Pak Eka ysh, Betul bahwa kita perlu mengembangkan wawasan nusantara secara lebih 'merdeka' shingga konsep pembangunan masa depan kita lebih membumi....
Mungkin bukan sekadar 'revolusi ke laut' yang diperlukan, tetapi pembangunan yang integratif berbasis 'pulau-laut', seperti integratif dan saling belajar serta saling dukung secara sosial-ekonomi-budaya komunitas laut dengan komunitas darat di berbagai belahan bumi Indonesia ini. The real political and environmental region of Indonesia. Kesadaran bangsa kita sebagai bangsa kepulauan juga dapat semakin meningkat bila sejak sekarang semua peta Indonesia selalu memasukkan informasi di perairan selain di daratannya. Informasi bahwa wilayah Indonesia sekarang sudah tidak lagi cuma hingga 3 mil laut dari pantai seperti saat kemerdekaan dulu tetapi sudah termasuk hak pengelolaan ZEE 200 mil laut plus hak di dasar laut konstinen yang sedang diperjuangkan sebagian pakar batas laut kita. Juga peningkatan kesadaran bahwa batas dari Sabang sampai Merauke dan dari Timor sampai Talaud sebetulnya sangat mempersempit wilayah negara kesatuan RI tercinta kita, karena batas negara paling Barat adalah laut di luar Pulau Benggala, di Utara laut di dekat Pulau Miangas, di laut Selatan dari Pulau Ndana (Rote), hingga batas Timur bersebelahan dengan Papua Nugini. Hipotesis saya, kalau kebangkitan bangsa disebut-sebut tanggal 2 Mei seabad lalu, maka "KEBANGKITAN BANGSA KEPULAUAN INDONESIA" mungkin lebih tepat TANGGAL 28 Oktober 1928, 10 windu (80 tahun) yang lalu, saat dinyanyikannya lagu " Indonesia, "TANAH-AIR"-ku...." pertama kali. Walaupun pemuda-pemuda nusantara telah mendeklarasikan sumpah pemuda, tetapi baru dalam lirik lagu yang digubah W.R. Soepratman pertama, kali menyebutkan INDONESIA, TANAH AIRKU....tanah dan air, pulau dan laut......yang kemudian diperjuangkan tokoh-tokoh kita melalui Deklarasi Djuanda (yang perayaan 50 tahunnya cukup ....'sederhana') dan baru diakui berhasil sampai seluas sekarang pada tahun 1992......Juga masih sepi tanggapan, karena kita lebih 'terbius' oleh 'pilkada' dan 'korupsi'......(Mungkin calon-calon kada atau wakil rakyat yang tidak sadar lingkungan seharusnya dicoret dari daftar yang lulus kelayakan ya? he he he) Mungkin baru itu ide-nya pak, mungkin dapat menjadi ide dasar filosofis pembangunan bangsa ke depan... (termasuk penataan ruang tentunya). Sekian dulu, Abimanyu On 4/28/08, ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Abimanyu ysh, > > Saya sepakat dengan bapak, tidak mudah mencari sosok yang merepresentasi > berbagai keragaman yang ada. Apalagi politik lokal tidak lagi cukup > terbaca di ibukota provinsi. > > Sepertinya menarik menelusuri sejarah Flores, karena Bugis (:Bima > <http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/88> ) pernah sampai > ke barat; termasuk Melayu. Seorang rekan dari Manggarai berwajah > Melanesia malah mengaku keturunan dari Minangkabau. Kalau sempat mau > melihat cewek-cewek Porto, wow, ini produksi lokal dengan bahan baku > campuran Portugis. > > 'Gemala' sepertinya berjalan lambat di NTT, dan benar bila dikatakan > mereka membelakangi laut. Memang disini kita harus mengakui orang-orang > Bugis-Buton dalam menebarkan kebhinnekaan di Indonesia Timur. Mereka > juga mengajarkan seni berlayar dan mencari ikan kepada penduduk > setempat, sehingga sekarang sudah banyak masyarakat asli yang menjadi > nelayan. Beberapa suku memang sudah memiliki kultur laut, seperti orang > Sabu, Rote Selatan, Flores Selatan, Alor, dll. Dan tangguh, mereka > sering singgah sampai ke Pulau Pasir (Ashmorf, +/- 75 mil di selatan > Rote), malah menyeberang sampai ke Northern Territory Australia (+/- 125 > mil) dengan perahu-perahu sederhana. > > Beberapa tahun silam Bupati Belu meluncurkan program mahal yaitu membuat > rumah-rumah ikan (rumpon) di lepas pantai utara. Namun sepertinya hal > ini belum menggerakkan 'revolusi' ke laut. Masih ada ide lain ? Salam. > > -ekadj > > > --- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Pak Eka ysh, > > > > Mungkin perlu lebih hati-hati untuk mencari 'Tokoh NTT', sesukar > > mengidentifikasi 'Tokoh Indonesia'. Sebagai salah satu propinsi > kepulauan, > > NTT serupa keragamannya dengan Indonesia walaupun dalam skala mikro. > > Keragaman ekoregion dan antroposistem Pulau Timor dengan Pulau Flores > saja > > cukup berbeda, juga pulau-pulau kecil lainnya, apalagi pulau-pulau > sedang di > > bagian Baratnya. Satu Pulau Timor saja sudah berasal dari dua negara > yang > > berbeda. Walaupun demikian keragaman dan pertikaian yang pernah > terjadi di > > masa lalu ternyata bukan berarti menghilangkan peluang saling > mendukung > > kehidupan bersama antar suku, adat, agama, kepercayaan dan kehidupan > > komunitas yang berbeda tersebut. Ini dapat dilihat dari kehidupan > > berdampingan komunitas yang semula bermasalah (dampak gejolak di Pusat > yll) > > di Oesapa misalnya. > > Sebagai contoh, perlu pendekatan yang lebih bijak dalam mengupayakan > > 'Gemala' (gerakan masuk laut) bagi mayoritas komunitas daratan > setempat, > > walaupun terdapat komunitas lain yang mungkin justru telah ratusan > tahun > > hidup dan berorientasi laut dipesisir pulau yang sama. Tokoh yang > diangkat > > perlu yang mampu mengemban keikaan dari kebhinekaan yang selama ini > ada > > setempat. T > > Sungguh saya terharu pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya pada > > pembukaan lokakarya daerah di salah satu propinsi kepulauan di wilayah > Timur > > dari Indonesia tercinta ini, lagu yang di kota-kota orang Pusat sudah > jarang > > dinyanyikan dengan penuh perasaan. > > > > Salam, > > > > Abimanyu > > pecinta pulau-laut juga > > >

