Dear Pak Ekadj, Pak Dwiagus, dan semuanya, Saya sangat merasakan adanya "the power of kinship" ketika ada di lapangan, khususnya di Kaenbaun. Jika apa yang saya rasakan ini merupakan representasi tema budaya NTT, maka persoalan kinship menjadi sangat problematik ketika dikaitkan bahkan dilibatkan di dalam kepemimpinan publik yang ingin membangun kesejahteraan buat semua ! Saya merasakan betapa masa lalu era leluhur bisa hadir dalam kekinian, pada sisi yang lain bisa positif pada sisi lain bisa negatif. Pustaka dan lapangan menguatkan sebuah konsep, bahwa kesepakatan leluhur dimasa lalu seringkali "bermain" dalam tata kehidupan kini, kadang kala secara alam bawah sadar. Kalau rektornya suku itu biasanya nggak cocok jika para pembantunya dari suku ini atau itu dst.... Saya bisa keliru, sebab baru saja memulai proses memahami budaya NTT, khususnya Timor, semoga para sahabat dari NTT bersedia menjadi guru saya untuk memberikan pencerahannya !
Pater saya orang Timor juga sangat prihatin, bagaimana caranya memajukan desanya, jadi skala kecil. Bagaimana membantu generasi muda di desanya agar lebih maju, ternyata juga bingung. Di desa memang masih ada budaya minum arak lokal SOPI, karena terkait dengan upacara adat yang intinya adalah makan hewan kurban dan minum SOPI bersama leluhur. Ikatan dengan leluhur kayaknya nggak bisa dilepaskan, dan melepaskan SOPI atau menggantinya dengan anggur kolesom seperti yang saya saksikan, masih sulit sebab warisan leluhur harus dilestarikan. Di Kaenbaun, Sopi sangat efektif membawa perdamaian, sebab jika pihak-pihak yang bertikai duduk bersama di halabena di dalam lopo kemudian minum sopi bersama, maka leluhur merestui niatan mereka; itulah yang penting...leluhur hadir dan merestui, meski hanya dengan minum sebotol sopi ! Rasanya kepemimpinan masa kini yang lepas dari jaring-jaring kekerabatan masih merupakan impian siang bolong...meskipun bukan hal yang dapat terjadi ! Salam, Djarot --- ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Dwiagus ysh, > > Sebenarnya saya kurang tahu atau tidak mau tahu > tentang kepemimpinan NTT > selama ini. Kebetulan di milis ini ada beberapa > rekan berasal dari NTT > mudah-mudahan mau memberikan informasi. > > Sampai tahun lalu dikenal 'Trio Piet" di NTT, yaitu > Piet Tallo > (gubernur), Piet Rebo (kadis PU), dan Piet satu lagi > lupa mungkin ketua > Bappeda. Pada umumnya pemimpin-pemimpin NTT ini > berasal dari Sabu, > kecuali Hasan Musakabe (Flores?) dan El Tari > (Rote?). Piet Tallo sendiri > dulu bupati TTS, saya kira sebelumnya beliau orang > TTS. Dulu waktu > menjadi bupati sangat terkenal, karena pernah masuk > majalah Tempo, > menyuapi orang dengan tanah. Saya dapat konfirmasi > bila dulu beliau > sangat prihatin dengan kebiasaan warga yang suka > mabuk-mabukan. Baik > sedih maupun senang, selalu warga mabuk-mabukan. > Terkadang kalau sudah > mabuk, tidak tahu mau tidur di mana. Sama seperti > dengan beberapa warga > di kotanya Cak Andri, istilahnya : kalau tidak ada > uang tidur di rumah, > kalau ada uang tidur di parit. > > Pernah suatu pagi beliau sidak di So'e, lalu > mendapatkan ada warga yang > tidur di emperan toko. Beliau marah lalu mengambil > segenggam tanah dan > menyuapi warga tersebut. Kata beliau, "kalau mabuk > mana bisa membangun > dan memperbaiki kehidupan, makan saja ini tanah". > Memang sejak saat itu > (atau sampai sekarang?) TTS bebas dari miras. > > Saya percaya banyak orang-orang NTT memiliki > kemampuan sebagai pemimpin. > Terkadang memang perlu sedikit keras dan tegas > mengingat situasi dan > kondisinya. > > Mohon Pak Dwiagus memperhitungkan juga satu tokoh > baru, walaupun bukan > asli NTT, namun juga memiliki reputasi nasional dan > internasional. > Namanya Eurico Guterres, sarjana hukum alumni > Universitas Cipinang. > Sebagai catatan, saat ini masih ada sekitar 100 > ribuan pengungsi Timtim > yang tersebar di berbagai tempat di NTT. Salam. > > -ekadj > > > --- In [email protected], "Benedictus > Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > * Alumni STFK Ledalero Gelar Diskusi (3) > > > > Bukan Cari NTT Idol, Bung... > > > > Oleh : Tony Kleden > > > > MENGGELAR sebuah diskusi panel di kampus STFK > Ledalero punya nilai > > tambah. Nilai tambah itu terletak pada kuatnya > arus pemikiran > > didukung