Ysh milister semua.
Diskusi tentang
pengembangan Kapet cukup meluas baik melalui penjelasan Bung Ono, Pak Aby,
Bung NA, ternasuk saya, dan lainnya. Tampaknya pola pikir Kapet selama ini
tak lepas dari pendekatan "Regional Planning" yang selama ini
kita pelajari. Misalnya soal "perencanaan teritorial", integrasi
inter-daerah (analisis I-0), kawasan strategis, dan sebagainya. Pendekatan
semua tersebut betul-betul pendekatan jalur akademis yang semuanya bisa
dijelaskan dengan membeberkan peta, dengan tangan memegang spidol, coret
sana coret sini, terus kemudian bangun infrastruktur di sini- di sana,
kebijakan pengurangan pajak, terus kemudian dibentuk badan pengelola, dan
akhirnya investasi masuk, dan seterusnya seterusnya. Gampang amat......
tapi ternyata tidak berhasil. Ada apa?
Mungkin kita perlu
keluar dari jebakan (mental blockade) ilmu Regional Planning ini.... yang
barangkali jauh dari kondisi yang terjadi di negara kita. Kita masih bisa
menggunakan peta sebagai petunjuk lokasi, tetapi janganlah dianggap peta
ini benda hidup yang bisa bergerak kesana kemari, mengait sana mengait
sini, ditata begini - begitu, ... ternyata daerah tetap bergeming (tak
bergeser alias diam saja) saja. Nah,.. ditengarai persoalannya tidak
sekedar ruang fisik, tetapi ada dimensi lain yang merupakan subjek-subjek
menggerakkan mekanisme pembangunan daerah selama ini.
Thanks.
CU. BTS.
----- Original Message -----
From: Sugiono
Ronodihardjo
To: [email protected]
Sent: Thursday,
June 05, 2008 6:40 AM
Subject: RE: [referensi] Re: Diskusi
Mezzogiorno dan Kapet (1)