hendrik Fernandez populer dengan Gempar dan Gerbades. Herman
> > Musakabe tampil dengan Tujuh Program Strategis Membangun NTT.
> > Terakhir Piet A Tallo dengan Tiga Batu Tungku yang kemudian pada
> > periode kedua dimodifikasi lagi menjadi Tiga Pilar Pembangunan.
> > Hasil apa gerangan yang dituai dari aneka program ini? Tentu tidak
> > adil untuk menilai kalau kondisi terpuruk NTT hari ini karena tidak
> > ada program para gubernur itu yang cocok. Masing-masing gubernur
> > dengan programnya adalah anak kandung zamannya. Masing-masing mereka
> > tampil pada zamannya dan menjawab kebutuhan dan kondisi NTT pada
> > masanya.
> >
> > Tetapi ketika dipaparkan bahwa pada tahun 2005, dari sekitar 4 juta
> > jiwa, 1.546.200 jiwa masuk dalam kategori miskin (sekitar 35 persen),
> > kita seolah tak percaya. Tak percaya karena merasa bahwa sekian lama
> > ini, sekian banyak program pembangunan, sekian banyak dana seakan tak
> > ada maslahatnya untuk NTT. Kita ingin menggugat, memberontak dan
> > mempertanyakan apa gunanya ada pemerintah, apa pentingnya merumuskan
> > program-program muluk kalau hampir semua indikator Human Development
> > Index (HDI/Indeks Pembangunan Manusia) NTT jauh terpuruk di urutan ke-
> > 33 dari 35 propinsi di Indonesia?
> >
> > Sudah pasti ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa HDI kita
> > begitu jatuh terpuruk. Tetapi faktor yang paling dominan adalah
> > kepemimpinan. Dalam diskusi panel itu kriteria pemimpin menjadi tema
> > yang kuat dibicarakan. Semua sepemahaman bahwa sosok pemimpin, gaya
> > kepemimpinan, integritas moral, kematangan emosional, kebijakan dan
> > kearifan mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, bakti
> > kepada kejujuran, satunya kata dan perbuatan, rajin turun ke rakyat,
> > kesehatan mental, ketahanan fisik, adalah domain-domain penting dan
> > niscaya dari seorang pemimpin NTT ke depan.
> >
> > Dr. Konrad Kebung, SVD menawarkan beberapa syarat pemimpin NTT ke
> > depan. Pertama, memiliki semangat pengabdian yang tinggi dan sungguh
> > berpihak pada rakyat. Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang
> > memiliki visi utama yaitu kesejahteraan dan kebaikan masyarakat.
> > Kedua, cemerlang dalam berpikir, namun juga praktis-pragmatis dalam
> > pelaksanaan. Pemimpin tidak cuma pintar omong, tetapi juga tahu
> > berbuat. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya bisa berteori dan mampu
> > menghipnotis rakyat melalui kata-kata tentang keterpurukan
> > masyarakat. Yang lebih dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu mengubah
> > apa yang dikatakannya itu.
> > Ketiga, memiliki semangat demokratis yang tinggi. Semangat ini
> > terungkap dalam seluruh hidupnya. Secara praktis, NTT butuh pemimpin
> > yang dekat dengan rakyat, tidak mengambil jarak dengan rakyat, yang
> > lebih memperhatikan dan mementingkan manusia, dan bukan orientasinya
> > pada kesibukan kerja. "Sebagai abdi, dia tidak mempraktekkan top down
> > leadership, melainkan servant leadership," kata Dr. Konrad Kebung,
> > SVD, Ketua STFK Ledalero.
> >
> > Tinggal 39 hari lagi, 2,7 juta warga NTT menggunakan hak pilihnya
> > memilih Gubernur-Wakil Gubernur NTT lima tahun ke depan. Figur-figur
> > yang ingin maju sudah mulai 'menjual' diri. Namanya juga menjual,
> > tentu tidak ada yang nomor dua. Semuanya nomor satu. Itu biasa dan
> > merupakan dinamika politik. Harapan rakyat jelas. NTT butuh pemimpin
> > yang bisa memberdayakan rakyat, bukan memperdayai rakyat dengan
> > program-program mercusuar yang tak lebih dari tipuan-tipuan halus.
> > NTT butuh figur yang merakyat, figur yang jujur, bersih, tidak NATO
> > (no action, talk only/cuma banyak omong, tanpa realisasi).
> >
> > Lebih dari itu, kita tidak sedang mencari NTT Idol yang menghipnotis
> > warga NTT dengan kepiawaian mengobral kata. Kita juga tidak sedang
> > mencari tukang sulap yang mampu mengelabui rakyat melalui aksi tipu-
> > tipuan. Kita juga tidak sedang berada di pusat grosir dan gampang
> > termakan 'iklan dari surga' yang menjebak.
> >
> > Yang kita cari adalah pemimpin yang punya hati, punya tekad, punya
> > kemauan untuk bekerja, bekerja dan bekerja membangun NTT. Karena itu,
> > salah pilih semua kita ramai-ramai terjun bebas ke kubangan
> > keterpurukan, keterbelakangan, kemiskinan, dan rendah diri. (habis)
> >
> > HYPERLINK
> >
> "http://www.indomedia.com/poskup/2008/04/25/edisi25/utama_4.htm"http://w\
> ww.i <http://www.i>
> > ndomedi-a.com/poskup/-2008/04/25/-edisi25/utama_-4.htm
>
>  
>

Kirim email ke