Pak Abimanyu ysh,

Saya sepakat dengan bapak, tidak mudah mencari sosok yang merepresentasi
berbagai keragaman yang ada. Apalagi politik lokal tidak lagi cukup
terbaca di ibukota provinsi.

Sepertinya menarik menelusuri sejarah Flores, karena Bugis (:Bima
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/88>  ) pernah sampai
ke barat; termasuk Melayu. Seorang rekan dari Manggarai berwajah
Melanesia malah mengaku keturunan dari Minangkabau. Kalau sempat mau
melihat cewek-cewek Porto, wow, ini produksi lokal dengan bahan baku
campuran Portugis.

'Gemala' sepertinya berjalan lambat di NTT, dan benar bila dikatakan
mereka membelakangi laut. Memang disini kita harus mengakui orang-orang
Bugis-Buton dalam menebarkan kebhinnekaan di Indonesia Timur. Mereka
juga mengajarkan seni berlayar dan mencari ikan kepada penduduk
setempat, sehingga sekarang sudah banyak masyarakat asli yang menjadi
nelayan. Beberapa suku memang sudah memiliki kultur laut, seperti orang
Sabu, Rote Selatan, Flores Selatan, Alor, dll. Dan tangguh, mereka
sering singgah sampai ke Pulau Pasir (Ashmorf, +/- 75 mil di selatan
Rote), malah menyeberang sampai ke Northern Territory Australia (+/- 125
mil) dengan perahu-perahu sederhana.

Beberapa tahun silam Bupati Belu meluncurkan program mahal yaitu membuat
rumah-rumah ikan (rumpon) di lepas pantai utara. Namun sepertinya hal
ini belum menggerakkan 'revolusi' ke laut. Masih ada ide lain ? Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Eka ysh,
>
> Mungkin perlu lebih hati-hati untuk mencari 'Tokoh NTT', sesukar
> mengidentifikasi 'Tokoh Indonesia'. Sebagai salah satu propinsi
kepulauan,
> NTT serupa keragamannya dengan Indonesia walaupun dalam skala mikro.
> Keragaman ekoregion dan antroposistem Pulau Timor dengan Pulau Flores
saja
> cukup berbeda, juga pulau-pulau kecil lainnya, apalagi pulau-pulau
sedang di
> bagian Baratnya. Satu Pulau Timor saja sudah berasal dari dua negara
yang
> berbeda. Walaupun demikian keragaman dan pertikaian yang pernah
terjadi di
> masa lalu ternyata bukan berarti menghilangkan peluang saling
mendukung
> kehidupan bersama antar suku, adat, agama, kepercayaan dan kehidupan
> komunitas yang berbeda tersebut. Ini dapat dilihat dari kehidupan
> berdampingan komunitas yang semula bermasalah (dampak gejolak di Pusat
yll)
> di Oesapa misalnya.
> Sebagai contoh, perlu pendekatan yang lebih bijak dalam mengupayakan
> 'Gemala' (gerakan masuk laut) bagi mayoritas komunitas daratan
setempat,
> walaupun terdapat komunitas lain yang mungkin justru telah ratusan
tahun
> hidup dan berorientasi laut dipesisir pulau yang sama. Tokoh yang
diangkat
> perlu yang mampu mengemban keikaan dari kebhinekaan yang selama ini
ada
> setempat. T
> Sungguh saya terharu pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya pada
> pembukaan lokakarya daerah di salah satu propinsi kepulauan di wilayah
Timur
> dari Indonesia tercinta ini, lagu yang di kota-kota orang Pusat sudah
jarang
> dinyanyikan dengan penuh perasaan.
>
> Salam,
>
> Abimanyu
> pecinta pulau-laut juga


Kirim email ke