pengamatan, penelitian dan pengalaman > dari para staf > > pengajar yang punya view jauh ke depan dan para > mahasiwa yang > > terkenal kritis. > > > > Dan, di negeri ini Ledalero telah tampil menjadi > 'arus dari timur'. > > Arus itu belakangan menjadi begitu kuat menghantar > manusia-manusia > > handal, kritis dan tajam pemikirannya ke > pusat-pusat kekuasaan, > > melebarkan jaringannya ke begitu banyak bidang dan > aspek kehidupan. > > Menurut data, sekolah calon imam ini 'hanya' > menghantar 40 persen > > mahasiswa menjadi imam yang kini bekerja di > seluruh dunia. Sisanya > > menjadi 'garam' di medan kerja yang lain. Ada > cendekiawan kaliber > > seperti Ignas Kleden, Daniel Dhakidae, Jan Riberu, > Sirilus Belen. Di > > NTT ada nama-nama popular seperti Kristo Blasin, > Anton Bele, FX Sega, > > Apoli Bala, Goris Foju, Anton Darus, Marius Ardi > Jelamu dan masih > > banyak lagi yang berkecimpung di begitu banyak > bidang. > > > > Ketika diskusi panel dengan menghadirkan tiga > doktor jebolan luar > > negeri -- selain Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans > Lebu Raya -- yang > > telah malang melintang dalam begitu banyak urusan > dan ihwal di dalam > > dan luar negeri, nuansa akademis, pikiran > kritis-ilmiah--demokratis > > dan segudang pengalaman sangat terasa. Dr. Konrad > Kebung, SVD adalah > > doktor filsafat dari Amerika Serikat. Dr. Leo > Kleden, SVD adalah > > doktor filsafat dari Universitas Leuven, Belgia. > Dr. Paul Budi > > Kleden, SVD doktor teologi dengan perhatian lebih > pada teologi > > politik dari Jerman. > > > > Ketiganya anak tanah Flobamora, yang makan jagung > dan ubi di daerah > > ini. Yang membedakan mereka adalah pengalaman. Dr. > Leo Kleden sekitar > > tujuh tahun menjadi anggota Dewan Jenderal SVD dan > berkedudukan di > > Roma. Pengalamannya sarat, pengamatannya tajam, > analisisnya menukik. > > Itu hanya mungkin karena dia telah mengunjungi > lima benua dan > > menjejakkan kakinya di lebih dari 30 negara di > dunia. > > > > Dr. Paul Budi Kleden menghabiskan waktu sekitar 13 > tahun di Eropa. > > Sudah tentu, budaya, iklim demokrasi, kehidupan > bermasyarakat dan > > bernegara di benua tua itu dipahami, diamati dan > dipelajari. Dr. > > Konrad Kebung, SVD akrab dengan orang-orang desa > di NTT. Dia mengerti > > baik kultur dan filsafat hidup Amerika. Dia juga > paham betul kultur > > orang NTT. Itu karena sejak tahun 1988 dia telah > mengajar di STFK > > Ledalero. Lebih dari itu, semua dosen adalah > lulusan luar negeri, > > baik yang berstrata S3 (doktor) maupun S2 > (master). > > > > Maka ketika ditambah dengan Drs. Frans Lebu Raya, > Wakil Gubernur NTT, > > yang tentu juga kaya pengalaman di bidang > pemerintahan, sebuah > > diskusi tentang NTT menarik tersaji. Mengusung > tema "Memotret > > Pembangunan di NTT, Kemarin, Hari Ini dan Esok", > ratusan peserta, > > termasuk para mahasiswa yang mesti dibatasi, > sangat antusias. Dengan > > konsentrasi penuh para peserta menyimak pemaparan > semua materi. > > Mengapa perlu memotret pembangunan? Memotret dalam > konteks ini > > mengandung tiga makna, yaitu menyamakan persepsi > tentang keberhasilan > > dan kegagalan, menyamakan persepsi tentang > pengembangan propinsi > > kepulauan, dan membagi pengalaman mengenai program > pembangunan di NTT > > selama ini. Geliat pembangunan daerah ini selama > 49 tahun usianya > > perlu dipotret. > > > > Bagaimana hasil potretnya? Buram, cerah, gelap, > rusak, berhasil, > > itulah hasil dari potret itu. Menurut Lebu Raya, > tidak mudah > > meletakkan format pembangunan yang betul-betul > kena dan tepat untuk > > NTT sehingga potretnya jadi baik. Sudah tujuh > gubernur mengawaki > > biduk NTT yang tahun depan merayakan usia emasnya. > Dari tujuh > > gubernur itu, lima di antaranya adalah 'darah > daging' NTT. El Tari > > terkenal dengan semboyan progresifnya: tanam, > tanam, tanam, sekali > > lagi tanam. Ben Mboi muncul dengan operasi nusa > makmur, operasi nusa > > hijau. Hendrik Fernandez populer dengan Gempar dan > Gerbades. Herman > > Musakabe tampil dengan Tujuh Program Strategis > Membangun NTT. > > Terakhir Piet A Tallo dengan Tiga Batu Tungku yang > kemudian pada > > periode kedua dimodifikasi lagi menjadi Tiga Pilar > Pembangunan. > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

